Bisakah Poligami Dilarang?

Apakah poligami bisa dilarang? Bagi yang pro poligami, jawabnya pasti tidak. Demikian pula bagi pihak yang mensyaratkan poligami dengan ketat akan menjawab juga tidak bisa, misalnya pendapat Prof. Quraish Shihab.

Bagi yang pro poligami menyebut hukum poligami itu sunnah (anjuran), bahkan dikaitkan dengan “kunci surga” sebagai iming-iming bagi wanita agar mau dipoligami.

Sementara bagi kalangan yang moderat seperti Prof Quraish hukum poligami dianggap mubah (halal) meskipun dengan syarat-syarat  yang tak mudah. Oleh karenanya tidak boleh mengubah hukum yang halal menjadi haram demikian juga sebaliknya.

Saya ingin mengajak anda mencermati lebih jauh hukum poligami dari soal label hukum: sunnah dan mubah saja kepada praktik pelarangan Nabi Muhammad Saw terhadap Ali bin Abi Thalib yang akan mem-poligami, putri terkasihnya: Sayyidah Fathimah, maka kita bisa mengambil beberapa kesimpulan:

(Baca: Larangan Poligami dalam Kehidupan Putri-putri Nabi Muhammad Saw)

Pertama, bahwa dengan melarang Sayyidah Fathimah dipoligami bukan berarti Nabi Muhammad Saw ingin mengubah hukum yang halal menjadi haram. Sayyidah Fathimah dilarang dimadu karena akan menyakiti hatinya, pun Nabi Muhammad Saw sebagai ayah dari Sayyidah Fathimah tidak suka memiliki besan yang bekas musuhnya yakni Abu Jahal.

أني لست أحرم حلالا ، ولا أحل حراما ، لكن والله لا تجتمع بنت رسول الله وبنت عدو الله مكانا واحدا أبدا

Sungguh aku tidak mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, tapi Demi Allah tidak akan berkumpul putri Rasul Allah dengan putri musuh Allah dalam satu tempat selamanya (HR Muslim).

Kedua, dalam kasus poligami Nabi Muhammad Saw ingin menekankan suara perempuan, yakni istri yang akan dipoligami. Selama ini yang selalu banyak berbicara, berdalih dan menentukan standar keadilan selalu pihak laki-laki: suami. Maka, apabila istri tidak terima dan sakit hati, poligami tidak bisa diteruskan.

Bagi hemat saya, hal ihwal yang bisa menyakiti hati Sayyidah Fathimah adalah sebenar-benarnya alasan Nabi Muhammad Saw menolak keras rencana poligami Ali.

Kalau poligami adalah keharusan atau hukumnya sunnah misalnya, maka tidak ada alasan bagi Nabi Muhammad Saw untuk menolak rencana poligami itu. Karena dalam hadits yang lain, beliau bersabda “Andai Fathimah mencuri maka akan aku potong tangannya”. Hadits ini menunjukkan hukum tidak pandang orang. Dengan penolakan Sayyidah Fathimah dan dukungan Rasulullah Saw maka menolak poligami tidak berarti menolak hukum Allah Saw.

Sedangkan sabda Nabi Muhammad Saw bahwa ia tidak rela memiliki besan musuh Allah yakni Abu Jahal menurut saya merupakan “alasan pribadi” yang mungkin saja “dibuat-buat” yang tujuannya untuk mendukung alasan utama Sayyidah Fathimah.

Bukankah saat peristiwa Ali bin Abi Thalib mau poligami, Abu Jahal sudah tewas dalam Perang Badar dan putrinya: Juwairiyah yang akan dipoligami Ali sudah masuk Islam?

Dalam kasus rumah tangga Ali dan Fathimah pelarangan poligami terjadi karena sang istrinya tidak rela dan walinya mendukung keputusan putrinya itu seperti kasus Sayyidah Fathimah dan Nabi Muhammad Saw maka poligami itu tidak bisa dipaksakan. Dalam paparan ini kita bisa ambil kesimpulan: poligami bisa dilarang dengan alasan pelarangan Nabi Muhammad Saw tersebut tanpa mengubah hukum asalnya.

Poligami sebagai “Emergency Exit”?

Prof. Quraish Shihab memberikan tamsil yang menarik soal poligami yang menurutnya seperti pintu darurat di pesawat. Ini artinya tetap harus ada, meskipun hanya bisa dibuka dalam keadaan “emergency”.

