Sosiokuliner Nasi Rawon

Rawon adalah jenis masakan yang umum di Jawa Timur. Dari sisi sejarah sosiokuliner (tinjauan sosiologis makanan) Rawon termasuk menu rakyat jelata. Kok bisa? Karena rawon terbuat dari daging sisa-sisa alias tertelan, daging keras-keras & lemak-lemak. Makanya rawon direbus sangat lama agar daging yg keras yg sering berbalut urat dan otot menjadi empuk. Karena itu yg nikmat dan seger dari rawon adalah kuahnya, sementara dagingnya sudah jadi “ampas”. Daging-daging yang bagus tidak dimasak untuk rawon, tapi dibuat sate, empal, bistik yang dinikmati kalangan elit, waktu itu. Karena daging rawon sering tak berbentuk dan buruk dari sisi artistik, ditambahkan bumbu utamanya: kluwek yg menghitamkan kuah rawon. Warna hitam pada kuah rawon menambah citra jelata pada rawon, bandingkan dgn kuah-kuah lain yg berwarna kuning kemerah-merahan karena dicampur santan misalnya.

Bagi yg pertama kali melihat rawon mungkin tdk akan selera, karena warna kuahnya ini. Padahal kluwek inilah yang menjadi penawar kandungan kolesterol yang ada di daging rawon yang sering dipenuhi lemak. Tapi setelah mencicipi kuah rawon, pastilah ketagihan. Dulu istri saya @nongandah tdk suka rawon, karena dia orang Banten, Rawon masakan Jawa Timur, tp stlah mencicipi ketagihan.

Namun sejak rawon digemari, kualitas daging di rawon sudah memakai daging-dagingan yang bagus bukan lagi daging sisa-sisa. Rawon setan, rawon guling, dll dagingnya rawonnya sudah kualitas empal, bistik yg empuk dan tak perlu lama-lama direbus. Tapi bila ada mencicipi rawon yang kelas terminal bus, warung2 biasa di pinggir jalan, aura makanan jelata masih tampak pada rawon ini, dilihat dari kualitas dagingnya. Meski demikian, soal rasa bisa diadu, tetap nikmat karena kuahnya sdah bercampur daging.

Mohamad Guntur Romli

#Rawon #Sosiokuliner #MenuJawaTimur #Situbondo #Bondowoso #Jember #Banyuwangi