Belajar Cinta Agama dan Tanah Air dari Gerakan Pemuda Ansor dan Banser NU

Cinta Agama dan Negara bukan hal yang bertentangan dalam Pemuda Ansor. Bahkan cinta dan bela negara lahir dari rahim agama. Tidak ada pertentangan antara Islam dan nasionalisme, bahkan nasionalisme diyakini sebagai panggilan keimanan dan keagamaan.

Dalam silaturahim bersama Sahabat-sahabat Ansor dan Banser NU PAC Banyuputih Situbondo, yang juga dihadiri PAC Jangkar, Senin 4 Desember 2017, tentang kontribusi pemuda NU terhadap agama, bangsa dan negeri ini.

Hari lahir Gerakan Pemuda (GP) Ansor, 24 April 1934, namun sebenarnya sejarah Pemuda NU jauh sebelum itu, bahkan mendahului Organisasi Nahdlatul Ulama sendiri tahun 1926.

Pada tahun 1924, KH Wahab Hasbullah mendirikan Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air), pemuda kebangsaan, nasionalis dari kalangan santri, umat Islam.

Setelah sebelumnya KH Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air), tahun 1916. Untuk implementasi Kebangkitan Tanah Air, KH Wahab Hasbullah mendirikan sayap-sayap gerakan pada tahun 1918-19 dengan mendirikan Tashwirul Afkar yang dikenal juga dengan Nahlatul Fikr (Kebangkitan Pemikiran), untuk kalangan intelektual dan untuk kebangkitan di bidang ekonomi mendirikan Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang).

Nah untuk menggerakkan penggerak perkumpulan-perkumpulan tersebut didirikan sayap pemuda dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) tahun 1924.

Syubbanul Wathan dipimpin oleh Abdullah Ubaid (Kawatan) sebagai Ketua dan Thohir Bakri (Peraban) sebagai Wakil Ketua dan Abdurrahim (Bubutan) selaku sekretaris.

Pada akhirnya perkumpulan-perkumpulan tersebut khususnya Syubbanul Wathan mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) 31 Januari 1926.

Maka sebenarnya pemuda-pemuda NU lah yang mendirikan NU, dengan tokohnya KH Wahab Hasbullah yang tentu saja atas restu dari ulama-ulama sepuh, khususnya Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari yang memperoleh restu dari Syaikhona Cholil Al-Bangkalani, yang restu dan pesannya dibawa oleh sang kurir, Syaikhona KHR As’ad Syamsul Arifin.

Yang menarik dicatat, penggunaan kata al-Wathan yang berarti Tanah Air adalah bukti kecintaan kaum santri, tradisionalis, kalangan pesantren yang nantinya disebut NU terhadap negeri ini. Inilah prinsip kebangsaan dan patriotisme dari kalangan santri.

Penggunaan istilah Arab merupakan ciri khas kalangan pesantren, dengan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) dan Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) merupakan kekuatan kebangsaan mahadahsyat dari kalangan santri, selain itu untuk mengelabui penjajah Belanda dengan istilah-istilah Arab itu. Demikian pula penggunaan aksara Arab untuk bahasa Jawa, Sunda dan Madura yang dikenal sebagai “Arab Pegon” sehingga komunikasi kalangan santri tidak terbaca dan terpahami oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Kalau kalangan nasionalis yang menggunakan tulisan latin, bahasa Belanda dan Melayu sangat mudah tertangkap oleh Belanda.

Seperti halnya Lagu Indonesia Raya yang dikarang oleh WR Soepratman tahun 1924, yang saat penjajahan Belanda sulit dinyanyikan liriknya, yang hanya diperdengarkan musiknya saja.

Sedangkan kaum santri memiliki lagu kebangsaan sendiri dalam bahasa Arab yang bebas dilagukan–karena Belanda tidak mengerti–yaitu lagu Ya Lal Wathan, yang aslinya bernama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Menurut KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU saat ini, dari KH Maimoen Zubair, lagu ini dikarang oleh KH Wahab Hasbullah tahun 1934.

Dalam versi asalnya, lagu ini hanya berbahasa Arab, versi Terjemahannya ditambahkan belakangan. Dalam lagu ini ada bait-bait yang tegas:

Ya lal wathan…
hubbul wathan minal iman
wa takun minal hirman
inhadlu ahlal wathan
Indonesia biladi..

yang terjemahan:

Wahai Tanah Air
Cinta tanah air adalah bagian dari iman
Jangan lah kau termasuk orang yang ingkar
Bangkitlah hai Warga Tanah Air
Indonesia negeriku…

Maka bukan hal yang berlebihan kalau Ya Lal Wathan ini sebenarnya adalah “Lagu Indonesia Raya”nya kaum santri. Lagu kebangsaan kaum santri.

Dengan berdirinya NU, perkumpulan Syubbanul Wathan terbengkalai, karena para pemudanya mengurusi NU.

Untuk memecah kevakuman Pemuda NU yang cikal-bakalnya dari Syubbanul Wathan, yang mendirikan Organisasi NU, atas inisiatif Abdullah Ubaid pada tahun 1931 terbentuklah Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PPNU).

Kemudian tanggal 14 Desember 1932, PPNU berubah nama menjadi Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU).

Pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, Pemuda NU (PNU) resmi berganti nama dengan ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Ubaid; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam. Tanggal 24 April ini pula yang menjadi hari lahir resmi Ansor.

Nama Ansor ini merupakan saran KH Wahab Hasbullah, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad Saw kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan serta menolong agama Allah.

Pada masa kolonialisme Jepang organisasi-organisasi pemuda diberangus termasuk ANO. Pemuda-pemuda NU terlibat aktif dalam perkumpulan gerilyawan baik Sabilillah dan Hizbullah.

Namun setelah revolusi fisik (1945 – 1949) usai, tokoh ANO Surabaya, Moh. Chusaini Tiway mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO.

Ide ini disambut positif dari KH. Wachid Hasyim, Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).

Sementara BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) sebelumnya bernama Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) dari ANO Cabang Malang yang muncul dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937.

Sebagai Penolong, makna kata Ansor, dan barisan serbagunanya, Banser, Ansor dan Banser telah menunjukkan kekuatan dan pembelaan terhadap masyarakat, khususnya masyarakat kecil pedesaan yang menjadi basis sosial kalangan NU.

Maka tepat sekali Ketua Umum GP Ansor saat ini, Gus Yaqut Cholil Qoumas merumuskan 4 karakter Ansor dan Banser NU yang terinspirasi dari perjalanan sejarah GP Ansor itu sendiri:

1. Karakter Kepemudaan. Ansor dan Banser adalah Pemuda, yang cikal bakalnya dari Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air).

2. Karakter Keislaman yang memperjuangkan misi Islam Ahlus Sunnah Waljamaah Annahdliyah (ala NU).

3. Karakter Kebangsaan, karena cikal bakal Ansor dari Syubbanul Wathan, Pemuda Tanah Air yang mencerminkan kebangsaan dan cinta negeri.

4. Karakter Kerakyatan, sesuai dengan nama Ansor “Sang Penolong” yang membela dan berpihak pada rakyat kecil.

Misi Ansor pun nantinya dirumuskan dalam sebuah larik yang menjadi akhir dalam lirik Mars Ansor oleh Mahbub Junaidi, “Bela Agama, Bangsa, Negeri”. Yang dalam bahasa lain, inilah pembelaan Gerakan Pemuda Ansor terhadap Islam, Kerakyatan dan Keindonesiaan.

Mohamad Guntur Romli