Pertanyaan yang patut dikemukakan selanjutnya adalah apa kriteria darurat itu dan siapa yang menyatakan ihwal darurat dalam kasus poligami?

Dalih Poligami: Istri Mandul, Sakit dan Setuju 

Sering disebutkan darurat dalam poligami misalnya kalau istri mandul dan pasangan ini menginginkan seorang anak, pertanyaannya kalau suami mengambil istri lain dan benar memiliki anak, bagaimana perasaan istri yang pertama?

Bukankah kita bisa belajar dari kisah pernikahan Nabi Ibrahim, Sarah dan Hajar. Sebelumnya Sarah memperbolehkan Nabi Ibrahim mengambil istri baru: Hajar, namun setelah Hajar melahirkan Ismail muncul kecemburuan pada hati Sarah, yang berujung pada penyingkiran Hajar dan Ismail. Ini kisah yang sangat manusiawi.

Lantas kalau suaminya yang mandul bagaimana? Dalam kasus ini mengapa selalu poligami yang dijadikan solusi, bukan misalnya adopsi anak atau teknologi kedokteran yang saat ini sudah canggih.

Pengandaian yang lain misalnya kalau istri sakit parah tidak bisa menjalankan yang disebutkan kewajiban istri. Suami macam apa yang tega istrinya sedang sakit parah, justeru ia memutuskan untuk menikah dengan perempuan lain?

Nabi Muhammad Saw saja meminta Utsman tetap tinggal di Madinah menjaga istrinya yang sakit parah dan memberikannya dispensasi tidak ikut perang Badar.

Alasan lain, poligami boleh asal istri pertama setuju. Berapa banyak kalangan istri yang mau dipoligami? Kalau hanya satu, dua orang maka tidak bisa mewakili kalangan istri. Dan kalau pun istri pertama mau, bagaimana dengan anak-anak yang lahir nantinya? Bagaimana menjamin kondisi mental anak-anak yang lahir dalam keluarga poligami?

Kasus lain yang sering disebut: peperangan, banyak laki-laki yang gugur meninggalkan tanggungan: istri dan anak-anak yatim. Benarkah untuk melindungi dan menyantuni keluarga perang harus dengan poligami? Dan darimana pula kesimpulan bahwa janda-janda yang suaminya gugur dalam peperangan mau dinikahi oleh laki-laki yang sudah beristri?

Batasan-batasan Poligami sebagai  “Emergency Exit”

Kembali ke tamsil “pintu darurat” dalam pesawat yang diajukan oleh Prof Quraish Shihab yang bisa melahirkan dua  pemahaman: “boleh dibuka asal dalam keadaan darurat” atau “tidak boleh dibuka kecuali dalam keadaan darurat”? Dua pemahaman ini sebenarnya mirip namun berbeda pada penekanan, antara kata “boleh dibuka” dan “tidak boleh dibuka”, yang semua berujung pada alasan yang sama: hal darurat.

Pemahaman yang pertama diambil oleh Quraish Shihab yang tetap memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat yang ketat sembari menolak pandangan yang akan melarang poligami. Namun sebenarnya kalau membaca peraturan di pintu darurat itu dasarnya adalah “tidak boleh dibuka kecuali dalam keadaan darurat”. Jika mau menggunakan tamsil pintu darurat maka sebenarnya dasarnya “tidak boleh” kecuali atas alasan-alasan darurat.

Alasan-alasan ini tidak bisa ditetapkan oleh penumpang (atau laki-laki yang mau poligami), tapi oleh aturan-aturan yang sudah berlaku dan keputusan kapten pilot. Karena penumpang yang membuka “emergency exit” tanpa alasan darurat bisa ditangkap!

Namun tamsil pintu darurat pun sebenarnya tidak tepat, karena saya mencermati belum menemukan (dan mungkin tidak akan) alasan-alasan darurat yang bisa memperbolehkan poligami.

Kalau kita kembali ke konteks Al-Quran saat turun kita akan mudah menjumpai tradisi poligami, yang bahkan tanpa batas. Tradisi ini bukanlah khas masyarakat Arab. Masyarakat-masyarakat di belahan dunia lain saat itu pun sangat umum dikenal tradisi poligami, apalagi di kalangan aristokrat dan orang-orang kaya.

Diriwayatkan seorang sahabat Nabi Muhammad Saw bernama Ghilan bin Salamah memiliki belasan istri, saat ayat 3 surat Al-Nisâ turun maka Nabi Muhammad Saw memerintahkannya membatasi 4 istri saja. Maka, fungsi ayat ini justeru membatasi poligami.

