Banser Membakar Bendera HTI bukan Bendera Tauhid!

Pembakaran Banser di Garut terhadap bendera HTI memantik kontroversi. Hari ini sedang didengungkan (buzzing) khususnya di Twitter soal pembubaran Banser. Bagi saya, mereka yang membenci Banser dan ingin membubarkan Banser cuma ada 2 kelompok. Pertama, PKI dan antek-anteknya. Kedua, Teroris dan antek-anteknya. Nah kalau melihat para pendengung (buzzer) di medsos yang kini ramai ingin membiarkan Banser terafiliasi ke jaringan terorisme atau antek-antek terorisme.

Banser membakar bendera HTI sudah cara yang tepat. Benar bendera HTI ada kalimat tauhidnya, tapi bendera yang ada kalimat Tauhidnya tidak bisa disebut bendera tauhid. Bendera Saudi, bendera Afghanistan, juga bendera-bendera jaringan teroris ada kalimat Tauhidnya, seperti Al-Qaidah dan ISIS. Tapi bendera itu tidak bisa disebut bendera Tauhid haruslah disebut dengan afiliasi politiknya. Bendera Saudi, Bendera Afghanistan, Bendera ISIS, Bendera Al-Qaidah, Bendera Hizbut Tahrir. Bagaimana cara membedakan bendera-bendera itu? Ya harus belajar, agar kita tidak dibohongi oleh Hizbut Tahrir pakai kalimat tauhid. Mereka yang menyalahgunakan kalimat tauhid untuk bendera mereka yang ingin menggantikan Merah Putih dan mendirikan negara Khilafah ala Hizbut Tahrir.

Mengapa pembakaran bendera HTI adalah cara yang tepat? Karena ini sesuai dengan tradisi santri. Banser adalah santri, yang menganalogikan pembakaran bendera HTI dengan pembakaran terhadap kitab suci Al-Quran yang rusak dengan membakarnya. Tujuannya untuk memuliakan, agar tidak disalahgunakan dan diinjak-injak. Ini menurut madzhab Syafi’i, yang diikuti oleh Banser dan NU.

Imam As-Suyuthi, tokoh Syafi’iyah dalam kitabnya Al-Itqan fi Ulumil Quran memberikan opsi dibakar ini, seperti halnya yang dilakukan oleh Sayyidina Utsman terhadap beberapa kitab suci Quran yang rusak dan tidak sesuai dengan standar dengan dibakar.

Ada opsi lain, menguburkannya. Ini pendapat mahzab Hambali, dan tokohnya Ibn Taimiyah. Sementara Lembaga Fatwa Saudi Arabia yang fatwanya diikuti oleh kalangan yang saat ini mendramatisir pembakaran bendera HTI oleh Banser memperbolehkan dua opsi ini, baik dibakar dan dikubur.

Kalau Banser sebelum membakar bendera HTI dengan menginjak-injak ini kita patut marah, saya juga akan marah. Tapi dengan Banser membakarnya seperti tradisi membakar Kitab Suci Al-Quran yang rusak untuk memuliakan kalimat tauhid itu, maka ini sudah sesuai dengan akhlak santri.

Penyalahgunaan simbol agama untuk tujuan kejahatan memang harus dilawan, bahkan dihancurkan. Zaman Nabi Muhammad Saw, ada masjid yang dihancurkan, karena tujuannya untuk merusak dan memecah belah umat. Masjid ini disebut “Masjid Dhirar”. Nah, apa yang dilakukan oleh Hizbur Tahrir dan Jaringan Teroris yang memakai simbol-simbol agama untuk memecah belah dan merusak, persis kelakuan orang-orang munafik zaman Nabi yang membangun “masjid Dhirar” dengan tujuan jahat, memecah belah dan mencelakakan Nabi Muhammad Saw.

Maka jangan sebut bendera HTI, bendera ISIS, bendera Al-Qaidah sebagai bendera tauhid. Sebutlah “bendera Dhirar”, bendera yang merusak dengan menyalahgunakan simbol-simbol agama yang mulia untuk tujuan jahat.

Untuk membendung dan melawan radikalisme yang mengatasnamakan agama memang Banser sebagai benteng terakhir. Kalau ormas-ormas lain, bahkan polisi atau tentara yang merampas bendera HTI, pastilah akan diserang anti Islam, anti Tauhid.

Tuduhan itu tidak akan mempan ke Banser, santri-santri yang sejak tahun 1930 sudah ditanamkan doktrin Hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman), sejak 22 Oktober 1945 sudah ditanamkan doktrin, membela Kemerdekaan Republik Indonesia (meskipun bukan negara Islam, bukan negara Khilafah) adalah kewajiban jihad setiap muslim, dan yang mati membelanya disebut syahid.

Jadi kelompok apapun yang mau membubarkan NKRI dengan memakai simbol apapun, mau palu arit (PKI), mau menyalahgunakan kalimat tauhid yang mulia seperti yang dilakukan DI/TII, kelompok-kelompok teroris dan Hizbut Tahrir, pastilah Banser yang ada terdepan melawannya.

Karena Banser dan NU, tidak menjadikan kalimat tauhid sebagai bendera politik, apalagi politik makar, tapi tauhid yang ditegakkan di pesantren-pesantren, di masjid-masjid, di musola-musola, di pengajian-pengajian, di shalawat-shalawat, di tahlilan-tahlilan dll nya.

Sayup-sayup saya mendengar sahabat-sahabat Banser yang dengan penuh keberanian dan keikhlasannya melantunkan Mars Banser

Izinkan ayah Izinkan ibu
Izinkan kami pergi berjuang
Dibawah kibaran bendera NU
Majulah ayo maju serba serbu (serbu)

Tidak kembali pulang
Sebelum kita yang menang
Walau darah menetes di medan perang
Demi agama ku rela berkorban

Maju ayo maju ayo terus maju
Singkirkanlah dia dia dia
Kikis habislah mereka
Musuh agama dan ulama

Wahai barisan Ansor serbaguna
Dimana engkau berada (disini)
Teruskanlah perjuangan
Demi agama ku rela berkorban

Mohamad Guntur Romli