Anies Baswedan yang Mulai Jadi Kecebong, Selamat!

Anies Baswedan mulai jadi kecebong! Istilah kecebong adalah hinaan dari pendukung Anies untuk pendukung Jokowi dan Ahok. Karena Jokowi punya hobi memelihara katak. Padahal hobi ini punya filosofi yang tinggi, kolam, waduk, sungai akan disebut bersih dan bebas polusi kalau katak-katak bisa hidup berkeliaran. Ini soal kelestarian ekosistem.

Tapi filosofi ini tidak akan nyambung ke pihak yang punya IQ dengan kemiringan 20 derajat, seperti ucapan Anies, gedung DPRD DKI yang miring 20 derajat, padahal kemiringan Menara Pisa di Italia hanya 3.8 derajat, itu sudah terlihat jelas, bikin takjub dan masuk rekor dunia, apalagi ini Gedung DPRD DKI yang katanya miring 20 derajat, harusnya masuk rekor dunia dan akhirat!

Anehnya yang melihat miring cuma Anies, saya tak paham, apa bangunannya yang benar-benar miring atau otaknya yang miring. Gubernur yang digaji dari pajak rakyat DKI (termasuk saya) dan dapat jatah uang operasional 4.5 Miliar perbulan ini, bisa berkomentar asal bunyi, katanya punya staf ahli puluhan orang.

Kembali ke awal tulisan, mengapa saya sebut Anies mulai jadi kecebong? Karena dia mengikuti konsep Jokowi dan Ahok dalam mengatasi banjir di DKI, bukan seperti janji dia saat kampanye.

Waktu kampanye, Anies pernah usulkan untuk atasi banjir melakukan drainase vertikal.

Waktu itu Anies berkukuh bahwa solusi paling tokcer mengatasi banjir seharusnya adalah memperbanyak sumur resapan atau drainase vertikal, bukan drainase horizontal.

“Artinya, dialirkan ke laut saja belum cukup. Tetap dimasukkan ke bumi, dan bumi Jakarta memerlukan air. Ke depan, vertical drainage, bukan horizontal drainage,” kata Anies, Kamis (16/2/2017).

Ahok waktu itu merespon kalau solusi Anies ini tidak mungkin, tanpa melalukan normalisasi sungai, alias memperlebar sungai dan memindahkan warga-warga yang mendukuki bantaran sungai ke tempat lain ke Rusunawa.

“Saya enggak bisa tanggapi lah. Cuman yang pasti kalau enggak normalisasi sungai, nggak mungkin. Itukan akibat karena ngak semua di lebarin (sungai), ditinggiin enggak mungkin,” kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (17/2/2017).

Salah satu akar masalahnya adalah, membongkar bangunan rumah warga di bantaran kali, pemprov terlebih dulu harus menyediakan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) untuk relokasi.

“Karena harus membangun rusunawa, kami butuh waktu. Bayangkan, kami memindahkan warga ke rusunawa saja masih dikritik. Perlu diketahui, memindahkan warga bantaran sungai ke rusunawa itu saja butuh tiga tahun untuk melatih mereka,” kata Ahok.

http://m.tribunnews.com/metropolitan/2017/02/17/tanggapi-usul-anies-bikin-drainase-vertikal-atasi-banjir-ahok-tanpa-normalisasi-sungai-tak-mungkin

Dengan kebijakan itu, Ahok diserang tukang gusur oleh Anies dengan menawarkan ide utopis yang terasa manis, tapi mustahil diterapkan untuk mengatasi banjir Jakarta yang sudah kronis, yakni: drainase vertikal dan anti penggusuran.

Tapi karena masalah iman dan isu SARA yang juga digunakan oleh kubu Anies, omongan Ahok yang masuk akal tidak diterima, warga lebih percaya omongan Anies.

Tapi saat banjir mulai mendera Jakarta, padahal ini baru bulan Desember, puncak banjir biasanya akhir Januari, lanjut ke Februari, Anies mulai membenarkan omongan Ahok dan melupakan janji manisnya sendiri saat kampanye.

