Idham Azis, Calon Kapolri yang Bersahaja tapi Ditakuti Teroris dan Mafia Narkoba

Idham Azis, Calon Kapolri yang Bersahaja tapi Ditakuti Teroris dan Mafia Narkoba

Saat mengetahui dirinya ditunjuk sebagai satu-satunya calon Kapolri yang diajukan Presiden Joko Widodo, Komjen Pol Idham Azis membalas singkat, “Bismillah Tawakkaltu Alallahi”. Balasan ini berasal dari doa, yang umum diketahui ‘doa setiap keluar rumah’ yang artinya Dengan Nama Allah Aku Bertawakkal pada Allah. Doa ini berisi kekuatan sekaligus kepasrahan setiap insan yang keluar dari rumahnya akan berserah diri pada nasib yang sudah ditentukan Allah Swt. Langkah-langkahnya adalah doa memohon petunjuk dan perlindungan dari Allah Swt.

Nama Idham Azis mungkin terdengar angker di telinga para teroris. Keahliannya membongkar dan menggulung teroris, membuatnya menjadi salah legenda hidup dari pahlawan pemberantasan terorisme di Indonesia, Idham Azis bersama nama-nama lain seperti Gories Mere, Ansyaad Mbai, M Syafii, Tito Karnavian, Rycko Amelza Dahniel, Petrus Golose dan lain-lainnya.

Kasus-kasus besar terorisme berhasil dibongkar oleh Idham Azis–yang tentu saja bersama tandemnya: Tito Karnavian–dari kasus Bom Bali II, kemudian menggulung buronan teroris kelas wahid dunia: Doktor Azahari yang berhasil dibekuk di Batu Malang hingga Kasus Mutilasi Siswi di Poso yang pelakunya berasal dari jaringan terorisme. Idham Azis pun diangkat sebagai Kapolda Sulawesi Tengah pada tahun 2014 yang kian mempersempit gerak jaringan teroris di sana.

Puncaknya pada Operasi Camar Maleo (2015) yang dilanjutkan Operasi Tinombala (2016), operasi bersama TNI untuk menangkap kelompok teroris Santoso di wilayah pegunungan Poso, Sulawesi Tengah.

Idham Azis tak hanya dikenal piawai memberantas terorisme, kejahatan luar bisa lainnya seperti kriminal kekerasan pada anak dan narkoba berhasil diungkapnya.

Saat Idham Azis menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, ia berhasil mengungkap pelaku kasus pembunuhan dan sodomi 14 anak jalanan yang dibekuk pada 9 Januari 2010.

Demikian pula waktu Idham Azis menjadi Kapolda Metro Jaya, ia membongkar kasus penyeludupan narkotika jenis ganja seberat 1,3 ton dari Aceh ke Jakarta dan penyelundupan satu ton sabu-sabu 1,6 ton dari Taiwan di Anyer, Banten.

Idham juga dinilai berhasil menjaga situasi keamanan dan ketertiban saat Jakarta sebagai tuan rumah perhelatan Asian Games dan Para Games 2018.

Atas prestasi yang gemilang ini, Idham Azis diangkat menjadi Kabareskrim Mabes Polri pada awal tahun 2019.

Dan pada 23 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo mencalonkan Komjen Pol Drs Idham Azis, M.Si sebagai Kapolri untuk menggantikan Jend Pol (Purn) Prof. Drs. H. Tito Karnavian, MA, PhD. yang pensiun diri karena ditunjuk sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dalam Kabinet Indonesia Maju, Joko Widodo KH Ma’ruf Amin 2019-2024.

Sinergi TNI dan Polri

Idham Azis tak hanya dikenal memiliki prestasi sebagai jenderal polisi, tapi juga mampu membangun jembatan dan kerjasama dengan TNI. Hal ini diakui oleh Kepala Staff Umum (Kasum) TNI, Letjend Joni Suprianto.

“Pemilihan Pak Idham sebagai Kapolri akan membuat sinergi TNI/Polri semakin kuat. Apalagi saya dan beliau pernah bekerja bersama dalam pengamanan wilayah Jakarta,” kata Kepala Staff Umum (Kasum) TNI, Letjend Joni Suprianto.

Kedua tokoh dari TNI dan Polri ini diketahui pernah bekerja sama itu terjadi ketika Joni Suprianto menjabat sebagai Pangdam Jaya dan Idham Azis sebagai Kapolda Metro Jaya. Mereka bahu-membahu dalam mengamankan wilayah Jakarta. Terbukti kerjasama tersebut membuahkan hasil yang baik, di mana wilayah Jakarta kondusif saat Perhelatan Asian Games dan Asian Para Games 2018.

Maka pertanyaan yang sering muncul bagaimana hubungan antara Polri dan TNI di tangan Idham Azis sudah terjawab. Polri dan TNI akan bersinergi makin kuat demi menjaga ketertiban, keamanan dan kedaulatan negeri ini.

Sosok Bersahaja: Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Meskipun punya segudang prestasi, Idham Azis dikenal sosok yang bersahaja, sederhana dan rendah hati. Idham Azis bukan sosok yang suka menonjolkan diri, apalagi pamer diri. Justeru dia tidak menyukai publikasi.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengutip ujaran bijak Jawa yang juga disebutkan oleh Kasum TNI Letjend Joni Suprianto bahwa Idham Azis adalah sosok yang ‘sepi ing pamrih rame ing gawe’ (pekerja keras tapi tidak berharap pamrih dan pujian).

Untuk Pak Idham Azis, Selamat Bertugas Jenderal! Semoga Allah Swt memberikan pertunjukan dan perlindungan di setiap langkah dan kebijakan di masa datang.

