Kerusuhan di India Akibat Politik Identitas SARA

Kita mengutuk kekerasan terhadap warga negara India yang beragama muslim. Kekerasan yang memburuk dalam beberapa hari terakhir ini merupakan wujud dari politik kebencian berbasis isu SARA. Namun waspadalah! Karena negeri kita bisa terjerumus pada kerusuan sektarian seperti India kalau kita tidak melawan dan menghentikan serbuan politik identitas SARA yang akan saya jelaskan di akhir tulisan ini.

***

India adalah negara nasionalis yang sebenarnya tidak menjadikan satu agama sebagai dasar negara. Penganut Hindu, Islam, Sikh, Kristen, Buddha, Jainisme dan lain-lainnya hidup rukun bersama. Tapi kini India sedang diuji persatuan nasionalnya dengan isu SARA.

Perjuangan Mahatma Gandhi

Dalam momen ini, kita teringat sosok Mahatma Gandhi pejuang kemerdekaan India yang tetap teguh pada prinsip persatuan India tanpa membeda-bedakan agamanya. Gandhi–yang sangat mengindolakan Nabi Muhammad Saw dan tokoh yang diidolakan Gus Dur–memiliki pengakuan terhadap ajaran Nabi Muhammad Saw.

“Islam disebarkan oleh Muhammad dengan cinta bukan pedang. Berbekal cintanya, ia menaklukkan seluruh manusia dan alam semesta..!” kata Gandhi dalam wawancara pada tahun 20-an. Ucapan Gandhi ini seperti menyitir ayat Al-Quran “Tidak lah Kami utus engkau (Muhammad) kecuali menjadi Kasih Sayang bagi alam semesta” (QS Al-Anbiya’: 107).

Gus Dur pun menempuh jalan sebagai seorang humanis (pejuang kemanusiaan) yang ajaran itu tertulis pada nisan makamnya “Di Sini Dimakamkan Seorang Humanis”.

Seperti halnya Gandhi yang menjadi sasaran kelompok Hindu garis keras, Gus Dur pun sering mendapatkan serbuan dari kelompok Islam garis keras.

Saat Inggris ingin mengakui kemerdekaan India tapi dengan syarat berdiri negara-negara dengan masing-masing agama, Gandhi menolak keras meskipun dia diimingin-imingi sebagai pemimpin. Ia tidak ingin India terpecah berdasarkan isu agama. Gandhi menginginkan India sebagai bangsa dan negara yang utuh yang ia yakini mampu merekatkan perlbagai agama.

Saat Ali Jinnah memutuskan mendirikan Negara Pakistan yang terpisah dari India atas dasar agama, Gandhi sempat memohon sampai berlutut agar Jinnah membatalkan rencananya.

”Kamu ambil jabatan Presiden atau Perdana Menteri, tapi jangan berpisah dari kami,” kata Gandhi sambil menangis.

Tapi, Republik Islam Pakistan tetap berdiri. Ketika Jinnah menegaskan meskipun Pakistan berdasarkan Islam tapi mengakui semua agama, Jinnah pernah menjadi sasaran kelompok Islam garis keras. Pakistan pun hingga saat ini tidak pernah sepi dari konflik berbau SARA, baik di internal Islam: sunni vs syiah, salafi, persekusi terhadap Ahmadiyah atau pun kekerasan berbasis sektarian lainnya.

Gandhi Korban Kelompok Hindu Garis Keras

Sedangkan hidup Gandhi sendiri berakhir di tangan seorang penganut Hindu garis keras. Nathuram Godse, penembak Gandhi, yang menuduhnya terlalu lunak pada kelompok muslim India. Tuduhan yang sama terhadap Yitzhak Rabin perdana menteri Israel yang ditembak Yahudi garis keras, Yigal Amir karena memperjuangkan perdamaian dengan Palestina.

Ironisnya Politik Kebencian Godse sedang mendapatkan tempat dalam politik India saat ini, sejak Narendra Modi menjabat perdana menteri India mulai 6 tahun lalu.

Godse dan Modi sama-sama tumbuh menjadi anggota kelompok Rashtriya Swayamsevak Sangh yang menjalankan nilai-nilai Hindu secara keras dan memiliki cita-cita politik yang lebih kuat pada aspek agama Hindu daripada India sebagai bangsa.

Kontroversi UU Diskriminatif India

Pada Desmber 2019 Perdana Menteri Narendra Modi meloloskan UU Amandemen Warga Negara atau “Citizenship Amendment Bill” (CAB) yang dianggap anti-muslim.

UU ini menjadi kontroversi di publik India. Protes disuarakan dan aksi-aksi demo penolakan digelar.

Isi UU CAB salah satunya berisi soal kemungkinan para imigran ilegal dari Afghanistan, Bangladesh dan Pakistan untuk mendapatkan kewarganegaraan, terkecuali mereka yang beragama muslim.

Di bawah UU ini, umat Muslim India juga wajib membuktikan bahwa mereka memang adalah warga negara India. Sehingga ada kemungkinan warga Muslim India akan kehilangan kewarganegaraan tanpa alasan.

Tak hanya kelompok muslim, kelompok Kristen India pun menentang UU CAB itu. Lebih dari 8.000 orang dari umat Kristen India melakukan protes karena UU itu dinilai diskriminatif terhadap umat muslim. Salah seorang koordinator protes Herod Mullick menilai UU itu memecah-belah India.

Para demonstran berjalan sejauh beberapa kilometer dari gereja, hingga ke lokasi patung pahlawan kemerdekaan India, Mahatma Gandhi di ibu kota Negara Bagian Bengal Barat, Colkata, India Timur dan diyakini sebagai titik demonstrasi terbesar yang digelar oleh umat Kristen di India.

Cicit Gandhi Tushar Arun Gandhi juga turun aksi menolak UU yang diskriminatif terhadap muslim India.

“Untuk pertama kalinya di India yang merdeka, hukum atau sistem sedang dicoba diberlakukan yang mendiskriminasi, yang membeda-bedakan, berdasarkan agama,” kata Tushar Gandhi.

Tushar Gandhi adalah Pendiri Yayasan Mahatma Gandhi di Mumbai yang meneruskan pejuangan kakek buyutnya.

Politik SARA dan Kelompok Muslim Garis Keras di Indonesia

Kita mengutuk persekusi, kekerasan dan diskriminasi terbadap umat Islam India, namun kita harus waspada dengan adanya fenomena yang sama dengan naiknya politik SARA di negeri kita Indonesia.

Apalagi ada sekolompok muslim garis keras yang berusaha menggoreng isu ini untuk kepentingan politik kelompok mereka belaka, menyebarkan kecurigaan dan kebencian pada umat Hindu di Indonesia yang tidak ada kaitannya dengan kelompok Hindu garis keras di India.

Padahal kelompok muslim garis keras di Indonesia ini yang selama ini sangat aktif memainkan isu politik SARA dengan demo berjilid-jilid yang menyamakan agenda dan gerakan politik mereka dengan kelompok Hindu garis keras di India. Politisasi ayat dan mayat yang dilakukan gerakan muslim garis keras di Indonesia tidak membedakan jauh dengan kelompok Hindu garis keras di India.

Cukuplah pelajaran dari India (juga Suriah, Yaman, Iraq) agar kita berhenti mempolitisasi agama dan menjadikan politik identitas SARA sebagai amunisi untuk meraih kekuasaan.

Mohamad Guntur Romli