Saat banjir di Jati Padang, keluhan-keluhan Anies mulai mengulangi keluhan Ahok dulu

Anies: Lebar Sungai di Jatipadang Tinggal 2 Meter, Harusnya 20 Meter

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/12/17/17095931/anies-lebar-sungai-di-jatipadang-tinggal-2-meter-harusnya-20-meter

Di Jati Padang, Anies Sebut Ada Sungai yang “Hilang”

http://m.tribunnews.com/metropolitan/2017/12/17/di-jati-padang-anies-sebut-ada-sungai-yang-hilang

Bandingkan dengan komentar Ahok soal Kali Krukut

Ahok mengatakan, akan segera menormalisasi Kali Krukut. Mengingat kondisinya yang sudah menyempit dari lebar semula 20-25 meter hanya tersisa 4-5 meter saja. Bahkan beberapa titik ada yang selebar 1,5 meter saja.

“Pokoknya kalau kamu melanggar dan nggak ada izin, kami bongkar saja. Tapi kalau kamu ada sertifkat itu yang agak susah,” ucapnya

http://poskotanews.com/2016/09/10/ahok-tidak-takut-bongkar-bangunan-di-bantaran-kali-krukut/

Dengan gayanya, Ahok pun berkomentar nyelekit “Berani Taruhan, Ahok Klaim Normalisasi Sungai Langkah Terbaik” http://m.liputan6.com/news/read/2863696/berani-taruhan-ahok-klaim-normalisasi-sungai-langkah-terbaik

Dan ini ucapan Ahok, yang menunjukkan dia yang benar, yang menyerangnya soal normalisasi sungai yang bohong!

Ahok: Jika Anies Jadi Gubernur dan Tidak Normalisasi Kali, Bohong Dia

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/20/17021501/ahok.jika.anies.jadi.gubernur.dan.tidak.normalisasi.kali.bohong.dia

Dan Anies pun mau melakukan pelebaran sungai! dengan istilah lain yang makin lucu “naturalisasi sungai”

“Memang tidak ada pilihan lain, di tempat ini harus ada pelebaran,” ujar Anies seusai meninjau tanggul jebol di Jatipadang, Rabu (20/12/2017) malam.

Anies menyampaikan, lebar sungai saat ini hanya sekitar 2 meter. Kondisi kali terus menyempit karena banyak warga mendirikan bangunan di sana.

“Sungainya makin kecil, makin kecil, karena warga menempati, membangun di… betul-betul mengurangi lebar sungai,” katanya.

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/12/21/06040361/anies-tidak-ada-pilihan-lain-harus-ada-pelebaran-sungai-di-jatipadang

“Yang terpenting itu naturalisasi aliran sungai untuk menjaga ekosistem sungai, kita geser pemukimannya, kan bentuk (rumahnya) beda-beda,” kata Anies di Balai Kota, Jakarta, Rabu (13/12).

https://m.cnnindonesia.com/nasional/20171213184047-20-262175/anies-akan-naturalisasi-sungai-dan-geser-rumah-di-jati-padang

Hehehe mungkin terpengaruh Pidato setelah pelantikannya soal Pribumi, maka Anies harus melakukan “naturalisasi sungai” karena kini sungai tidak lagi dikuasai “pribumi-pribumi” sungai seperti kecebong, katak, biawak, ikan, ular dll tapi rumah-rumah yang mereklamasi sungai.

Istilah “geser” yang Anies pakai pun adalah istilah Jokowi. Pada waktu Joko Widodo menjadi calon gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2012. Ketika itu, Jokowi juga mengatakan warga sebenarnya bersedia jika hanya digeser sedikit dari permukiman mereka.

“Ketika berbicara dengan komunitas yang ada di sana, ada 870 KK yang telah berbicara dengan saya, mereka sebenarnya mau digeser, bukan digusur, (tapi) digeser,” ujar Jokowi saat itu.

Jokowi saat itu menawarkan program kampung deret untuk warga bantaran kali. Ahok pernah menjelaskan bahwa sudah ada kampung deret yang dibangun pada masa pemerintahan dia dan Jokowi. Namun, kini Pemprov DKI tidak bisa lagi membangun kampung deret.

Ahok menjelaskan alasan tidak bisa lagi melanjutkan program kampung deret. Menurut Ahok, tidak ada lagi tanah negara yang bisa digunakan untuk mendirikan kampung deret.

