Soal Radikalisme, Guntur Romli Ingatkan Ada Upaya Keji Menjadikan Indonesia Seperti Suriah di ILC tvOne

Negeri Ini Darurat Radikalisme

Studi P3M tentang “41 Masjid yg terpapar paham radikal” tidak mengejutkan. Karena banyak sekali temuan-temuan lembaga penelitian dan hasil survei yg menguatkan soal darurat radikalisme di negeri ini. Baik dari Alvara Research, PPIM UIN Jakarta, LIPI serta Wahid Foundation. Semua hasil penelitian itu dilakukan oleh lembaga independen atau juga lembaga swadaya masyarakat (LSM), Civil Society.

Maka, jangan diframing seolah-olah ini kerjaan Negara, Pemerintah, atau Depag, atau BIN yg ingin mengawasi ceramah di masjid-masjid. Ini benar2 hasil penelitian independen.

Intoleransi dan Korupsi Adalah Masalah Utama Negeri Ini

Ini yang juga sering disuarakan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Partai Solidaritas Indonesia. Masalah korupsi dan intoleransi bertemu di politisasi agama. Banyak sekali kasus-kasus korupsi yang menjadikan agama sebagai kedok untuk tindak korupsi. Parah sekali korupsi di negeri kita. Kitab Suci Al-Quran dikorupsi. Monumen/Tugu Anti Korupsi dikorupsi. Juz & liqo’ dijadikan kode terima suap oleh politisi yg gemar politisasi agama.

Mengapa Orang Menjadi Radikal? Banyak yg bilang karena kemiskinan dan pendidikan yg rendah. Salah besar! Seseorang menjadi radikal menurut penelitian Wahid Foundation yg pernah disampaikan Mbak Yenny Wahid.

Pertama orang yg merasa teralienasi (terasing), karena merasa terancam (soal merasa terancam saya kutip dari hasil penelitian LIPI).

Kedua, Banyak mengkonsumsi pesan-pesan kebencian. Yg bisa datang dari media sosial, juga dari khutbah2, pengajian2 yg pesannya kebencian.

Tiga, pemahaman yg salah tentang jihad. Karena jihad dimaknai sebagai kekerasan pada non Islam.

Ada Upaya Keji Menjadikan Indonesia Seperti Suriah dengan Radikalisme. Ini Perbandingan Radikalisme Suriah dan Indonesia.

Di ILC tadi malam, saya tegaskan soal upaya keji ini, ingin menjadikan Indonesia seperti Suriah. Dengan melihat perbandingan antara radikalisme di Suriah dan Indonesia. Ada pola-pola yang sama. Saya mengutip testimoni dari M. Najih Arromadoni alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus, Suriah dan Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami).

Pertama. Politisasi agama. Dalam hal ini politisasi Islam. Dengan mengubah masjid yg awalnya adalah jantung ibadah umat Islam, menjadi jantung demonstrasi dan penggalangan massa. M. Najih membandingkan yang terjadi di Masjid Umawi Damaskus yg awal-awalnya dipakai demo menentang Presiden Bashar Assad dengan Masjid Istiqlal yang 2-1 tahun lalu dijadikan sebagai pusat demonstrasi di Jakarta.

Kedua. Menyerang Pemerintah yang sah. Kalau di Suriah ada Gerakan “Irhal Bashar Assad” (Pergi Presiden Bashar Assad!) Kalau di Indonesia ada gerakan Ganti Presiden. Kemudian Pemerintah yang sah diframing (dibingkai) dgn isu-isu keji. Bashar Assad dituduh Syiah, Jokowi dituduh PKI. Bashar Assad dituduh antek Iran dan Rusia, Jokowi dituduh antek China. Tujuannya adalah menghilangkan kepercayaan masyarakat pada Pemerintah yang sah.

