Guntur Romli: Republik Indonesia Adalah Anak Sah Umat Islam

Pengajian, Shalawat Nariyah & Istighotsah Kubro di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi

Senin, 13 November 2017, di Desa Bangsring yang terdapat Watu Dodol–batu hitam mengkilat setinggi 6 meter yang tidak bisa dipindahkan dan berada di tengah ruas jalan raya Situbondo-Banyuwangi, saya menghadiri undangan acara Shalawat Nariyah dan Istighotsah Kubro.

Saat diminta menjadi penceramah, saya menjelaskan sejarah perjuangan Kaum Santri atas Kemerdekaan Bangsa ini serta ikhtiar mempertahankan Kemerdekaan, khususnya terkait Hari Pahlawan 10 November yang baru saja dirayakan yang tidak bisa dipisahkan dari Resolusi Jihad fi Sabilillah 22 Oktober yang menjadi Hari Santri.

Kalau tidak ada Resolusi Jihad, maka tidak akan pernah ada pertempuran besar-besaran 10 November. Saya ingin pernyataan KH Afifuddin Muhajir, Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Sukorejo, Situbondo dalam percakapan saya dengan beliau di WhatsApp terkait relasi Hari Santri, 22 Oktober dan Hari Pahlawan 10 November beliau menuliskan komentar dalam bahasa Arab لو لم يكن ٢٢ اكتوبر ما كان ١٠ نوفمبر “Kalau tidak ada 22 Oktober/Resolusi Jihad/Hari Santri maka tidak ada 10 November/Pertempuran Surabaya/Hari Pahlawan”. Pernyataan yang sangat benar.

Maka, Pertempuran Akbar di Surabaya, 10 November 1945 merupakan bukti abadi cinta Santri dan Umat Islam terhadap Republik ini.

Republik Indonesia adalah anak sah Umat Islam bersama umat-umat agama yang lain, suku bangsa dan anak-anak bangsa yang berasal dari semua wilayah yang berada di Indonesia saat mempersiapkan Kemerdekaan, Mengumumkan Proklamasi Kemerdeaan dan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Karena Indonesia adalah anak sah umat Islam, maka umat Islam Indonesia tidak akan pernah mengingkari anaknya, menista anaknya, atau apalagi mau membunuh anaknya. Makian kufur, thaghut, musyrik, thaghut, hingga usaha membunuh Republik ini dalam bentuk makar dan pemberontakan (bughat) terhadap Republik ini pastilah berasal dari mereka yang tidak memiliki hubungan sejarah dengan Republik ini.

Dan benar, kalau ditanya para pahlawan mereka bukanlah Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari, KH Wahab Chasbullah, Kartini, Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati, Pattimura, John Lie, Sisingamangaraja, Gusti Ngurah Rai, dll tapi justeru tokoh-tokoh dari Mesir, Palestina, Afghanistan dll serta yang sangat mencengangkan tokoh teroris dunia pun disebut pahlawan.

Selain itu sebagai tambahan saya menceritakan kepahlawan Syaikhona KHR As’ad Syamsul Arifin, Pahlawan Nasional tahun 2016 dari Situbondo, seperti yang pernah saya sampaikan saat Pengajian di Kecamatan Prajekan, Bondowoso, kemaren malam.

Karena juga yang hadir banyak juga dari santri-santri Musolla, Madrasah, saya mengajak meski anak-anak desa jangan takut bercita-cita tinggi. Asal konsen pada pendidikan dan belajar, terus berusaha, anak desa, atau anak siapapun bisa berhasil.

Saya mencontohkan Pak Jokowi Presiden kita, yang berhasil menjadi Presiden bukan karena anak siapa dan kekayaannya berapa, tapi karena tekun, rajin dan berhasil melayani rakyat, bisa terpilih menjadi presiden.

Dengan sistem politik yang makin sehat, jauh dari KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) kesempatan bagi mereka yang berprestasi akan semakin terbuka. Inilah sistem meritokrasi (istilah ini tidak keluar dalam ceramah tadi, saya menyampaikan dalam syiir bahasa Arabnya, بقدر ما تعتنى تنال ما تتمنى sebesar itu perhatian dan keseriusanmu, maka sebesar itu pula hasil yang akan kau dapat. Bahwa kerja keras menentukan hasil yang akan kita dapat.

اللهم صل على سيدنا و مولانا محمد… اللهم صل وسلم وبارك عليه…

?

Mohamad Guntur Romli

Guntur Romli: Republik Indonesia Adalah Anak Sah Umat IslamPengajian, Shalawat Nariyah & Istighotsah Kubro di Desa…

Posted by Mohamad Guntur Romli on Monday, 13 November 2017