Prediksi Buruk Al-Quran Atas Poligami

Hal yang patut dicermati juga adalah redaksi ayat Al-Quran menggunakan “jika kamu takut tidak bisa berbuat adil, maka cukup seorang istri saja”. Takut di sini jangan diartikan bahwa orang yang tidak poligami adalah orang yang takut, dan yang berpoligami adalah orang yang berani (yang selama ini menjadi dalih orang berpoligami mengejek orang yang tidak mau poligami).

Takut di sini mengajak orang yang berniat berpoligami untuk memikirkan pertimbangan-pertimbangan negatif nantinya. Mengajak untuk memikirkan dampak-dampak buruknya.

Sebenarnya dalam kasus poligami Al-Quran mengajak kita untuk lebih memikirkan dan menjadikan pertimbangan dampak-dampak buruk dari poligami, bukan memikirkan yang sering dianggap enak-enak saja.

Maka sangat jelas, Al-Quran justeru memihak pada pernikahan monogami, dan mengajak kita berpikir buruk dan yang menakutkan dari pernikahan poligami.

Kesimpulannya: pertimbangan dan dampak buruk ini bisa menjadi alasan untuk mencegah poligami, misalnya menyakiti istri seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

Bagaimana Bagi Orang yang Sudah “Terlanjur” Berpoligami?

Sedangkan aturan bagi yang sudah berpoligami saat itu yang jumlahnya tidak terbatas, Al-Quran membatasinya hanya empat istri saja. Pesan utama ini jelas sekali: ayat poligami justeru membatasi jumlah poligami.

Dan dalam ayat lain, Al-Quran menunjukkan bahwa pertimbangan buruk yang perlu didahulukan dalam kasus poligami, misalnya tidak bisanya adil dalam poligami, hal ini dijawab sendiri oleh Al-Quran dalam ayat 129 surat Al-Nisâ:

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ

Dan kamu sekali-kali tidak akan berlaku adil di antara istri-istri kamu walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian karena itu kamu jangan terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung

Respon Al-Quran terhadap poligami: berpikir buruk tentang poligami, jumlah istri dalam poligami yang sudah dibatasi, juga melalui ayat barusan: tidak boleh menelantarkan istri dengan alasan hati lebih condong pada istri yang dikasihi.

Maka ayat ini, An-Nisa’ 129, lebih ditujukan pada orang yang sudah terlajur berpoligami, bukan untuk kasus orang yang akan poligami.

Bagi orang yang berniat poligami rujukannya adalah ayat 3 surat Al-Nisâ yang diajak untuk memikirkan dampak-dampak buruknya, sehingga poligami dianggap menakutkan (fa in khiftum) atau ia bisa menjadikan ayat 129 ini sebagai cermin yang memantulkan kehidupan poligami bahwa keadilan yang dituntut (prinsip seadil-adilnya) tidak pernah bisa diusahakan. Ayat 129 ini seperti “menghibur” para laki-laki yang berpoligami yang tampak menyerah setelah berusaha seadil-adilnya pada istri-istrinya ternyata tidak bisa. Juga ayat 129 ini tidak bisa dilepaskan dari ayat sebelumnya 128 yang berbicara soal nusyuz dan konflik dalam keluarga yang salah satu penyebabnya adalah poligami.

Syaikh Muhammad Abduh dan Larangan Poligami

Lantas apakah bisa mencegah dan mengunci poligami? Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905) Mufti Mesir pada awal abad ke-20, pernah mencegah dan membatalkan tradisi poligami dan memberikan fatwa pada hakim agama (qâdlî) untuk melarang poligami dengan mengajukan beberapa alasan.

Pertama, soal pembatasan: Islam telah mereformasi tradisi poligami ini dengan membatasinya sampai empat saja, setelah sebelumnya tidak ada pembatasan. Dan poin yang paling penting lagi, menjadikan keadilan sebagai syarat mutlak dalam dari poligami.

Kedua tujuan poligami saat itu menghindar kezaliman lain yang lebih berat. Ketika zaman itu Islam memperbolehkan poligami bertujuan menghindari dari bentuk kezaliman yang lebih parah. Dalam tradisi Arab, mereka terbiasa menikahi anak-anak perempuan yatim berharta untuk menikmati hartanya. Agar tidak menzalimi anak-anak yatim dengan modus menikahnya hanya untuk menguasai harta mereka, maka poligami dijadikan “jalan keluar” selain “budak-budak perempuan” yang mereka miliki.

