Sebuah acara pentas seni yang diadakan LBH Jakarta ditimpuki batu oleh gerombolan massa 17 September, Minggu malam. Dari rekaman video yang diambil oleh sahabat Savic Ali melalui akun twitternya, ada orator yang mengaku dari Bang Japar dan FPI.

Dua ormas ini adalah pendukung Anies Baswedan di Pilkada DKI tahun lalu. Sebelum terpilih, Anies Baswedan mengunjungi Imam Besar FPI, Rizieq Shihab–yang kini kabur dari kasusnya–di markas FPI, setelah terpilih Anies juga menghadiri acara Lebaran dengan FPI dan peresmian Ormas Bang Japar (Jawara dan Pengacara) yang dibentuk oleh Fahira Idris.

Yang patut dicatat selama Pilkada DKI, Anies Baswedan kerap menyerang Ahok dengan isu penggusuran yang data-datanya berasal dari hasil kliping LBH Jakarta dari surat-surat kabar. Tapi kini, justeru ada yang mengaku pendukung Anies Baswedan ini mendemo LBH Jakarta dengan menggoreng isu PKI.

Mengutip ucapan populer dari Bang Haji Rhoma Irama, tindakan Anies dan yang mengaku pendukungnya ke LBH Jakarta itu benar-benar: ter-la-lu! Jreeeeng!!!

Saat saya mulai ngetwit untuk melemparkan ide-ide di atas, ada yang komen bahwa “saya belum move on dari hasil Pilkada DKI”. Saya hanya tertawa geli dalam hati, karena justeru inilah hasil dari Pilkada DKI! Anies Baswedan belum dilantik, tapi ada yang mengaku-ngaku sebagai pendukungnya sudah merajalela, bagaimana nanti setelah dilantik?

Kalau dalam Pilkada kemaren tidak tegas menolak calon yang didukung kelompok-kelompok radikal, maka sekarang inilah hasilnya.

Kalau dalam Pilkada lalu ikut-ikutan menyerang Ahok yang sudah terpojok dan menjadi korban isu SARA–bahkan sebarisan dengan mereka pelakunya–maka tinggal nunggu giliran kalian akan jadi korban mereka. Maka yang sekarang ini kejadiannya.

Dari poster-poster resmi yang dirilis LBH Jakarta untuk acara tadi malam memang murni acara seni, musik dan pembacaan puisi. Acara itu bertajuk “Asik Asik Aksi”.

Tapi sudah disebarkan hoax bahwa acara itu adalah acara PKI, penyanyian lagu genjer-genjer, dll

Dari beberapa pesan yang berisi hoax yang viral di WAG misalnya beredar seperti ini:

Copas dr grup sebelah :

Aksi demo Aliansi mahasiswa dan pemuda anti komunis saat ini sedang melakukan aksi demo di depan gedung LBH Jakarta. Setelah dibubarkan secara paksa seminar pro PKI kemarin oleh aparat kepolisian skrng mereka melaksanakan Lg kegiatan yg sama dalam bentuk menyanyikan lagu genjer genjer yg merupakan lagu kebanggaan komunis dan lagu komunis lainnya.. kawan kawan aktivis kami disini kalah jumlah dgn aparat kepolisian serta panitia pro komunis.. dengan ini saya mengajak kawan kawan aktivis dimana pun berada agar sekarang segera menuju kekantor LBH Jakarta. Kita akan bergabung bersama dalam aksi melawan komunis.
Sekian hormat saya

RH
Kordinator

Kita akan demo sampai acara tersebut bubar.. siap nginap jika memungkinkan

Silahkan dishare ke grup dan viralkan!

—-

Ada lagi yg versi ini:

Aku dapat ini dari teman sebelah:

Minta doa nya saudara” ku bwt para laskar dan umat islam….

Aslm.instruksi,semua laskar se dki jakarta wajib merapat kumpul di proklamasi, di tunggu skrg komandan, kita bubarkan acara PKI di LBH jakarta jalan pangeran panegoro no.74 jakpus.

Intruksi dr Pangda LPI DKI Laskar seJaskel wajib Merapat tanpa menunggu intruksi dr Qoid lagi.

—-

Ada juga akun anonim di twitter (@plato_id) yang lebih seram lagi menulis “anak-anak PKI yang di YLBHI saat ini menyusun strategi membunuh jenderal TNI | bakar mereka hidup-hidup!”

***

Hoax, fitnah, kebohongan, provokasi inilah yang diviralkan melalui media sosial. Apakah ini kebebasan berpendapat? Apakah ini kebebasan internet? Kalau akun-akun dan orang-orang itu ditindak, apakah kalian juga akan teriak-teriak save-save-an?

Menggoreng isu PKI merupakan agenda kelompok-kelompok Islam radikal, padahal mereka tidak pernah melawan PKI, seperti yang pernah dilakukan Ansor NU, tapi mereka hanya gunakan isu PKI untuk membungkam lawan-lawan mereka dengan isu PKI yang dikaitkan dengan musuh agama.

Mereka juga agresif membubarkan kegiatan-kegiatan yang dituduh menyebarkan komunisme dan membela PKI, tapi saat Pemerintah tegas untuk membubarkan ormas-ormas yang mengancam kebebasan berserikat ini, ada pihak-pihak yang kena timpuk, malah membela kelomok radikal dengan isu kebebasan berserikat.

Bahwa menggoreng isu PKI, seperti halnya isu Rohingya dan Isu SARA untuk menyerang Ahok hanyalah sasaran antara, yang mereka tuju sebenarnya adalah Pemerintah Jokowi.

Tapi apa lacur, mereka yang mendemo dan menimpuki LBH dengan batu, teriak-teriak #daruratPKI sambil maki-maki Jokowi sebagai pihak yang bertanggung jawab atas “kebangkitan PKI” (seperti halnya mereka berteriak Jokowi harus bertanggung jawab atas pembantaian di Rohingya dan harus menghentikannya, seakan-akan Jokowi adalah Presiden Myanmar atau Pemimpin Junta Militer Myanmar).

Sedangkan mereka yang di dalam, yang kena timpuk, juga teriak-teriak #DaruratDemokrasi sambil menyalahkan Jokowi karena kebebasan berserikat terancam dan bertanggung jawab atas gerombolan massa meskipun sudah tahu gerombolan itu anti Jokowi.

Maka, pihak-pihak yang ingin ada kericuhan hingga konflik di negeri ini, mulai tertawa senang, agenda mereka tampak berhasil, untuk sementara kelompok-kelompok berhasil diadu-domba, dan sementara kambing hitamnya adalah Jokowi.

Mereka yang pernah bersekutu di Pilkada DKI, bersekutu lagi dengan sama-sama menolak Perppu Ormas, kini mereka mulai diceraikan dan berantem dengan isu gorengan PKI, tapi sialnya sama-sama melemparkan bola panasnya ke Jokowi.

Mohamad Guntur Romli