Lailatul Qadar Malam 27 Ramadhan

Apabila kehadiran Lailatul Qadar di negeri ini dianggap misterius, di Mesir, Laitatul Qadar dirayakan malam tanggal 27 Ramadhan. Ini pengalaman saya yang pernah 6 tahun studi di Al-Azhar, Cairo, Mesir.

Pada malam tanggal 27 Ramadhan saya biasa mengikuti Ihtifal Lailatul Qadar, Perayaan Lailatul Qadar yang diadakan oleh Wizarah Syu’un Diniyah (Kementrian Urusan Agama), Masyikhatul Azhar dan Majelis A’la Li Thuruq Ash-Shufiyah (Majelis Tinggi Tarekat-tarekat Sufi) yang digelar di Pelataran Masjid Sayyidina Husain di yang terletak di segi tiga emas: Masjid Al-Azhar sentra pendidikan dan keilmuan, Pasar tradisional Khan Khalili sebagai sentra ekonomi dan Masjid Sayyidina Husain sebagai sentra spiritual di kawasan Darrasah Cairo.

Dalam perayaan itu selain sambutan Menteri Urusan Agama Mesir, para tokoh-tokoh dan ulama Al-Azhar, kadang pernah hadir Syaikhul Azhar yang waktu itu almaghfurlah Syaikh Muhammad Sayyid At-Thanthawi, ada pula tokoh dari Syaikhul Masyayikh yang menjadi pimpinan/Syaikh Majelis Tinggi Tarekat-tarekat Sufi di Mesir, yang didahului dengan bacaan ayat-ayat suci Quran dan ibtihalat (doa-doa yang dilagukan dengan nada yang menyentuh hati).

Intinya Malam atau Lailatul Qadar di Mesir bukan peristiwa yang misterius, tapi dirayakan pada malam tanggal 27 Ramadhan. Selepas acara di Pelataran Masjid Sayyidina Husain para jemaah akan beringsut menuju dalam masjid Sayyidina Husain untuk melanjutkan I’tikaf, dengan mengisi shalat-shalat malam, tadarus Al-Quran, dzikiran, dan tak sedikit juga yang berada di luar masjid yang duduk-duduk sambil nyisha, ngeteh dan ngobrol. Semuanya pada begadang.

Apabila waktu menunjukkan pukul 3 pagi, ada sekelompok orang yang mengedarkan kudapan untuk sahur, biasanya ruzz bil laban (nasi dengan susu), yogurt yang berisi nasi dalam kemasan mini. Bagi perut kami orang Indonesia, sahur ini tidak nendang sama sekali, apalagi bagi saya yang juga selalu mengeluh tradisi waktu sahur bagi orang Mesir yang “kemaleman” jauh dari imsak, yang saya ingat waktu itu adzan subuh masih pukul 5 pagi. Sahur pukul 3 dan adzan subuh pukul 5 sama halnya membiarkan perut kembali kosong sebelum puasa dimulai. Tradisi orang Indonesia mengakhirkan waktu sahur, sampai menjelang imsak. Selain karena dekat dengan Sunnah Nabi, juga menyiasati agar perut tidak kosong dalam waktu lama ๐Ÿ˜€.

Maka, jatah sahur gratis di Masjid Sayyidina Husain harus ditambah dengan membeli isy (roti Mesir) dengan gorengan tha’miyah (onde-onde khas Mesir yang rasanya gurih), kalau ada cukup rizki ditambah telur rebus, atau membeli nasi kusyari, tanpa lauk, dengan bawang goreng yang diperbanyak, yang banyak dijual di sekitar komplek Masjid Sayyidina Husain.

Sambil menunggu adzan subuh, kadang ikut nimbrung bersama para jamaah dari aliran-aliran tarekat sufi yang datang dari luar kota Cairo, dari Tanta, Iskandaria, Damanhur, Dimyath, Arish, bahkan dari Assiyut yang datang ke Cairo selain berziarah ke Makam Sayyidina Husain dan untuk merayakan Malam Lailatul Qadar sambil begadang dan ngalap berkah di Masjid Sayyidina Husain.

Saat mengikuti Perayaan Lailatul Qadar pada tahun pertama puasa saya di Mesir, tahun 1999, saya terkejut. “Waaah Lailatul Qadar di sini tidak misterius, bahkan ada perayaannya malam tanggal 27 Ramadhan”, bisik saya dalam hati waktu itu. Karena biasanya, tradisi di Indonesia, Lailatul Qadar adalah malam yang istimewa karena menurut firman Allah Swt malam ini lebih baik dari seribu bulan, karena istimewanya, maka harinya misterius, yang bisa ditunggu-tunggu dan diamati pada malam-malam bertanggal ganjil di sepuluh akhir bulan Ramadhan: tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29. Tapi di Mesir Lailatul Qadar sudah ada “hisab”nya, yakni malam tanggal 27, tidak perlu lagi tradisi “ru’yah” meneropong, menunggu Lailatul Qadar.

