Hoax adalah cara Iblis melawan Tuhan. Iblis pun memperdaya Adam dan Hawa dengan Hoax, akan kehidupan abadi. Akhirnya keduanya jatuh. Tuhan menganugerahi kita akal dan Wahyu sebagai kebenaran agar tidak terjatuh oleh hoax. Jadi barang siapa yg menggunakan hoax maka berarti ia berada di barisan iblis dan mengingkari kenikmatan Tuhan akan akal pikiran dan Wahyu.

Hoax adalah penyalahgunaan kenikmatan kebebasan informasi. Kita hidup di mana informasi sangat penting. Ada yg bilang “Siapa yg menguasai informasi maka akan menguasai dunia”. Dalam konteks demokrasi, kebebasan informasi adalah pilar ke-4, setelah legislatif, yudikatif dan eksekutif, kemudian kebebasan pers dan informasi. Kemudian muncul pilar ke-5 dari demokrasi, yakni media sosial.

Tapi media sosial ibarat pisau bermata ganda, bisa positif bisa negatif. Arab Spring di dunia Arab yg mampu menggantikan sebuah rezim dari media sosial. Tahun 2011 seorang demonstran yg membakar dirinya menjadi viral dari status FB di Tunisia, yg kemudian meruntuhkan sebuah rejim setelah berkuasa puluhan tahun, yg telah menyita lembaga legislatif, eksekutif, yudikatif dan media massa. Maka, media sosial menjadi penyalur demokrasi yg bebas. Musim Semi Arab tersebar melalui media sosial.

Tapi, kekacauan di Suriah dan berdirinya ISIS juga memanfaatkan media sosial. Maka dari itu, mari kita syukuri kenikmatan kebebasan informasi ini dengan membawanya ke hal positif.

Mohamad Guntur Romli

View this post on Instagram

Hoax adalah cara Iblis melawan Tuhan. Iblis pun memperdaya Adam dan Hawa dengan Hoax, akan kehidupan abadi. Akhirnya keduanya jatuh. Tuhan menganugerahi kita akal dan Wahyu sebagai kebenaran agar tidak terjatuh oleh hoax. Jadi barang siapa yg menggunakan hoax maka berarti ia berada di barisan iblis dan mengingkari kenikmatan Tuhan akan akal pikiran dan Wahyu. Hoax adalah penyalahgunaan kenikmatan kebebasan informasi. Kita hidup di mana informasi sangat penting. Ada yg bilang "Siapa yg menguasai informasi maka akan menguasai dunia". Dalam konteks demokrasi, kebebasan informasi adalah pilar ke-4, setelah legislatif, yudikatif dan eksekutif, kemudian kebebasan pers dan informasi. Kemudian muncul pilar ke-5 dari demokrasi, yakni media sosial. Tapi media sosial ibarat pisau bermata ganda, bisa positif bisa negatif. Arab Spring di dunia Arab yg mampu menggantikan sebuah rezim dari media sosial. Tahun 2011 seorang demonstran yg membakar dirinya menjadi viral dari status FB di Tunisia, yg kemudian meruntuhkan sebuah rejim setelah berkuasa puluhan tahun, yg telah menyita lembaga legislatif, eksekutif, yudikatif dan media massa. Maka, media sosial menjadi penyalur demokrasi yg bebas. Musim Semi Arab tersebar melalui media sosial. Tapi, kekacauan di Suriah dan berdirinya ISIS juga memanfaatkan media sosial. Maka dari itu, mari kita syukuri kenikmatan kebebasan informasi ini dengan membawanya ke hal positif. #matanajwa #Jokow1Am1n #HMGunturRomli #psinomor11

A post shared by Mohamad Guntur Romli (@gunromli) on