Melarang Selametan Laut Adalah Agenda Kelompok Radikal

Salah satu perbedaan metode dakwah antara kaum moderat dan kaum radikal yang paling nyata sangat tampak pada penyikapan terhadap budaya setempat.

Kaum radikal ingin mengubah secara frontal, perubahan hingga ke akar. Radikal berasal dari bahasa Latin “radix, radicis” yang artinya akar. Alih-alih sukses melakukan perubahan, karena langsung mencabut dan memaksa terbongkarnya akar-akar, justeru radikalisme menimbulkan masalah baru yang lebih serius: konflik dan kekerasan.

Asumsi yang umum di kalangan radikal adalah: tidak bisa membedakan antara budaya Islam dan budaya Arab. Akhirnya mereka mempunyai dua sikap yang ekstrim. Pertama: menyamakan budaya Arab sama dengan budaya Islam. Kedua, budaya non Arab harus diubah sampai ke akar-akarnya.

Radikalisme adalah cara pandang baru, bukan orisinil, meskipun mereka sering menyebut kelompoknya sebagai “Salafi” (yang mengaku mengikuti generasi terdahulu).

Radikalisme ala Salafi Wahabi lebih terkait dengan metode kekerasan yang dilakukan oleh aliansi politik Dinasti Saudi dan Wahabi pada masa awal abad ke-20. Mereka melakukan perubahan yang radikal dan sukses, karena menggunakan senjata!

Namun, metode ini tidak cocok dengan sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Dengan alasan. Pertama: sejarah masuknya Islam di Nusantara tidak dengan senjata, tapi dengan cara yang damai, dialog, perdagangan, pernikahan dan akulturasi budaya. Dengan menjauhi cara konfrontasi, metode dakwah Islam justeru sukses di Nusantara.

Kedua, perlu membedakan antara budaya Arab dan budaya Islam. Kekuatan ajaran Islam terletak pada nilai-nilai kebaikan dan keluhuran serta keluwesannya yang bisa ditanam di bumi-bumi yang berbeda. Artinya menjadi orang Islam tidak harus menjadi seperti dan sama persis dengan orang Arab.

Ketiga, dalam menyikapi budaya lokal tidak langsung menghakimi budaya-budaya lokal itu bertentangan dengan Islam dengan tuduhan: syirik, bid’ah, kafir. Karena banyak budaya lokal yang menampilkan kearifan lokal yang sesuai dengan syariat Islam, maka sikap di sini adalah mengadopsinya. Sesuai dengan kaidah ushul fiqih: al-aadah muhakkamah: adat bisa menjadi sumber hukum.

Tapi bila bertentangan ada tiga sikap: (a) toleran/tasamuh (membiarkan dan menghormati asal budaya itu tidak mengganggu dakwah Islam).

(b) membentuk “budaya dan wacana tandingan” (subkultur) dalam masyarakat. Contoh di sini adalah pesantren yang Gus Dur sebut sebagai “subkultur” untuk menandingi masyarakat tidak islami di zamannya. Dari pesantren berkembang menjadi desa dan makin meluas pengaruhnya.

(c) melakukan perubahan secara bertahap, mengubah isinya dan menjauhi kekerasan.

Cara ketiga ini yang umum dilakukan dalam Selametan Laut. Awalnya bisa saja budaya ini bentuk pemujaan terhadap Dewa Laut dan Nyi Roro Kidul, namun setelah masyarakat di kawasan itu memeluk Islam, isi selamatan lebih baik banyak diisi khataman Quran, zikir dan doa-doa sebagai ajaran Islam.

Dengan cara ini, proses islamisasi sebenarnya sudah berhasil. Yang diubah adalah isinya dengan mempertahankan wadahnya.

Ibarat ingin mengubah tradisi minum arak, ciu dll kita tidak perlu memecahkan cangkir dan gelasnya, tapi cukup mengganti isi ciu dan arak dengan kopi, teh, jus dll.

Dengan cara pandang dan sikap yang moderat ini serta menjauhi cara-cara radikal, kita pun bisa menampilkan Islam sebagai ajaran yang benar-benar rahmatan lil alamin (Kasih sayang bagi alam semesta)

Mohamad Guntur Romli
Caleg dan Jubir PSI

#IslamRahmatanLilAlamin #IslamNusantara #GusDur #IslamAgamaToleran #TolakRadikalisme #KearifanLokal