Oleh karena itu dalam fatwanya Syaikh Abduh memperbolehkan pelarangan tradisi poligami ini, dengan tiga alasan.

Pertama, berlaku adil merupakan syarat dari poligami, dan syarat ini tidak pernah terjadi seperti Allah berfirman dalam QS Al-Nisâ (4): 129. Jikapun ternyata ada seorang yang bisa berbuat adil, mungkin satu dari sejuta, dan realita ini tidak bisa dijadikan kaedah umum.

Kedua, saat itu, suami berbuat tidak baik terhadap istrinya karena berpoligami, seperti tidak memberi nafkah, dan bertindak sewenang-wenang. Maka, hakim agama (qâdlî) berhak melarang tradisi ini untuk menghindar kerusakan dalam kehidupan keluarga.

Ketiga, timbul permusuhan dan perselisihan antara anak-anak yang berbeda ibu. Karena mereka dididik dalam suasana persaingan dan kebencian antara istri-istri. Setelah mempertimbangkan realita di atas, hakim-hakim agama berhak membatalkan tradisi ini untuk menjaga maslahat dan menghindar dari kerusakan.

Poligami Bisa Dilarang Seperti Pelarangan Perbudakan

Kasus lain yang bisa dijadikan kiasan melarang poligami adalah perbudakan. Di dalam Al-Quran tidak ada larangan memiliki budak dan teks yang jelas yang mengharamkan perbudakan manusia. Yang ada adalah anjuran memerdekakan budak dan menjadikannya sebagai tebusan/hukuman bagi pelanggaran. Misalnya membunuh orang tanpa disengaja, berhubungan seksual di siang hari Ramadhan hukumannya memerdekakan budak.

Apakah karena tidak ada larangan memiliki budak dan tidak ada pengharaman perbudakan manusia secara mutlak, masih kah ada dari umat Islam yang berdalih mendukung perbudakan manusia?

Jawabnya pasti tidak.

Bagaimana Proses Pelarangan Poligami?

Dengan mencermati ulasan di atas yang bersumber dari kehidupan putri-putri Nabi Muhamad Saw maka poligami bisa dilarang dengan tiga proses:

Pertama, dari pihak istri, yang tidak mau dipoligami. Ini yang diajukan oleh Sayyidah Fathimah binti Rasulillah Saw. Sosok mulia, ahlul bait yang sudah dijamin masuk surga. Putri terkasih Nabi Muhammad Saw. Adakah yang mau menuduh Sayyidah Fathimah karena tidak mau dipoligami maka menentang hukum Allah? Semoga Allah Swt mengampuni siapapun yang berani menuduh seperti itu, karena sikap Sayyidah Fathimah justeru didukung oleh ayahnya Rasulullah Saw.

Kedua, dari pihak wali/orang tua perempuan. Ini yang dilakukan oleh Nabi Muhamad Saw yang melindungi putrinya Sayyidah Fathimah dipoligami oleh Ali bin Abi Thalib.

Ketiga, dari pihak negara/yang punya kewenangan. Ini yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai seorang Rasul yang tujuannya bukan mengharamkan yang halal tapi karena ada sebab lain.

Dalam hal ini kita bisa memakai terminologi Ushul Fiqih yang membagi hukum menjadi 2 kategori: Taklifi dan Wadl’i, bahwa hukum taklifi poligami adalah mubah/halal, dan tidak bisa diharamkan, namun larangan Rasulullah Saw putrinya Fathimah dipoligami dengan menggunakan argumen hukum wadl’i, karena poligami menyakitkan dan putrinya Sayyidah Fathimah tidak mau dipoligami.

Dengan ini, hukum poligami tidak bisa diharamkan (tahrim), tapi praktik dan budayanya bisa dilarang/dicegah (man’u/yumna’u) dengan adanya sebab dan proses tadi.

Ini persis yang dilakukan Sunan Kudus saat melarang umat Islam menyembelih sapi untuk menghormati umat Hindu saat itu yang menganggap sapi makhluk suci. Namun Sunan Kudus tidak mengubah asal hukum daging sapi yang tetap mubah/halal bagi umat Islam.

Jadi, poligami itu tidak bisa diharamkan, tapi dia bisa dicegah dan dilarang.

Wallahu A’lam

Mohamad Guntur Romli