Mohamad Guntur Romli

Saat mengetahui dirinya ditunjuk sebagai satu-satunya calon Kapolri yang diajukan Presiden Joko Widodo, Komjen Pol Idham Aziz membalas singkat, “Bismillah Tawakkaltu Alallahi”. Balasan ini berasal dari doa, yang umum diketahui ‘doa setiap keluar rumah’ yang artinya Dengan Nama Allah Aku Bertawakkal pada Allah. Doa ini berisi kekuatan sekaligus kepasrahan setiap insan yang keluar dari rumahnya akan berserah diri pada nasib yang sudah ditentukan Allah Swt. Langkah-langkahnya adalah doa memohon petunjuk dan perlindungan dari Allah Swt.

Nama Idham Aziz mungkin terdengar angker di telinga para teroris. Keahliannya membongkar dan menggulung teroris, membuatnya menjadi salah legenda hidup dari pahlawan pemberantasan terorisme di Indonesia, Idham Aziz bersama nama-nama lain seperti Gories Mere, Ansyaad Mbai, M Syafii, Tito Karnavian, Rycko Amelza Dahniel, Petrus Golose dan lain-lainnya.

Kasus-kasus besar terorisme berhasil dibongkar oleh Idham Aziz–yang tentu saja bersama tandemnya: Tito Karnavian–dari kasus Bom Bali II, kemudian menggulung buronan teroris kelas wahid dunia: Doktor Azahari yang berhasil dibekuk di Batu Malang hingga Kasus Mutilasi Siswi di Poso yang pelakunya berasal dari jaringan terorisme. Idham Aziz pun diangkat sebagai Kapolda Sulawesi Tengah pada tahun 2014 yang kian mempersempit gerak jaringan teroris di sana.

Puncaknya pada Operasi Camar Maleo (2015) yang dilanjutkan Operasi Tinombala (2016), operasi bersama TNI untuk menangkap kelompok teroris Santoso di wilayah pegunungan Poso, Sulawesi Tengah.

Idham Aziz tak hanya dikenal piawai memberantas terorisme, kejahatan luar bisa lainnya seperti kriminal kekerasan pada anak dan narkoba berhasil diungkapnya.

Saat Idham Aziz menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, ia berhasil mengungkap pelaku kasus pembunuhan dan sodomi 14 anak jalanan yang dibekuk pada 9 Januari 2010.

Demikian pula waktu Idham Aziz menjadi Kapolda Metro Jaya, ia membongkar kasus penyeludupan narkotika jenis ganja seberat 1,3 ton dari Aceh ke Jakarta dan penyelundupan satu ton sabu-sabu 1,6 ton dari Taiwan di Anyer, Banten.

Idham juga dinilai berhasil menjaga situasi keamanan dan ketertiban saat Jakarta sebagai tuan rumah perhelatan Asian Games dan Para Games 2018.

Atas prestasi yang gemilang ini, Idham Aziz diangkat menjadi Kabareskrim Mabes Polri pada awal tahun 2019.

Dan pada 23 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo mencalonkan Komjen Pol Drs Idham Aziz, M.Si sebagai Kapolri untuk menggantikan Jend Pol (Purn) Prof. Drs. H. Tito Karnavian, MA, PhD. yang pensiun diri karena ditunjuk sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dalam Kabinet Indonesia Maju, Joko Widodo KH Ma’ruf Amin 2019-2024.

Sinergi TNI dan Polri

Idham Aziz tak hanya dikenal memiliki prestasi sebagai jenderal polisi, tapi juga mampu membangun jembatan dan kerjasama dengan TNI. Hal ini diakui oleh Kepala Staff Umum (Kasum) TNI, Letjend Joni Suprianto.

“Pemilihan Pak Idham sebagai Kapolri akan membuat sinergi TNI/Polri semakin kuat. Apalagi saya dan beliau pernah bekerja bersama dalam pengamanan wilayah Jakarta,” kata Kepala Staff Umum (Kasum) TNI, Letjend Joni Suprianto.

Kedua tokoh dari TNI dan Polri ini diketahui pernah bekerja sama itu terjadi ketika Joni Suprianto menjabat sebagai Pangdam Jaya dan Idham Azis sebagai Kapolda Metro Jaya. Mereka bahu-membahu dalam mengamankan wilayah Jakarta. Terbukti kerjasama tersebut membuahkan hasil yang baik, di mana wilayah Jakarta kondusif saat Perhelatan Asian Games dan Asian Para Games 2018.

Maka pertanyaan yang sering muncul bagaimana hubungan antara Polri dan TNI di tangan Idham Aziz pun sudah terjawab. Polri dan TNI akan bersinergi makin kuat demi menjaga ketertiban, keamanan dan kedaulatan negeri ini.

Sosok Bersahaja: Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Meskipun punya segudang prestasi, Idham Aziz dikenal sosok yang bersahaja, sederhana dan rendah hati. Idham Aziz bukan sosok yang suka menonjolkan diri, apalagi pamer diri. Justeru dia tidak menyukai publikasi.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengutip ujaran bijak Jawa yang juga disebutkan oleh Kasum TNI Letjend Joni Suprianto bahwa Idham Aziz adalah sosok yang ‘sepi ing pamrih rame ing gawe’ (pekerja keras tapi tidak berharap pamrih dan pujian).

Untuk Pak Idham Aziz, Selamat Bertugas Jenderal! Semoga Allah Swt memberikan pertunjukan dan perlindungan di setiap langkah dan kebijakan di masa datang.

Mohamad Guntur Romli