Selama puasa di Indonesia, ada keasyikan sendiri menunggu dan mengamati Lailatul Qadar. Saya masih ingat penjelasan Gus Mus yang pernah saya baca di salah satu media cetak tentang tanda-tanda Lailatul Qadar, yang kira-kira yang masih saya ingat: kondisi malam itu cerah dan tenang, alam khusyu’ dalam diam, angin tak berhembus kencang, meski kita bisa merasakan desirannya tanpa melihat semilir angin yang biasanya menggerakkan dedaunan, malam itu kita terasa semangat dan nikmat beribadah, dan yang paling nyata, pagi hari saat matahari terbit sinarnya tak menyilaukan mata. Ia muncul dalam bulatan putih tanpa pancaran yang menusuk mata.

Setiap malam begadang di malam-malam tanggal ganjil itu, senantiasa merasakan dan mencocok-cocokkan suasana alam hingga terbitnya matahari. Hingga akhir Ramadhan kita masih membanding-bandingkan malam-malam itu yang paling tepat dan cocok dengan kriteria Lailatul Qadar, meskipun akhirnya yang paling tepat tetap menyerahkan semuanya pada Allah, Wallahu Al’lam bis Shawab.

Tapi romantisme yang dipenuhi penasaran dan keasyikan mencari Lailatul Qadar seperti di Indonesia tak saya temukan dalam tradisi muslim di Mesir yang seperti sudah menetapkan Lailatul Qadar pada malam tanggal 27 Ramadhan.

Mungkin ada pertanyaan mana yang benar? Apakah Lailatul Qadar adalah malam yang misterius yang terus kita cari di malam-malam tanggal ganjil di Sepuluh Akhir Ramadhan atau benar setiap tanggal 27 Ramadhan?

Apabila kembali pada doktrin Islam, semua keyakinan itu memiliki dalilnya masing-masing.

Tradisi mengintai (taharra) Lailatul Qadar berdasarkan sabda Rasulullah Saw,

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑูŽุถูู‰ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽูˆู’ุง ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ููู‰ ุงู„ู’ูˆูุชู’ุฑู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ.

Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Intailah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan,โ€ (HR Bukhari).

Rasulullah Saw tidak menetapkan malam tanggal berapa Lailatul Qadar, tapi memberitakan isyarat pada malam-malam tanggal ganjil. Bahkan dalam sabda yang lain, beliau menegaskan dibuat lupa (kepastian) malam di mana terjadi Lailatul Qadar.

ุฅูู†ู‘ูู‰ ุฃูุฑููŠุชู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูู‰ ู†ูุณู‘ููŠุชูู‡ูŽุง ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ููู‰ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ููู‰ ูˆูุชู’ุฑู

โ€œSungguh aku diperlihatkan Lailatul Qadar, tapi sungguh aku dibuat lupa (oleh Allah Swt) tapi sesungguhnya ia ada di sepuluh malam terakhir, pada (malam-malam) yang ganjil”.

Dalam sabda ini Lailatul Qadar adalah momen yang misterius. Para pencari Lailatul Qadar seperti pemburu yang dengan sabar mengintai buruan datang, tak ada yang tahu kepastiannya kapan buruan itu muncul. Kesabaran, kewaspadaan, keteguhan, ketelitian, dan segala suasana batiniah bercampur aduk bagi pemburu Lailatul Qadar.

