Gandrung Banyuwangi dan Perlawan terhadap Kolonialisme

Festival Tahunan Gandrung Sewu di Banyuwangi yang diprotes FPI dengan alasan kemaksiatan merupakan tuduhan yang menyakitkan dan tidak sesuai dengan kenyataan.

Tari Gandrung sudah identik dengan Banyuwangi. Dalam pelajaran seni di sekolah, kalau ada pertanyaan, “dari mana asal tari gadrung?” Kalau jawabannya selain “Banyuwangi” dipastikan salah.

Kosa kata “gandrung” juga ikut menambah kekayaan kosa kata bahasa Indonesia yang artinya, sangat rindu, sangat cinta, sangat tergila-gila, yang artinya sama dengan kasmaran.

Sejarah Perjuangan Rakyat Banyuwangi

Kalau FPI menuduh tari Gandrung dengan kemaksiatan harus membaca sejarah tari Gandrung itu sendiri. Tari ini terkait dengan syukuran, kegembiraan, hiburan sekaligus epos perjuangan melawan kolonialisme.

Bumi Banyuwangi pernah bersimbah darah pejuang-pejuang Banyuwangi yang melawan kolonialisme Penjajah. Meskipun satu gerakan perlawanan rakyat Banyuwangi dipatahkan oleh Belanda, namun rakyat Banyuwangi tidak benar-benar menyerah, mereka terus melawan.

Sehingga kawasan Banyuwangi dikenal dengan daerah angker, penuh mistik dan berbahaya dengan simbolisasi arwah, dedemit, hingga ilmu teluh (sihir) yang sebenarnya merupakan “bahasa simbolis” Belanda untuk menutup malu mereka yang tidak pernah menang 100 persen atas perlawanan rakyat Banyuwangi.

Karena perlawanan rakyat Banyuwangi pula, selain di keliling benteng-benteng alam yang kokoh, di bagian Baratnya barisan gunung-gunung, hutan-hutan lebat, jurang-jurang dalam, sementara di bagian Utara, Timur hingga Selatan dilindungi laut, khususnya bagian selatan dengan ombak-ombak  laut setinggi rumah dan mitologi laut Selatan yang menyeramkan, akhirnya kolonialisme Belanda hanya mampu membangun pusat admistrasi mereka di Kota Besuki, Bondowoso dan Jember. Belanda tidak benar-benar merasa aman berada di Banyuwangi. Karena perlawanan rakyat Banyuwangi tidak pernah pupus.

Gandrung sebagai Perlawanan

Apa rahasia kekuatan rakyat Banyuwangi di zamannya? Salah satunya adalah tari Gandrung. Boleh jadi tari Gandrung lahir sebelum Islam sebagai syukuran dan pemujaan terhadap Dewi Sri, Dewi Padi, karena tanah Banyuwangi yang subur menjadi lumbung padi bagi daerah sekitarnya.

Namun dalam era Kolonial, tari Gandrung adalah media paling efektif mengumpulkan massa, dan tehnik telik sandi dan komunikasi antar komunitas untuk saling mengabarkan informasi perlawanan. Tari Gandrung asalnya adalah tari keliling dari desa ke desa,  yang isinya informasi perjuangan dengan menyaru sebagai tarian kesenian. Tapi sebenarnya pemusik, penari dan rombongan tari itu sedang mengumpulkan massa untuk melakukan perlawanan. Pemusik yang damai dan penari yang gemulai dan lincah mampu menyamarkan tujuan perlawanan mereka di hadapan pasukan penjajah.

Pergeseran Budaya

Pergeseran budaya ini hal yang biasa, apabila ada perubahan sosial dan politik. Thawaf sebelum Islam digunakan sebagai penyelewengan atas pemujaan terhadap berhala-berhala di sekitar Ka’bah dan tidak sedikit yang melakukannya sambil telanjang, baik pria dan wanita.

Namun setelah Islam datang, thawaf tidak dilarang, bahkan diakui sebagai ibadah haji dengan mengikuti tradisi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan memakai pakaian ihram dan dilarang telanjang.

Gandrung sebagai Ikon Wisata dan Ekonomi

Demikian pula dengan seni Gandrung yang terus mengalami pergeseran, dari syukuran dan pemujaan terhadap Dewi Sri, menjadi media perlawanan terhadap Kolonialisme, kemudian menjadi identitas budaya yang merekam ingatan perlawanan itu. Kini menjadi media promosi wisata untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Banyuwangi dan membawa nama Gandrung Banyuwangi ke dunia internasional.

Apalagi dalam Festival Tahunan Gandrung Sewu tahun ini, Pemerintah Daerah Banyuwangi mengambil tema “Layar Kumendung” yang merupakan epos heroisme Bupati Banyuwangi Raden Mas Alit dalam menentang pendudukan VOC Belanda.

Meski Raden Mas Alit harus gugur dalam sebuah ekspedisi pelayaran (Layar) hingga menyebabkan kesedihan (Kumendung) bagi rakyat Banyuwangi.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, MY Bramuda (18/10/2018) Pertunjukan ini akan melibatkan sebanyak 1173 penari, 64 penampil fragmen, dan 65 pemusik.

“Selama ini Festival Gandrung Sewu telah disambut antusias oleh wisatawan. Dan ini berdampak positif ke ekonomi lokal, ada ribuan warga yang menerima berkah ekonominya, mulai warung, jasa transportasi, restoran, homestay, hotel, sampai UMKM produsen oleh-oleh,” tambahnya.

Dengan Festival Gandrung ini, Banyuwangi akan semakin “digandrungi” oleh penikmat seni, musik dan budaya dari seluruh dunia. Inilah berkah bagi kota dan rakyat Banyuwangi.

Festival Santri

Dan yang menarik, Banyuwangi tidak hanya menggelar festival Gandrung, tapi juga Festival Santri yang akan digelar 22 Oktober 2018 di Taman Blambangan sebagai bagian dari Perayaan Hari Santri Nasional 2018.

Festival Gandrung, Festival Santri dan festival-festival lainnya di Banyuwangi yang meliputi festival seni, musik, kuliner, olah raga, sastra dan lain sebagainya yang bisa dicek di akun IG banyuwangi_kab akan membuat Banyuwangi semakin “digandrungi” “digila-gilai” “kasmaran” dan menebarkan kasih sayang dan cinta.

Banyuwangi adalah Kota Gandrung, yang artinya kota penuh kasih sayang dan cinta, sekaligus membuat yang datang ke sana akan selalu terkenang, terbayang-bayang dan penuh kasmaran karena keindahan alam banyuwangi, pesona budayanya dan keramahan warga Banyuwangi.

Selamat untuk Festival Gandrung Sewu Banyuwangi!

Mohamad Guntur Romli
Juru Bicara PSI dan Tim Kampanye Nasional Jokowi KH Ma’ruf Amin