Polisi masih memproses Asma Dewi atas kasus ujaran kebencian dan diduga melakukan transfer Rp 75 juta ke Saracen. Menurut pegiat media sosial, Guntur Romli, Asma Dewi hanya sebagai operator ke Saracen.

“Patut diduga Asma Dewi ini hanya seorang operator, disebutkan dia hanya seorang ibu rumah tangga, tidak mungkin uang Rp 75 juta yang ditransfer ke Saracen uangnya sendiri, maka polisi perlu ungkap siapa bosnya dan menangkapnya,” kata Guntur di Jakarta, Kamis (14/9).

Guntur yang juga merupakan aktivis NU ini berharap polisi mengungkap peran Asma Dewi di Pilkada DKI lalu. Sebab, lanjut Guntur, dari foto-foto dokumentasi di Facebook Asma Dewi terlihat dia aktif di Tim Nomer 3, Anies-Sandi yang kini terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI.

“Foto-foto Asma Dewi dengan tokoh-tokoh Pemenangan Anies Sandi bisa menjadi petunjuk Polisi untuk mengungkap peran Asma Dewi, apalagi sudah ada pengakuan dari Novel Bamukmin, FPI kalau Asma Dewi adalah Bendahara Presidium Alumni 212, dan dari Fahira Idris kalau Asma Dewi aktif di Demo 411, 212 dan demo-demo selanjutnya,” beber Guntur.

Dia mengaku tak bermaksud untuk menganulir hasil Pilgub lalu, namun setidaknya membuat efek jera bagi kelompok yang menggunakan isu-isu SARA dalam kontestasi politik dan membuat efek jera.

“Bos dan jaringan Asma Dewi di Pilkada DKI harus diungkap, bukan untuk menganulir hasil Pilkada DKI, tapi agar menjadi pelajaran bagi Tim Sukses yang lain dan membuat efek jera,” jelas Guntur.

Seperti diketahui, Kabagpenum Divhumas Mabes Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul mengatakan pihaknya tak mempedulikan beredar foto-foto Asma Dewi dengan timses Anies Sandi. Martinus menegaskan polisi memproses Asma Dewi pada kasus ujaran kebencian.

“Enggak ada kaitannya dengan dia berfoto dengan siapa, itu apa ya mencari-cari. Proses penegakan hukum ini untuk membuat jernih dan tidak terulang kembali,” tandas Martinus.

(merdekacom/gunromli)