Bagi yang merayakan Lailatul Qadar malam tanggal 27 Ramadhan berdasar dalil berikut:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุนูŽุจู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ูŽ ู…ูŽุณู’ุนููˆุฏู ูŠูŽู‚ููˆู„ูุง ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู…ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู†ูŽุฉูŽ ุฃูŽุตูŽุงุจูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูุจูŽูŠู‘ูŒ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู„ูŽูููŠ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุญู’ู„ููู ู…ูŽุง ูŠูŽุณู’ุชูŽุซู’ู†ููŠ ูˆูŽ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ููŠ ู„ูŽุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุฃูŽูŠู‘ู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ู‡ููŠูŽ ู‡ููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ุฃูŽู…ูŽุฑูŽู†ูŽุง ุจูู‡ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูู‚ููŠูŽุงู…ูู‡ูŽุง ู‡ููŠูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุตูŽุจููŠุญูŽุฉู ุณูŽุจู’ุนู ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ ูˆูŽุฃูŽู…ูŽุงุฑูŽุชูู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุทู’ู„ูุนูŽ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ูููŠ ุตูŽุจููŠุญูŽุฉู ูŠูŽูˆู’ู…ูู‡ูŽุง ุจูŽูŠู’ุถูŽุงุกูŽ ู„ูŽุง ุดูุนูŽุงุนูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Siapa yang melakukan shalat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan menemui malam Lailatul Qadr.” Ubay berkata, “Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, sesungguhnya malam itu terdapat dalam bulan Ramadlan. Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam itu. Lailatul Qadr itu adalah
malam di mana Rasulullah Saw memerintahkan kami (para Sahabat) untuk melaksanakan ibadah malam, yaitu malam yang cerah ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru”. (HR Muslim dari Ubay bin Ka’ab)

ุนูŽู†ู’ ุฃูุจูŽู‰ูู‘ ุจู’ู†ู ูƒูŽุนู’ุจู โ€“ ุฑุถู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ โ€“ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูุจูŽู‰ูŒู‘ ููู‰ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฅูู†ูู‘ู‰ ู„ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ูู‡ูŽุง ู‡ูู‰ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ูŽุฉู ุงู„ูŽู‘ุชูู‰ ุฃูŽู…ูŽุฑูŽู†ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุจูู‚ููŠูŽุงู…ูู‡ูŽุง ู‡ูู‰ูŽ ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุณูŽุจู’ุนู ูˆูŽุนูุดู’ุฑููŠู†ูŽ

Dari Ubay bin Kaโ€™abย radhiyallahu โ€˜anhu, ia berkata mengenai malam lailatul qadar, โ€œDemi Allah, aku sungguh mengetahuiย  malam tersebut. Malam tersebut adalah malam yang Allah memerintahkan untuk menghidupkannya dengan shalat malam, yaitu malam ke-27 dari bulan Ramadhan.โ€ (HR Muslim yang juga bersumber dari Ubay bin Ka’ab).

Apakah sudah pasti Lailatul Qadar malam tanggal 27 Ramadhan? Tunggu dulu. Ada komentar para ulama terkait masalah ini. Misalnya dari Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab “Bulughul Maram” mengomentari “kepastian” Lailatul Qadar malam tanggal 27 Ramadhan sebagai masalah yang “mauquf” yakni sumbernya berhenti pada Sahabat Rasulullah Saw bukan langsung dari Rasulullah Saw. Sahabat yang disebut adalah Muawiyah bin Abi Sufyan dan Ubay bin Ka’ab yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas. Sedangkan hadits-hadits yang bersumber langsung dari Rasulullah Saw berdasarkan sabda beliau yang asli, tidak pernah memastikan malam tanggal Lailatul Qadar. Tanpa hendak meremehkan pendapat para Sahabat Nabi, kalau kita kembali pada sabda Nabi Muhammad Saw langsung yang disampaikan oleh beliau adalah tanda-tanda Lailatul Qadar dan tradisi mengintai Lailatul Qadar pada 10 malam akhir bulan Ramadhan khususnya malam-malam tanggal ganjil.

Nabi Muhammad Saw tidak pernah memastikan tanggal 27 sebagai malam tepatnya Lailatul Qadar, dari sabda beliau langsung malah menyebut tujuh hari terakhir di bulan Ramadhan, seperti dalam riwayat Ibnu Umar berikut ini:

ุนู† ุงุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูุฌูŽุงู„ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูุฑููˆุง ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุฏู’ุฑู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽู†ูŽุงู…ู ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุฑูŽู‰ ุฑูุคู’ูŠูŽุงูƒูู…ู’ ู‚ูŽุฏู’ ุชูŽูˆูŽุงุทูŽุฃูŽุชู’ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุชูŽุญูŽุฑู‘ููŠูŽู‡ูŽุง ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุจู’ุนู ุงู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู

Dari sahabat Ibnu Umar radliyallahuโ€™anhuma bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi saw diperlihatkan Lailatul Qadar dalam mimpi (oleh Allah SWT) pada 7 malam terakhir (Ramadhan) kemudian Rasulullah saw berkata, โ€Aku melihat bahwa mimpi kalian (tentang Lailatul Qadar) terjadi pada 7 malam terakhir. Maka barang siapa yang mau mencarinya maka carilah pada 7 malam terakhir.” (HR Bukhari Muslim)

Secara jelas sabda Nabi Muhammad Saw ini menunjukkan 7 malam terkahir Ramadhan, yang berarti mulai dari malam tanggal 23 atau 24, tidak memastikan malam tanggal 27 Ramadhan. Bahkan dalam sabdanya, beliau Nabi Muhammad Saw sengaja “dibuat lupa” terkait kepastian Lailatul Qadar.

