KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid meninggalkan pengaruh yang dalam pada saya, jauh sebelum saya menjadi penyiarnya di acara “Kongkow Bareng Gus Dur” tiap Sabtu di Utan Kayu dari tahun 2005 sampai 2009 menjelang beliau wafat.
Pada awal tahun 1997, ketika saya baru lulus dari sebuah pesantren dan menjadi guru muda di pesantren itu, saya mengikuti sebuah pelatihan untuk guru dan santri se Jawa Timur. Sohibul bait-nya: Kajian 193 Universitas Islam Malang. Gus Dur hadir sebagai narasumber.
Jujur saja waktu itu saya tak suka Gus Dur dan Nurcholish “Cak Nur” Madjid. Saya memperoleh informasi tentang dua tokoh ini dari media-media seperti “Sabili”, “Media Dakwah” dan “Hidayatullah”. Kala itu saya lebih mengidolakan sosok Amien Rais yang dianggap sebagai representasi tokoh Islam, sedangkan Gus Dur dan Cak Nur sering dituding oleh media-media itu “kurang kadar keislamannya” bahkan lebih kejam lagi “sebagai musuh umat Islam”.

Duh malunya mengenang kebodohan ini, bagaimana mungkin saya bisa telan mentah-mentah informasi dan tuduhan media-media yang paling ngaku Islam itu, dengan menyebut Gus Dur sebagai “musuh umat Islam” sementara Gus Dur adalah Ketua Umum dari Ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).

Saya tidak terlalu tertarik presentasi Gus Dur waktu itu, beliau mengulas soal sejarah kebhinnekaan Nusantara yang dimulai dari sejarah kerator-keraton Hindu Buddha yang kemudian dilanjutkan karajan Islam. Gus Dur mengutip sejarah di Dieng, Borobudur, Prambanan, Majapahit, yang kemudiaan dilanjutkan Demak, Panjang dan Mataram Islam.
Sejak pertama kali melihat Gus Dur saya sudah tak sabar ingin mengeluarkan uneg-uneg saya (yang negatif). Bakda Gus Dur presentasi, saya yang pertama kali mengacungkan tangan untuk bertanya. Dimulailah percakapan dan dialog pertama kali saya dengan Gus Dur yang mengubah haluan pemikiran saya.
“Gus, saya seorang santri, sebelum saya mengajukan pertanyaan, saya ingin mengajak kita semua untuk meyakini Islam sebagai agama paling benar, kalau kita sudah yakin, lantas bagaimana menjadikan Islam sebagai agama yang “rahmatan lil alamin” (menjadi berkah bagi alam semesta)?”
Pertanyaan ini adalah sindiran saya yang halus kepada Gus Dur yang menurut su’ud dzon saya pada dia—seperti yang saya baca dari media-media itu—Gus Dur tidak terlalu kuat Islamnya karena sering membela non-muslim.
Respon Gus Dur di luar perkiraan saya dengan mengirimkan komentar yang sangat menohok:

“Siapa nama santri tadi itu, santri kok Islamnya krisis.” Kata Gus Dur.

Mendengar ucapakan Gus Dur ini, belasan orang yang hadir tertawa terbahak-bahak. Saya hanya bisa tersenyum kecut. Ucapan Gus Dur seperti setrum ribuan megawatt yang menyengat saya.

“Kalau kita sudah yakin pada ajaran Islam, tak perlu lagi teriak-teriak, seperti teriakan “Islam agama paling benar, Islam agama Sempurna dll” biasanya yang sering teriak itu masih ragu atau takut.” Kata Gus Dur.

“Saya sering dianggap tidak Islam hanya gara-gara sering membela orang non-muslim, saya dianggap tidak ngerti ayat Quran yang berbunyi “tidak akan pernah rela orang Yahudi dan Kristen pada kamu (orang Islam), sampai kamu mengikuti agama mereka,” sambung Gus Dur yang mengutip penggalan ayat 120 dari surat Al Baqarah. Ungkapan Gus Dur tadi juga seperti mengorek-orek asumsi-asumsi buruk yang menempel di otak saya. Gus Dur bisa membaca isi hati saya yang penuh dengan asumsi buruk! (Hanya wali yang bisa membaca isi hati seseorang!)
“Orang yang pernah menuduh saya seperti Pak Yusril Ihza Mahendra dengan ayat Al-Quran tadi, dia bilang saya kurang iman dan Islam, saya cuma bilang “Pak Yusril masuk pesantren dulu deh, belajar tafsir Al-Quran”. (Hadirin kembali tertawa!).
Gus Dur melanjutkan: “Bagi saya makna “tidak rela” itu jangan didramatisir, dipahami biasa-biasa saja, karena sebaliknya kita orang Islam juga tidak pernah rela pada keyakinan mereka. Sama saja kan? “Tidak rela” bukan berarti mau menyakiti atau membunuh. Contohnya Siti Nurbaya tidak rela menikah dengan Datuk Maringgih. Yaaa Siti tidak rela saja, bukan lantas dia ingin menyakiti atau membunuh Datuk Maringgih, buktinya Siti Nurbaya melahirkan anak-anak Datuk Maringgih.”
Orang-orang yang hadir kembali tertawa lebar mendengar tamsil Gus Dur soal “tidak rela” itu.