Ketiga. Pembunuhan karakter terhadap ulama. Di Suriah ada Syaikh Muhammad Ramadhan al-Buthi dijelek-jelekkan sampai dibunuh. Di Indonesia ulama-ulama mumpuni difitnah. Prof Quraish Shihab dituduh Syiah. Kiai Said Aqil dituduh Syiah. Gus Mus dituduh liberal. Kiai Ma’ruf Amin dituduh penjilat. Ini pembunuhan karakter terhadap ulama untuk memisahkan umat Islam dari ulama. Inj delegitimasi keji terhadap ulama, agar umat jauh dari ulama-ulama yang benar. Supaya “ulama jadi-jadian” mereka bisa ambil alih.

Keempat. Meruntuhkan sistem pemerintahan dan negara dengan menggantinya dengan khilafah. Di negeri ini juga muncul gerakan-gerakan pro Khilafah dgn membawa-bawa klaim “bendera tauhid”.

Ini upaya-upaya menjadikan Indonesia seperti Suriah. Yang harus kita cegah.

Bagaimana Proses Perjalanan Paham Radikalisme Menjadi Aksi Radikal?

Pertama, dimulai dari wacana kebencian dan pemahaman Islam (agama) yg salah. Misal, jihad hanya dipahami sebagai kekerasan saja dan untuk menyerang non Islam. Ini wacana kebencian yg identik dgn pemahaman Islam yg salah. Wacana kebencian & pemahaman yg salah ini bisa didapat dari media sosial, khutbah-khutbah, pengajian-pengajian, ceramah-ceramah yg berisi konten ini. Kalau sekarang ngomong masjid itu kan hanya salah satu media saja.

Kedua, ada kebijakan diskriminatif. Yg menjadi dalih persekusi kelompok2 garis keras untuk mempersekusi kelompok2 lain yg berbeda. Perda berbasis agama tertentu baik Perda Syariah dan Perda Injil masuk dalam kategori ini, juga kebijakan2 diskriminatif lainnya.

Ketiga, adanya aktor-aktor dan jaringan-jaringan yg menggerakkan dan menjalankan wacana kebencian dan kebijakan diskriminatif itu. Juga ada pendanaannya. Kelompok radikal pro khilafah di Indonesia memiliki jaringan internasional, baik dari sisi jaringan organisasi dan pendanaan. Demikian pula jaringan terorisme. Kalau dulu JI ada hubungan dgn Al-Qaidah, kini ada jaringan dgn ISIS.

Keempat. Ada momen-momen tertentu yg memberi tempat dan waktu yg tepat untuk wacana kebencian dan aksi radikal itu hadir di ruang dan opini publik. Dapat perhatian, simpati hingga dukungan. Misalnya di momen politik, kalau wacana & aksi radikal diadopsi sebagai program dan kampanye politik. Juga momen konflik, di mana jihad dlm arti kekerasan mendapat tempat & simpati.

Bagaimana Cara Menangkal Radikalisme?

Pertama, penguatan Pancasila sebagai kalimatun sawa’ (titik temu) dari semua perbedaan & kebhinnekaan. Dalam beberapa hasil survei opini publik, Pancasila masih diterima oleh seluruh warga negara Indonesia. Pancasila adalah Tunggal dalam kebhinnekaan berbangsa & bernegara. Sikap ulama juga nyata membela terhadap Pancasila, seperti dawuh KHR As’ad Syamsul Arifin Pahlawan Nasional dari Sukorejo Situbondo yg mengatakan umat Islam wajib membela Pancasila. Pembelaan thdp agama bangsa negeri adalah satu tarikan nafas bagi seorang muslim. (Bela agama bangsa negeri… mars Ansor NU). Hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Kedua, menjadikan agama-agama sebagai spirit perdamaian dan menerima perbedaan. Dalam Islam dikenal istilah Islam rahmatan Lil alamin. Islam adalah agama salam (damai) Dalam kekristenan ada cinta kasih, welas asih. Demikian pula dgn agama-agama yg lain.

Ketiga, elit-elit politik lebih fokus melayani dan peduli pada rakyat. Berhentikan mempolitisir isu agama. Apalagi memanfaatkan agenda, propaganda & kelompok radikal sebagai alat politik. Elit politik dengarlah seruan Pak @jokowi : kerja, kerja, kerja!

Mohamad Guntur Romli

Video full di ILC tvOne