Namun tradisi Perayaan Lailatul Qadar malam tanggal 27 Ramadhan seperti di Mesir mengikuti pendapat para Sahabat Nabi, seperti Ubay bin Ka’ab yang merupakan salah seorang kuttabul wahyi (pencatat wahyu/Al-Quran) termasuk shahabat Nabi yang utama yang menjadi dewan penasehat bagi pemimpin pengganti Nabi (Khalifah) mulai dari Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman–radliyallahu anhum.

Tidak pernah memastikan tepatnya Lailatul Qadar membuat para pecinta dan pemburu diliputi suasana batiniah yang deg-degan, penasaran, penuh harap, cemas yang agaknya sesuai dengan suasana religiusitas yang dipenuhi misteri dan lebih banyak ke soal harapan daripada kepastian. Bukankan dengan mengira dan membidik adanya Lailatul Qadar di setiap malam di 10 terakhir bulan Ramadhan kita akan semangat mengintai di malam-malam itu, di mana malam-malam itu yang kita dialihkan dengan kesibukan persiapan lebaran, mulai dari mudik, acara lebaran, hingga midnight sale?

Dengan mengintai, membidik Lailatul Qadar pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan menggairahkan harapan kita yang pada akhirnya dengan segenap kedaifan kita senantiasa berharap kasih sayang Allah Swt agar memperoleh anugrah Lailatul Qadar bukan karena kepastian dari amal yang kita kerjakan.

Saya teringat petuah dari Syaikh Ibnu Athaillah Al-Iskandari dalam kitab Al-Hikam terkait keyakinan seorang hamba yang semestinya bertumpu pada harapan akan Allah Swt bukan pada kepastian pada amal yang sudah ia kerjakan. Inilah inti tauhid dan ketergantungan pada Allah Swt yang sesungguhnya bukan tergantung pada amal-amal yang sudah kita kerjakan, apalagi “menuhankan amal kita” dan memastikan amal-amal kita akan memasukkan kita ke dalam surga.

Syaikh Ibnu Athaillah menegur orang yang terlalu bergantung dan yakin pada amalnya, bukan yakin yang sejati pada Allah Swt:

ู…ูู†ู’ ุนูŽู„ุงูŽ ู…ูŽุฉู ุงู’ู„ุงูุนู’ู€ุชูู…ูŽุงุฏู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ูุŒ ู†ูู‚ู’ุตูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูŽุงุกู ุนูู†ู’ุฏูŽ ูˆูุฌูู€ูˆุฏู ุงู„ุฒู‘ูŽู„ู€ู€ูŽู€ู„ู

“Di antara tanda-tanda orang yang terlalu sbersandar kepada amal-amalnya, adalah kurangnyaย ar-rajaโ€™ย (rasa harapย kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana.”

Harapan adalah rahasia dari keyakinan dan ketauhidan. Amal-amal yang sudah kita kerjakan bukanlah kepastian. Karena yang menerima kita hanyalah rahmat dan ridla Allah Swt. Amal-amal ibadah kita bukanlah kepastian kita masuk surga, sesuai sabda Nabi Muhammad Saw:

ู„ูŽู†ู’ ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ุจูุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ู‚ููŠู’ู„ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุฃูŽู†ูŽุง ุฅูู„ุงูŽู‘ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชูŽุบูŽู…ูŽู‘ุฏูŽู†ููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุจูุฑูŽุญู’ู…ูŽุชูู‡ู

Tidaklah seseorang masuk surga dengan amalnya. Ditanyakan, โ€œSekalipun engkau wahai Rasulullah?โ€ Beliau bersabda, โ€œSekalipun aku, hanya saja Allah telah melimpahkan rahmat kepadaku.โ€ (HR. Bukhari dan Muslim)

Senantiasa berharap memperoleh karunia Allah Swt melalui Lailatul Qadar dengan penuh kesabaran dan keteguhan mengintai, membidik dan menunggu di tiap malam-malam terakhir bulan Ramadhan adalah wujud dari keyakinan kita berdasarkan harapan bahwa hanya Allah Swt satu-satunya tempat kita berharap, bergantung dan yang bisa memastikan apapun atas kita.

Sedangkan kita yang daif dan fana ini, tak bisa secuil pun memastikan atas segala sesuatu.

Mohamad Guntur Romli