Membongkar Kebodohan dan Kebohongan Sandiaga Uno tentang Kisah Nabi Yusuf

Komentar saya tentang Sandiaga Uno yang saya sebut arogan karena merasa lebih hebat dari Nabi Yusuf Alaihis Salam menjadi viral. Ini sebagai respon saya terhadap pernyataan Sandi di bawah ini:

“Kalau Nabi Yusuf butuh waktu 7 tahun untuk mengatasi krisis. Insya Allah, saya dengan pak Prabowo cukup tiga tahun untuk memulihkan perekonomian Indonesia,” kata Sandiaga Uno saat menghadiri Dialog Ekonomi dan Entrepreuner di Surabaya, Selasa (4/12/2018) malam (detik.com).

Saya sebut arogan karena dalam pernyataan itu Sandi merasa hebat dari Nabi Yusuf yang katanya bisa menyelesaikan krisis dalam 7 tahun, tapi dia dengan Prabowo cukup 3 tahun saja.

Sebenarnya Sandi tidak hanya arogan, tapi juga gagal paham tentang kisah Nabi Yusuf. Dia menyebut Nabi Yusuf mampu mengatasi krisis selama 7 tahun. Padahal yang dilakukan oleh Nabi Yusuf dalam 7 tahun itu bukan mengatasi kritis, tapi mengantisipasi krisis yang baru terjadi 7 tahun setelahnya. Artinya, Nabi Yusuf membangun ketahanan pangan selama 7 tahun yang artinya dalam rentang waktu 7 tahun itu belum krisis, tapi setelah 7 tahun baru masuk masa krisis: paceklik, kekeringan, gagal panen, dll.

Untuk mengantisipasi krisis itu, selama 7 tahun Nabi Yusuf yang kemudian diangkat Menteri Urusan Pangan, menggenjot produksi pangan, membangun irigasi dan sistem cocok tanaman yang hasilnya melimpah, sekaligus membangun sistem penyimpanan dan penggudangan (Warehouse Management System/WMS) untuk mengantisipasi krisis setelah 7 tahun kemudian.

Inilah takwil Nabi Yusuf atas mimpi Raja Mesir saat itu yang diabadikan dalam Al-Quran:

Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering”. Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi”.

(QS Yusuf: 43).

Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.

Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.

(QS Yusuf 47-48).

Maka, kalau Sandiaga Uno membandingkan kondisi saat ini di Indonesia dengan kisah Nabi Yusuf terkait krisis–Sandi yang disebut santri oleh PKS dan sebulan kemudian disebut ulama–tidak memahami kisah Nabi Yusuf dan kondisi Indonesia saat ini.

Kalau mau jujur dengan perbandingan kisah Nabi Yusuf, harusnya Sandi mengakui kondisi saat ini adalah masa yang berhasil dan melimpah, di zaman Jokowi, seperti halnya masa-masa melimpah di era Nabi Yusuf di 7 tahun pertama.

Sedangkan soal krisis tidak lebih sebagai propaganda kebohongan Sandi, karena faktanya tidak ada krisis di negeri ini, khususnya krisis ekonomi dan kewirausahaan.

Sebaliknya ekonomi kita tumbuh dengan baik, inflasi rendah, rupiah semakin perkasa, APBN sehat, harga-harga sembako terjaga, dan Pak Jokowi sangat peduli pada UMKM dengan pelbagai bantuan modal dan kemudahan fasilitas lainnya.

Alih-alih Sandi mengutip kisah Nabi Yusuf dengan benar, justeru ia menampakkan kebodohannya, sekaligus kebohongannya soal krisis.

Mohamad Guntur Romli