Inkonsistensi dan Standar Ganda Fadli Zon

Saat kawanan penyebar hoax ditangkap (lebih jahat lagi mereka bawa2 ‘muslim’ sebagai kedok kelakuan busuk mereka), Fadli Zon teriak-teriak, penangkapan ini mematikan demokrasi di Indonesia. Saya tak tahu, Fadli Zon belajar demokrasi di mana, kalau hoax, fitnah dan kebencian bisa menghidupkan demokrasi? Sebaliknya, hoax akan membunuh demokrasi, karena bukan pertukaran ide yang sehat yang terjadi, tapi saling fitnah, melempar hoax dan membenci.

Tak lama setelah itu, Fadli Zon tak hanya gagal paham soal demokrasi, tapi juga membuktikan dirinya sebagai orang yang inkonsisten dan punya standar ganda. Fadli Zon melaporkan akun-akun yang dia tuduh menyebarkan hoax. Maka, kalau memakai omongan Fadli Zon di atas, pelaporan Fadli Zon merupakan upaya mematikan demokrasi.

Inilah inkonsistensi Fadli Zon, standar ganda yang dipunyai Fadli Zon, kalau penyebaran hoax menyerang lawan-lawannya dan menguntungkan dirinya, Fadli Zon akan membelanya, pemberantasan hoax dalam konteks ini dituduh Fadli Zon sebagai upaya mematikan demokrasi.

Tapi apabila yang disebut hoax menyerang dirinya dan kelompoknya, Fadli Zon ingin memberhangus yang ia sebut penegakan keadilan.

Inilah standar ganda dan inkonsistensi Fadli Zon.

Tiba-tiba saya ingat ucapan yang populer sejak 5 tahun lalu:

Husnuz Zon (punya otak yg baik)
Suu Zon (punya otak yg buruk)
Kalau Fadli Zon…….. (silakan isi) ?

Mohamad Guntur Romli