Reformasi Saudi dan Sakaratul Maut Ideologi Wahabi: Bagian II

Dalam tulisan saya sebelum ini, “Mengapa Ideologi Wahabi Jadi Korban Reformasi Saudi? Bagian I” saya menjelaskan alasan ideologi Wahabi menjadi korban reformasi di Saudi. Tokoh yang disebut-sebut sangat gencar melakukan reformasi adalah Putera Mahkota Kerajaan Saudi saat ini, Pangeran Muhammad bin Salman (MBS). Sikap Pangeran MBS terhadap ideologi Wahabi sebenarnya melanjutkan kebijakan pemimpin-pemimpin Saudi sebelumnya yang terus meminggirkan ideologi Wahabi, apalagi sejak keterlibatan ideologi Wahabi dalam jaringan dan aksi teror di dunia dan di wilayah Saudi sendiri.

Namun Pangeran MBS saat ini tampak jauh lebih keras terhadap Wahabi karena dua alasan besar. Pertama: dampak dari Musim Semi Arab di Timur Tengah dan kedua: terpuruknya harga minyak dunia.

Bagaimana menjelaskan dua sebab ini?

Musim Semi Arab: Tuntutan Reformasi Anak Muda  

Musim Semi Arab terjadi tahun 2011 diawali di Tunisia dan menjalar ke negeri-negeri jirannya di Timur Tengah. Tak ada negara yang kedap dari pengaruh Musim Semi Arab, yang membedakan hanyalah sebesar apa pengaruh Musim Semi Arab itu.

Saudi dikepung gerakan Musim Semi Arab yang berhasil merontokkan beberapa rejim di negeri Arab, atau membuat kacau beberapa negara. (Musim Semi Arab berhasil menumbangkan rejim-rejim di Tunisia, Libya, Mesir, Yaman, meski gagal di Suriah tapi negeri ini hancur).

Musim Semi Arab hanya punya satu wajah: reformasi dari kaum muda.  Kaum muda yang menginginkan reformasi dan regenerasi politik, karena sekian lama Timur Tengah dipimpin oleh  rejim-rejim yang sama yang memakan banyak generasi setelahnya. Kekuasan hanya dinikmati oleh rejim-rejim dan elit-elitnya dari zaman “kakek hingga cucu”. Maka generasi muda menuntut reformasi politik.

Tuntutan lain masa depan yang layak bagi generasi muda dengan lapangan pekerjaan dan kualitas kehidupan yang baik, ini reformasi ekonomi. Ini tak bisa dilakukan kalau masih ada oligarki politik, karena oligarki politik selalu melahirkan oligarki ekonomi: sumber daya alam dan ekonomi negara hanya dikuasai oleh segelintir rejim elit yg memperkuat kolusi, nepotisme dan korupsi antar mereka.

Sepaket dengan reformasi politik dan ekonomi adalah reformasi sosial budaya, seperti gaya hidup, iklim kebebasan, kesetaraan, kedamaian, tidak ada diskriminasi, dll nya. Intinya Musim Semi Arab adalah “Tuntutan Reformasi Kaum Muda Arab” dalam sektor politik, ekonomi dan sosial budaya.

Kalau rejim Saudi tidak ingin bernasib sama seperti rejim-rejim di negara-negara Arab lainnya, maka rejim di Saudi harus mendengarkan aspirasi rakyatnya.

Bagaimana cara rejim di Saudi menyiasati aspirasi rakyatnya?

Cara Saudi Menyiasati Tuntutan Rakyat Saudi 

Pertama melakukan regenerasi kepemimpinan, baik secara politik dan ekonomi, karena negara ini sudah lama dikuasai generasi lama. Maka, Pangeran MBS diharapkan menjadi gerbong regenerasi dan harapan generasi zaman now Saudi. Pengangkatan Pangeran MBS sebagai putera mahkota bukan tanpa resiko, karena tradisi suksesi di Saudi memperhatikan senioritas, trah kekuasaan berjalan ke samping menghabiskan jatah yang senior tidak langsung ke bawah. Semuan anak raja memiliki hak atas tahta, dimulai anak pertama, kedua, ketiga dst sampai habis, hal ini untuk menjaga senioritas. Pangeran MBS masih memiliki paman-paman, yakni adik-adik dari Raja Salman saat ini, namun usia mereka jelas udah tua semua. Demikian pula kakak-kakak sepupu Pangerang MBS juga masih tak terhitung. Tapi demi regenerasi kepemimpinan Dinasti Saudi, Raja Salman mengangkat anaknya sendiri menjadi putera mahkota. Satu sisi ini resiko besar karena menyalahi tradisi suksesi Dinasti Saudi. Pilihan ini bisa dipandang sebagai ambisi pribadi Raja Salman. Bahkan sudah ada yang menyebutkan kalau Raja Salman ingin mengubah Dinasti Saud menjadi Dinasti Salman. Namun kalau melihat tuntutan regenerasi dan suara anak-anak muda di Saudi, meski dibalut ambisi pribadi dan penuh resiko (misal kudeta, perebutan tahta, pembunuhan dll) Pangeran MBS dianggap menjawab tuntutan zaman.