“Kenapa kami berhenti? Karena enggak ketemu tanah lagi. Kalau kamu dudukin tanah negara yang lahan hijau, enggak bisa dong bikin Kampung Deret,” ujar Ahok http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/28/10440681/menggeser.bukan.menggusur.janji.agus.yang.mirip.dengan.janji.jokowi

Namun untuk yang menduduki bantaran sungai jelas sekali tidak bisa dengan kata “Geser”, mau Digeser kemana karena sekeliling sungai sudah sangat penuh. Makanya Ahok menggunakan kata “relokasi”, artinya dipindahkan ke Rusun-rusun, kalau lokasi Rusun dekat, seperti dari Bantaran Sungai Ciliwung ke Rusun Jatinegara, tapi kalau Rusun dapatnya lokasi lumayan jauh, seperti Rusunawa Rawa Bebek, meski tetap di lokasi Jakarta.

Saat ini Anies gunakan kata “geser” untuk yang tinggal di Bantaran Sungai Jati Padang, mau digeser kemana? Artinya rumah-rumah itu tetap DIGUSUR untuk memperlebar sungai, nah yang tinggal di rumah itu mau “direlokasi” kemana? Anies belum menjelaskan hal ini. Kalau Ahok, Rusunawa jadi dibangun dulu dan siap, baru relokasi dilakukan dan normalisasi sungai diterapkan.

Kesimpulannya, konsep Anies soal drainase vertikal yang ia sampaikan saat kampanye lalu tidak bisa diterapkan, malah saat ini Anies menjadi kecebong, sebutan pendukung Anies untuk pendukung Jokowi dan Ahok.

Dengan sungai-sungai yang lebar, bersih dan bebas polusi, tentu kecebong-kecebong senang, berenang gembira yang akan menjadi katak yang bernyanyi-nyanyi di pinggir sungai, bersama ikan-ikan yang sudah kita saksikan mulai banyak sejak Ahok melancarkan program normalisasi sungai.

Kecebong akan bahagia bila Anies terus memperlembar sungai.

Dan Selamat jadi Cebong Nies!

Mohamad Guntur Romli

gunromli.comhttps://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10156175443245955&id=154058685954

Anies Baswedan yang Mulai Jadi Kecebong, Selamat!

Anies Baswedan mulai jadi kecebong! Istilah kecebong adalah hinaan dari pendukung Anies untuk pendukung Jokowi dan Ahok. Karena Jokowi punya hobi memelihara katak. Padahal hobi ini punya filosofi yang tinggi, kolam, waduk, sungai akan disebut bersih dan bebas polusi kalau katak-katak bisa hidup berkeliaran. Ini soal kelestarian ekosistem.

Tapi filosofi ini tidak akan nyambung ke pihak yang punya IQ dengan kemiringan 20 derajat, seperti ucapan Anies, gedung DPRD DKI yang miring 20 derajat, padahal kemiringan Menara Pisa di Italia hanya 3.8 derajat, itu sudah terlihat jelas, bikin takjub dan masuk rekor dunia, apalagi ini Gedung DPRD DKI yang katanya miring 20 derajat, harusnya masuk rekor dunia dan akhirat!

Anehnya yang melihat miring cuma Anies, saya tak paham, apa bangunannya yang benar-benar miring atau otaknya yang miring. Gubernur yang digaji dari pajak rakyat DKI (termasuk saya) dan dapat jatah uang operasional 4.5 Miliar perbulan ini, bisa berkomentar asal bunyi, katanya punya staf ahli puluhan orang.

Kembali ke awal tulisan, mengapa saya sebut Anies mulai jadi kecebong? Karena dia mengikuti konsep Jokowi dan Ahok dalam mengatasi banjir di DKI, bukan seperti janji dia saat kampanye.

Waktu kampanye, Anies pernah usulkan untuk atasi banjir melakukan drainase vertikal.

Waktu itu Anies berkukuh bahwa solusi paling tokcer mengatasi banjir seharusnya adalah memperbanyak sumur resapan atau drainase vertikal, bukan drainase horizontal.

“Artinya, dialirkan ke laut saja belum cukup. Tetap dimasukkan ke bumi, dan bumi Jakarta memerlukan air. Ke depan, vertical drainage, bukan horizontal drainage,” kata Anies, Kamis (16/2/2017).

