Dua Syarat Pelayan Publik: Yang Mampu (Al-Qawiyyu) dan Terpercaya (Al-Amin)

Pemimpin sejatinya adalah pelayan. سيد القوم خادمهم–Pemimpin adalah pelayan rakyat. Ini kata pepatah Arab. Pemimpin bukan sosok yang otoriter, bukan pula sosok yang ‘semau gue’. Pemimpin yang punya kemampuan yang dibuktikan dari rekam jejak, bukan orang yang meragukan yang tak punya rekam jejak. Pemimpin yang bisa menjaga amanah bukan yang mengumbar amarah.

Pemimpin tak lebih dari orang ‘upahan’ yang sewajibnya melayani kita. Ada ayat Al-Quran yang bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk memilih kriteria pelayan bagi kita.

Dalam surat Al-Qashash ayat 26 disebutkan

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ (26)

“sesungguhnya orang yang paling baik engkau ambil sebagai pekerja adalah orang yang kuat (Al-Qawiy) dan orang yang dapat dipercaya (Al-Amin)”

Ucapan suci ini mengisahkan putri Nabiyallah Syuaib yang memberikan saran pada ayahnya agar mengambil sosok yang bisa mereka upah: orang dengan kriteria kuat, mampu dan bisa dipercaya. Pilihan jatuh pada seorang pemuda bernama Musa.

Al-Qawiyy arti harafiyahnya kuat, yang berarti mampu dan punya kompetensi. Sementara al-Amin berarti bisa dipercaya, punya integritas dan bisa menjaga amanah.

Ada plesetan yang masyhur, Jokowi kalau diucapkan dalam bahasa Arab ja-a qawiyy (datang orang kuat). Saya kira ini hanya gurauan saja. Sementara Al-Amin menang bisa merujuk ke nama Ma’ruf Amin.

Namun saya tak mau ikut cocokologi ini, alias gotak-gatuk. Dari rekam jejak dan kerja nyata, Jokowi adalah orang yang mampu dan punya kompetensi untuk melayani rakyat ini. Bersama KH Ma’ruf Amin dia pula punya integritas dan menjaga amanah, Jokowi bersih, keluarganya khususnya anak-anaknya tak hidup dari bisnis dari pemerintahan ini.

Jokowi dan KH Ma’ruf Amin adalah pasangan yang bisa dibaca dari perspektif Al-Qashash ayat 26 tadi: Al-Qawiyy dan Al-Amin.

Pasangan yang mampu dan bisa dipercaya.

Wallahul musta’an… 🙏

Mohamad Guntur Romli