Kedua, dengan membuka keran kebebasan, suasana yang rileks, hidup lebih terbuka, pandangan yang moderat, perhatian dan bersahabat terhadap rakyat Saudi khususnya kaum perempuan yg selama ini dipasung adalah pendekatan dan “pencitraan” pemerintah Saudi untuk meraih simpati rakyat Saudi. Perempuan akan ke bioskop, boleh memilih model pakaian, bisa menyetir sendiri, tak perlu ada wali atau mahram saat dalam perjalanan dan beberapa perubahan budaya dan sosial tampaknya akan disambut positif oleh warga Saudi. Karena perubahan di Saudi hanyalah waktu. Saudi bukan negara yang sangat tertutup seperti Korea Utara yang melarang warganya keluar dan menutup rapat-rapat negerinya. Warga Saudi bebas kemana pun dan mereka melihat perubahan besar di luar negerinya. Warga Saudi biasanya menikmati kebebasan dan kenikmatan hidup dengan pergi ke Bahrain, Emirat, Mesir, Libanon, atau ke Eropa dan Amerika. Mereka sangat sadar dunia sudah berubah, maju, terbuka dan modern, namun saat kembali ke Saudi menemukan ketertutupan dan diskriminasi. Pemaksaan model ini hanya menunggu waktu untuk berubah, kalau ditutup dan dipaksa terus menerus akan memantik gejolak sosial yang besar. Warga Saudi juga menikmati kebebasan internet dan televisi, namun saat di jalanan dan luar rumah serta di ruang publik, mereka dipaksa dan diatur oleh “polisi syariah” yang menjadi dominasi ideologi Wahabi. Maka, menyingkirkan Wahabi dari jalanan dan ruang publik, Wahabi yang tidak lagi mengurusi masalah sosial dan budaya, yang mungkin saja dikembalikan ke ruang-ruang ibadah saja, akan menjadi pilihan bagi Saudi yang terus berubah.

Ketiga, mencari sumber-sumber ekonomi baru karena harga minyak dunia yang terus anjlok. Saudi harus memutar otak untuk devisa negara yang tidak bisa lagi mengandalkan minyak dengan membuka perdagangan, investasi, jasa dan pariwisata. Maka sumber ekonomi baru ini menuntut pemerintah dan rakyat Saudi berubah. Kalau dulu mereka sangat kaya dan mengandalkan minyak sehingga negara-negara  lain butuh mereka, maka Saudi bisa “semau gue” dan negara-negara lain harus memaklumi gaya Saudi yang menjengkelkan sampai mengkafirkan ala Wahabi, tapi kini, kalau mereka mau terlibat  berdagang mereka harus pakai cara yg kompetitif, inovatif dan simpatik. Dalam berdagang dan menawarkan jasa “pembeli adalah raja” Saudi tidak bisa “semau gue”  lagi, mereka harus mengubah mindset, etos kerja, dan budaya mereka. Budaya Wahabi tidak cocok untuk kondisi seperti ini.

Keempat, Wahabi adalah proyek yang harus dimatikan karena membebani negara. Selama ini Wahabi membutuhkan dana yang besar, dalam proyek ”ekspor ideologi Wahabi” ke luar Saudi ditopang dengan hasil minyak bumi Saudi yang berlimpah. Dengan anjloknya harga minyak dunia maka, Saudi harus memangkas anggaran, khususnya perhatian mereka pada ideologi Wahabi. Karena dana tidak ada, maka “proyek Wahabi” seperti halnya proyek yang merugikan dan tidak ada masa depan, maka proyek ini harus dimatikan.

Kerajaan Saudi telah menemukan solusi untuk permintaan rakyat Saudi yang ingin berubah dengan mengorbankan ideologi Wahabi yang tertutup, kaku, keras, ganas, mudah mengkafirkan anti perubahan dan pembaruan, serta diskriminatif.

Dalam posisi ini, ideologi Wahabi bukan cuma “kambing hitam” tapi memang jadi biang kerok dari segala kekacauan, ketertutupan, kemunduran dan kekerasan yang tak hanya terjadi di Saudi tapi juga dunia Islam.

Saya yakin, Saudi akan lebih maju tanpa Wahabi, selama ini yang membuat Saudi tertutup dan anti perubahan adalah ideologi Wahabi. Seperti halnya negeri Arab teluk lain yg sudah mulai terbuka dan modern seperti Emirat Arab, yang tidak lagi mengandalkan minyak tapi juga perdagangan, investasi, jasa, pariwisata, teknologi, maka perubahan di Saudi tanpa Wahabi adalah kepastian, sekaligus harapan.

Mohamad Guntur Romli