Zalimnya Putusan Pengadilan Arab Saudi Soal Korban Crane

Mengejutkan dan zalim. Ini lah dua kata yang tepat mengomentari Putusan Pengadilan Arab Saudi yang menolak pembayaran santunan kepada korban jatuhnya Crane di Masjidil Haram tahun 2015 lalu.

Mengejutkan karena Pemerintah Saudi sudah berkali-kali berjanji akan membayarkan santunan dan membentuk komite khusus untuk insiden ini.

Akhir Agustus 2017, tersiar kabar yang kuat, kalau Pemerintah Arab Saudi akan segera mencairkan santunan untuk korban Crane. Namun hingga saat ini tidak ada kabar beritanya lagi.

Tiba-tiba kita dikejutkan dengan keluarnya putusan Pengadilan pada Senin lalu yang menjatukan vonis:

“Grup bisnis Saudi Binladen tidak mesti membayar kompensasi korban atau membayar ganti rugi ke Masjidil Haran, bencana itu bukan karena kesalahan manusia (human error),” sebut keterangan pengadilan Arab Saudi seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (25/10). (link https://m.kumparan.com/andreas-gerry-tuwo/arab-saudi-putuskan-wni-korban-insiden-crane-tak-dapat-santunan.amp)

Kalau grup bisnis BinLaden dibebaskan dari kewajiban membayar diyyat (denda), apakah Pemerintah Saudi tetap tidak akan membayar santunan untuk korban Crane?

Alasan Pengadilan itu juga tidak masuk akal, dibebaskannya denda (diyyat) karena bukan faktor kesalahan manusia (human error), padahal peristiwa itu sudah memakan korban total 111 jiwa dan 36 jiwa berasal dari Jamaah Haji Indonesia, keluarganya sudah 2 tahun menunggu kepastian dan pertanggungjawaban, tapi yang diperoleh saat ini putusan pengadilan yang mengejutkan dan zalim itu.

Dalih putusan Pengadilan Arab Saudi itu benar-benar bertentangan dengan akal sehat dan keadilan dengan standar umum, seperti halnya kecelakaan baik di Udara, Darat dan Laut meskipun akibat insiden alam, para korban tetap mendapatkan santunan.

Tiba-tiba putusan Pengadilan Saudi ini “ngeles” dan mencari “kambing hitam” soal alam dan membebaskan perusahaan dari kesalahan manusia (human error).

Menangapi putusan Pengadilan ini, Pemerintah Indonesia harus lebih proaktif dan melakukan protes serta menuntut hak-hak korban jatuhnya Crane, meskipun santunan tidak akan pernah mengembalikan jiwa para korban, tapi hal ini bisa menunjukkan perhatian, keseriusan, pertanggung jawaban dan permintaan maaf dari pihak-pihak yang teledor.

Namun kini ternyata selain korban dan keluarga telah dizalimi berkali-kali, telah gugur korban akibat keteledoran, dibiar menunggu-nunggu, nasib digantung, diberi harapan palsu, kini malah keluar putusan Pengadilan yang membebaskan pihak yang teledor untuk bertanggung jawab.

Wahai para pendemo yang gemar nomer-nomer cantik, kapan demo berjilid-jilid Kedubes Saudi Arabia?

Apa komen “Imam Besar Nyali Kerdil” tersangka kasus cabul yang kini kabur dan tinggal di Saudi Arabia?

Mohamad Guntur Romli

www.gunromli.com
facebook.com/GunRomli
twitter: @GunRomli
instagram: gunromli