Bom Surabaya dan Mewaspadai Lahirnya Generasi Baru Teroris yang Lebih Sadis 

Bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo yang dilakukan oleh tiga keluarga sekaligus, bisa disebut sebagai kelahiran generasi baru teroris yang lebih sadis dan kejam. 

Secara kronologi pelaku bom bunuh diri Surabaya adalah generasi keempat. Generasi Pertama berasal dari kelompok teroris lokal: Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dari tahun 1950-1980, Generasi Kedua adalah jaringan Jamaah Islamiyyah (JI) dari tahun 1980-2001 dan Generasi Ketiga adalah jaringan Al-Qaidah yang merupakan “alumni/veteran Perang Afghanistan” mulai Bom Bali I tahun 2002. Generasi Keempat: Jaringan ISIS mulai bom Sarinah-Thamrin 2016 sampai Bom Surabaya 2018. (Baca: Bom Surabaya dan Empat Generasi Teroris di Indonesia)

Meskipun secara kronologi bisa dibagi empat generasi, namun yang menonjol adalah generasi ketiga: jaringan Al-Qaidah setelah peledakan Bom Bali I. Aksi-aksi teror pasca tahun 2002 di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari jaringan Bom Bali I, baik individu-individu yang terlibat langsung dalam Bom Bali I atau pun generasi selanjutnya yang merupakan anak didik rekrutan jaringan Bom Bali I yang melahirkan Bom JW Marriott (2003), Bom Kedubes Australia (2004), Bom Bali II (2005) dan seterusnya.

Kini, generasi ISIS dan jaringannya melalui bom bunuh diri di Surabaya bisa menjadi babak baru terorisme di Indonesia yang berbeda dari perode dan generasi teroris sebelumnya.

Dua Generasi Teroris: Bom Bali I 2001 dan Bom Surabaya 2018

Generasi Bom Surabaya 2018 memiliki sejumlah ciri khas yang membedakan dengan Generasi Bom Bali I tahun 2002 dan setelah. 

Pertama karena jaringan pelaku Bom Surabaya merupakan Jaringan Alumni ISIS bukan lagi jaringan lama: Alumni Al-Qaidah. Kedua, formasi lengkap satu keluarga (bapak-ibu-anak) yang tidak ada pada generasi teroris sebelumnya. Ketiga, pelaku bom bunuh diri adalah wanita setelah aksi bom bunuh diri sebelumnya dilakukan oleh pria dewasa, muda dan remaja, dengan doktrin ISIS, wanita menjadi pelaku bom bunuh diri. 

Keempat, penggunaan anak-anak dalam aksi bom bunuh diri. Meskipun penggunaan anak-anak dalam jaringan aksi teror global bukan modus baru, tapi benar-benar baru untuk Indonesia. Anak-anak dimanfaatkan sebagai kedok untuk mengelabui keamanan dan pemeriksaan serta menghindar dari kecurigaan. Kelima, penggunaan bahan peledak TATP, “the mother of satan” ciri khas bom ISIS yang menggantikan jenis peledak TNT dan C-4 di generasi sebelumnya. 

Dari perbedaan dan ciri khas tadi bisa disimpulkan telah lahir generasi baru teroris dan babak baru terorisme. 

Lantas, apa yang bisa dibaca dari fenomena lahirnya generasi keluarga teroris di Surabaya ini? 

Pertama, lahirnya generasi teroris yang semakin nekat, kejam dan sadis. Letak kesadisannya tidak hanya soal sasaran yang biasanya tak peduli korban sipil tak berdosa dan mengorbankan dirinya sendiri melalui bom bunuh diri, tapi kini kesadisan sangat nampak dengan mengorbankan anak-anak mereka sendiri yang masih kecil. Ini menunjukkan kekejaman, kenekatan dan kesadisan tingkat tinggi. Bagi keluarga yang waras akan mengajak anggota keluarganya bertamasya untuk bergembira, menyenangkan dan menghibur, tapi keluarga Bom Surabaya melakukan “tamasya kematian”.  Apakah yang ada dalam benak kedua orang tuanya saat melilitkan sabuk maut pada anak-anaknya yang masih kecil? Bukankah ini memerlukan tingkat ketegaan, kegilaan dan kesadisan yang sangat tinggi?

Apakah generasi keluarga teroris Surabaya ini akan menginspirasi dan mendorong keluarga-keluarga teroris lainnya? Saya kira akan sulit, kecuali memiliki over dosis kesadisan, kebiadaban, kekejaman dan kegilaan. 

