Mohamad Guntur Romli, kader Nahdlatul Ulama (NU) melaporkan akun @NerizenTofa (Mustofa Nahrawardaya) yang menyebarkan twit palsu ke Polda Metro Jaya, Minggu 22 April 2018.

Diketahui pada hari Rabu 18 April 2018, akun @NetizenTofa mengirimkan sebuah foto twit dengan tulisan “Oleh krn itu, Quran bukan kitab suci, bukan pula menyebabkan kita tabu untuk menggaulinya, Nabi Muhammad bukan pula manusia suci” yang diatasnamakan dari akun @GunRomli bersama foto Mohamad Guntur Romli dan ayahnya KH Achmad Zaini Romli yang merupakan foto pencalegan Guntur Romli dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

“Saya melaporkan akun @NetizenTofa yang dimiliki Mustofa Nahrawardaya dengan pasal 35 UU ITE, karena bagi saya twit itu tanpa hak telah melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan terhadap konten elektronik sehingga dianggap seolah-olah data yang otentik, ancamannya 12 tahun penjara,” kata Guntur Romli yang akan maju menjadi calon legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

“Sebagai anak saya juga ingin membela kehormatan ayah saya yang dibawa-bawa dalam foto tersebut untuk tujuan jahat, saya dibully di semua media sosial, Twitter, Instagram, Facebook dan WhatsApp, tapi yang membuat saya sedih, foto bapak saya ikut dibawa-bawa gara-gara twit Mustofa Nahrawardaya, saya tidak terima,” tegas Guntur Romli yang juga aktif di Gerakan Pemuda (GP) Ansor ini.

Mustofa Nahrawardaya dikenal sebagai Calon Legislatif dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari Dapil Klaten, Solo, Boyolali, Sukoharjo pada Pileg 2014 lalu.

“Ini serangan politik, saya kan lagi mau nyaleg dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang menyerang saya dari kader parpol lain, yang tidak mau bersaing dengan sehat tapi dengan cara yang jahat” tutur Guntur Romli yang dikenal sebagai aktivis kerukunan umat beragama.

Sebelumnya Mustofa Nahrawardaya pernah dijemput polisi pada 17 Mei 2016. Mustofa dimintai keterangan oleh penyidik karena dianggap membocorkan surat asli dari Artha Graha lewat akun Twitter-nya. Surat tersebut merupakan imbauan kepada karyawan Artha Graha untuk ikut Kegiatan Aksi Damai 4 Desember 2016 lalu di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Namun hingga kini kasus tersebut tidak jelas.

Selain akun @NetizenToga Guntur Romli juga melaporkan nomer telepon 0821-1317-3611 yang mengirimkan meme berkonten palsu di WhatsApp Grup. Melalui penelusuran dengan aplikasi TrueCaller nomer itu diduga milik orang yang bernama Zen Wei Jian Ken Ken.

“Sebenarnya yang menyerang saya jaringan radikal, intoleran dan pendukung radikalisme saya kan aktif melawan kelompok-kelompok ini, saya juga menjadi saksi yang membela Pemerintah/Negara dalam sidang gugatan pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang ingin mengganti Pancasila dan NKRI.” Tutup Guntur Romli yang bergabung dalam Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang memiliki tagline #AntiKorupsi #AntiIntoleransi.

Baik Mustofa Nahrawardaya dan Zen Wei Jian dijerat pasal berlapis: Pasal 27 Ayat (3) dan atau Pasal 28 Ayat (2) junto Pasal 45 Ayat (2) dan atau Pasal 35 junto Pasal 51 Ayat (1) UU ITE.

Pasal 27 ayat (3) menyebut melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Pasal 28 ayat (2) sebagai berikut: Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Sedangkan ancaman hukumannya disebutkan dalam Pasal 45 Ayat (2) yaitu pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

Sementara Pasal 35 disebutkan, “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik.”

Adapun sanksi yang akan dijatuhkan apabila ada orang terbukti melanggar 34 disebutkan dalam Pasal 51 Ayat (1): pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).

Sumber: suaraislam.co