Ahok waktu itu merespon kalau solusi Anies ini tidak mungkin, tanpa melalukan normalisasi sungai, alias memperlebar sungai dan memindahkan warga-warga yang mendukuki bantaran sungai ke tempat lain ke Rusunawa.

“Saya enggak bisa tanggapi lah. Cuman yang pasti kalau enggak normalisasi sungai, nggak mungkin. Itukan akibat karena ngak semua di lebarin (sungai), ditinggiin enggak mungkin,” kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (17/2/2017).

Salah satu akar masalahnya adalah, membongkar bangunan rumah warga di bantaran kali, pemprov terlebih dulu harus menyediakan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) untuk relokasi.

“Karena harus membangun rusunawa, kami butuh waktu. Bayangkan, kami memindahkan warga ke rusunawa saja masih dikritik. Perlu diketahui, memindahkan warga bantaran sungai ke rusunawa itu saja butuh tiga tahun untuk melatih mereka,” kata Ahok.

http://m.tribunnews.com/metropolitan/2017/02/17/tanggapi-usul-anies-bikin-drainase-vertikal-atasi-banjir-ahok-tanpa-normalisasi-sungai-tak-mungkin

Dengan kebijakan itu, Ahok diserang tukang gusur oleh Anies dengan menawarkan ide utopis yang terasa manis, tapi mustahil diterapkan untuk mengatasi banjir Jakarta yang sudah kronis, yakni: drainase vertikal dan anti penggusuran.

Tapi karena masalah iman dan isu SARA yang juga digunakan oleh kubu Anies, omongan Ahok yang masuk akal tidak diterima, warga lebih percaya omongan Anies.

Tapi saat banjir mulai mendera Jakarta, padahal ini baru bulan Desember, puncak banjir biasanya akhir Januari, lanjut ke Februari, Anies mulai membenarkan omongan Ahok dan melupakan janji manisnya sendiri saat kampanye.

Saat banjir di Jati Padang, keluhan-keluhan Anies mulai mengulangi keluhan Ahok dulu

Anies: Lebar Sungai di Jatipadang Tinggal 2 Meter, Harusnya 20 Meter

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/12/17/17095931/anies-lebar-sungai-di-jatipadang-tinggal-2-meter-harusnya-20-meter

Di Jati Padang, Anies Sebut Ada Sungai yang “Hilang”

http://m.tribunnews.com/metropolitan/2017/12/17/di-jati-padang-anies-sebut-ada-sungai-yang-hilang

Bandingkan dengan komentar Ahok soal Kali Krukut

Ahok mengatakan, akan segera menormalisasi Kali Krukut. Mengingat kondisinya yang sudah menyempit dari lebar semula 20-25 meter hanya tersisa 4-5 meter saja. Bahkan beberapa titik ada yang selebar 1,5 meter saja.

“Pokoknya kalau kamu melanggar dan nggak ada izin, kami bongkar saja. Tapi kalau kamu ada sertifkat itu yang agak susah,” ucapnya

http://poskotanews.com/2016/09/10/ahok-tidak-takut-bongkar-bangunan-di-bantaran-kali-krukut/

Dengan gayanya, Ahok pun berkomentar nyelekit “Berani Taruhan, Ahok Klaim Normalisasi Sungai Langkah Terbaik” http://m.liputan6.com/news/read/2863696/berani-taruhan-ahok-klaim-normalisasi-sungai-langkah-terbaik

Dan ini ucapan Ahok, yang menunjukkan dia yang benar, yang menyerangnya soal normalisasi sungai yang bohong!

Ahok: Jika Anies Jadi Gubernur dan Tidak Normalisasi Kali, Bohong Dia

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/20/17021501/ahok.jika.anies.jadi.gubernur.dan.tidak.normalisasi.kali.bohong.dia

Dan Anies pun mau melakukan pelebaran sungai! dengan istilah lain yang makin lucu “naturalisasi sungai”

“Memang tidak ada pilihan lain, di tempat ini harus ada pelebaran,” ujar Anies seusai meninjau tanggul jebol di Jatipadang, Rabu (20/12/2017) malam.

Anies menyampaikan, lebar sungai saat ini hanya sekitar 2 meter. Kondisi kali terus menyempit karena banyak warga mendirikan bangunan di sana.

“Sungainya makin kecil, makin kecil, karena warga menempati, membangun di… betul-betul mengurangi lebar sungai,” katanya.

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/12/21/06040361/anies-tidak-ada-pilihan-lain-harus-ada-pelebaran-sungai-di-jatipadang

“Yang terpenting itu naturalisasi aliran sungai untuk menjaga ekosistem sungai, kita geser pemukimannya, kan bentuk (rumahnya) beda-beda,” kata Anies di Balai Kota, Jakarta, Rabu (13/12).

https://m.cnnindonesia.com/nasional/20171213184047-20-262175/anies-akan-naturalisasi-sungai-dan-geser-rumah-di-jati-padang

Hehehe mungkin terpengaruh Pidato setelah pelantikannya soal Pribumi, maka Anies harus melakukan “naturalisasi sungai” karena kini sungai tidak lagi dikuasai “pribumi-pribumi” sungai seperti kecebong, katak, biawak, ikan, ular dll tapi rumah-rumah yang mereklamasi sungai.

Istilah “geser” yang Anies pakai pun adalah istilah Jokowi. Pada waktu Joko Widodo menjadi calon gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2012. Ketika itu, Jokowi juga mengatakan warga sebenarnya bersedia jika hanya digeser sedikit dari permukiman mereka.

“Ketika berbicara dengan komunitas yang ada di sana, ada 870 KK yang telah berbicara dengan saya, mereka sebenarnya mau digeser, bukan digusur, (tapi) digeser,” ujar Jokowi saat itu.

Jokowi saat itu menawarkan program kampung deret untuk warga bantaran kali. Ahok pernah menjelaskan bahwa sudah ada kampung deret yang dibangun pada masa pemerintahan dia dan Jokowi. Namun, kini Pemprov DKI tidak bisa lagi membangun kampung deret.

Ahok menjelaskan alasan tidak bisa lagi melanjutkan program kampung deret. Menurut Ahok, tidak ada lagi tanah negara yang bisa digunakan untuk mendirikan kampung deret.

“Kenapa kami berhenti? Karena enggak ketemu tanah lagi. Kalau kamu dudukin tanah negara yang lahan hijau, enggak bisa dong bikin Kampung Deret,” ujar Ahok http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/28/10440681/menggeser.bukan.menggusur.janji.agus.yang.mirip.dengan.janji.jokowi

Namun untuk yang menduduki bantaran sungai jelas sekali tidak bisa dengan kata “Geser”, mau Digeser kemana karena sekeliling sungai sudah sangat penuh. Makanya Ahok menggunakan kata “relokasi”, artinya dipindahkan ke Rusun-rusun, kalau lokasi Rusun dekat, seperti dari Bantaran Sungai Ciliwung ke Rusun Jatinegara, tapi kalau Rusun dapatnya lokasi lumayan jauh, seperti Rusunawa Rawa Bebek, meski tetap di lokasi Jakarta.

Saat ini Anies gunakan kata “geser” untuk yang tinggal di Bantaran Sungai Jati Padang, mau digeser kemana? Artinya rumah-rumah itu tetap DIGUSUR untuk memperlebar sungai, nah yang tinggal di rumah itu mau “direlokasi” kemana? Anies belum menjelaskan hal ini. Kalau Ahok, Rusunawa jadi dibangun dulu dan siap, baru relokasi dilakukan dan normalisasi sungai diterapkan.

Kesimpulannya, konsep Anies soal drainase vertikal yang ia sampaikan saat kampanye lalu tidak bisa diterapkan, malah saat ini Anies menjadi kecebong, sebutan pendukung Anies untuk pendukung Jokowi dan Ahok.

Dengan sungai-sungai yang lebar, bersih dan bebas polusi, tentu kecebong-kecebong senang, berenang gembira yang akan menjadi katak yang bernyanyi-nyanyi di pinggir sungai, bersama ikan-ikan yang sudah kita saksikan mulai banyak sejak Ahok melancarkan program normalisasi sungai.

Kecebong akan bahagia bila Anies terus memperlembar sungai.

Dan Selamat jadi Cebong Nies!

Mohamad GunturRomli

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10156175443245955&id=154058685954