Ketika ia menjawab soal saya tentang “Islam rahmatan lil alamin” Gus Dur mengutip wejangan KH Ahmad Siddiq bahwa Islam harus merawat tiga ikatan persaudaraan yaitu “ukhuwah Islamiyah” (persaudaraan keislaman), “ukhuwah wathaniyah” (persaudaraan kebangsaan) dan “ukhuwah basyariyah” (persaudaraan kemanusiaan), jika Islam mampu merawat tiga ikatan persaudaraan ini maka, Islam itu akan menjadi berkah bagi alam semesta.

Sindiran Gus Dur yang menganggap saya sebagai seorang muslim yang krisis—meskipun saya lulusan pesantren dan telah menimba ilmu keislaman selama bertahun-tahun—membuat saya kembali bertanya pada diri sendiri. Benar juga komentar Gus Dur itu, kalau saya benar memiliki keimanan terhadap Islam yang kuat, kenapa perlu teriak-teriak yang menunjukkan saya masih ragu? Merasa paling benar memang kadang untuk menyembunyikan keraguan.
Pertemuan dengan Gus Dur itu telah meruntuhkan fanatisme saya yang sebelumnya mudah curiga dan menyalahkan pendapat orang lain. Saya yang selalu menganggap diri sendiri sebagai muslim yang paling benar. Pertemuan itu juga mengubah imej saya terhadap Gus Dur.
Seperti menebus dosa, saya mulai rajin mencari dan membaca buku-buku karangan Gus Dur untuk mengenal pemikiran Gus Dur secara langsung bukan dari tulisan atau perkataan orang lain. Ketika saya melanjutkan studi di Univeritas al-Azhar Mesir pada tahun 1998 saya mengikuti kaderisasi NU Mesir untuk mengukuhkan kekaguman saya pada Gus Dur. Pun saya mulai tertarik untuk membaca pemikiran Cak Nur langsung dari tulisan-tulisannya.
Dalam kesempatan yang lain, Gus Dur juga sering merujuk soal “Islam-krisis” ini pada fenomena kekerasan dan kebencian yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam radikal terhadap kelompok yang lain. Krisis yang dimaksud adalah rasa tak percaya diri atau diliputi penuh ketakutan. Kata Gus Dur “mereka itu dalam bayang-bayang ketakutan, merasa terkepung dan terancam oleh Barat, tapi di sisi lain pihak yang disebut lawan itu: Barat, juga merasa takut dan terancam oleh mereka.”
Inilah lingkaran ketakutan yang menyebabkan krisis, kecurigaan dan kebencian terhadap pihak yang lain. Padahal sumber ketakutan dan apa yang ditakutkan sering kali tak jelas.
Pesan Gus Dur yang selalu saya ingat dan akan terus menjadi pegangan adalah “jangan takut”. Seorang muslim yang baik dan memiliki iman yang kuat berarti telah terbebas dari ketakutan-ketakutan. Takut yang berasal dari kecurigaan yang bisa melahirkan kebencian dan permusuhan. Muslim yang percaya diri tidak akan pernah takut untuk terbuka kepada pihak luar. Membuka diri adalah bukti keberanian, sementara menutup diri merupakan reaksi ketakutan.
Dua tahun lalu (tahun 2008) saya menyampaikan “pengakuan dosa” ini ke Gus Dur dan menceritakan kisah tahun 1997 itu. Seperti biasa: Gus Dur hanya tertawa-tawa. Saya pun ikut tertawa geli, mengenang kekonyolan masa lalu.
Mohamad Guntur Romli
Host Acara Kongkow Bareng Gus Dur dari tahun 2005-2009