Kedua, aksi bom bunuh diri adalah produk putus asa dan depresi tingkat tinggi apalagi dengan mengorbankan anak-anaknya sendiri. Apabila pada generasi teroris sebelum ini aksi-aksi teror dirancang dengan penuh seksama oleh pelakunya, tak jarang ada upaya memamerkan keahlian merakit bom dengan daya ledak tinggi dan kemudian dengan cepat menghilang serta menghapus jejak, tapi aksi teror bom bunuh diri Surabaya menjadi fenomena “asal bom bunuh diri” dengan ditambah kesadisan dan kekejaman karena membunuh anak-anaknya sendiri dalam aksi itu. 

Generasi keluarga teroris ini hanya bisa dimaknai sebagai pucak putus asa, depresi, kekalahan dan kesia-siaan (mereka dijanjikan “surga di bumi” oleh ISIS di Suriah dan Iraq, mereka menjual dan menghabiskan semua yang mereka miliki saat berangkat ke sana, tapi ISIS kalah, kini mereka harus pulang dengan kekecewaan, kehilangan harga diri dan harus memulai hidup dari nol), bukankah ini putus asa dan sia-sia? 

Ketiga, generasi teroris yang semakin tidak terlatih dan pengecut. Apabila sasaran-sasaran teror sebelum ini adalah tempat-tempat vital dengan simbol ekonomi dan politik yang kuat dan berbau Barat, tapi karena sasaran-sasaran itu sudah dijaga ketat dan sulit dijadikan sasaran teror, karena tidak terlatih, generasi Bom Surabaya memilih tempat-tempat yang longgar dan tidak diperkirakan akan ada niat dan aksi jahat di dalamnya, yakni menyerang rumah-rumah ibadah. Selain sadis—karena mengorbankan anak-anaknya yang kecil—generasi teroris ini juga pengecut karena menyerang rumah-rumah ibadah yang tidak dijaga dengan ketat. 

Keempat, kembalinya tradisi “Arab Jahiliyah” dengan membunuh anak-anak mereka sendiri. Fenomena ini muncul di era Jahiliyah orang tua yang membunuh anak-anaknya bahkan menanam/menguburkan anak-anaknya dalam keadaan hidup-hidup, karena telah kehilangan harga diri dan putus asa. Ini yang disebut tradisi yang dikecam oleh Al-Quran karena mengubur anak-anak perempuan (wa’dul banat) atau membunuh anak-anak karena takut kelaparan dan kemiskinan (khasyyata imlaq). Alih-alih keluarga teroris ini akan dibela melaksanakan doktrin jihad, ternyata mereka malah mengembalikan tradisi “Arab Jahiliyah”.

Kelima, aksi bom bunuh diri dari generasi ini tak hanya sadis, kejam, biadab, gila dan pengecut yang semakin membangkitkan kemarahan publik, namun juga semakin terbukti tidak ada nilai dan tujuan yang diperjuangkan oleh terorisme. Apabila sebelum ini aksi terorisme tetap ingin meraih simpati publik—oleh karena itu sasaran yang dipilih yang diyakini sebagai simbol politik dan ekonomi lawan sebagai “musuh bersama” dan katanya pula ada nilai-nilai yang diperjuangkan ingin menegakkan Negara Islam dan Khilafah. Terorisme sebelum ini ingin pula disebut sebagai perlawanan terhadap Barat, “musuh Islam”, “Setan Besar”, “Tiran dan Diktator Dunia”; melawan kezaliman dan kesewenang-wenangan. Tapi bom Surabaya dengan mengorbankan dan membunuh anak-anaknya sendiri, semakin menunjukkan bahwa terorisme tidak punya nilai, arah tujuan dan cita-cita, kecuali menebar ketakutan, kekejaman, kebiadaban, kesadisan, putus asa dan kehancuran. Bagaimana mau membangun Negara Islam dan Khilafah kalau generasi penerusnya, anak-anak mereka sendiri dibunuh dan diperdaya untuk melakukan bom bunuh diri? 

Untuk menghadapi fenomena keluarga lengkap yang terlibat terorisme ini, mari kita kembali ke ajaran Islam tentang konsep keluarga yang memiliki tujuan membangun keluarga yang sakinah. Keluarga Sakinah adalah keluarga yang tenang, damai, bahagia dan sejahtera yang penuh diliputi cinta kasih (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Keluarga Sakinah adalah keluarga yang dibangun sekaligus menebarkan kedamaian (salam) dan kasih sayang (rahmah), bukan yang menebarkan kesadisan, kekejaman, ketakutan dan teror.  

Mohamad Guntur Romli, Caleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI)