Sandiaga Uno yang Mempermalukan Emak-emak

Sandiaga Uno sering menyebut emak-emak, tapi tujuannya untuk mempermalukan. Sandi kebiasaan, mengutip nama seorang emak, dari sana sini, tapi informasi yang diucapkan, tidak akurat, bahkan membuat malu.

Sebut saja Sandi mengutip seorang emak dengan menyebutkan kalau uang 100 ribu untuk belanjaan hanya dapat bawang dan cabe. Ucapan Sandi ini sama saja dengan mempermalukan kalangan emak se-Indonesia.

Emak-emak adalah kalangan yang sangat tahu belanjaan, bahkan harga satuannya. Saya sering ikut istri belajar baik ke warung dan ke pasar. Kalau lihat emak-emak nawar, rada “mengerikan”. Belanja yang sedikit-sedikit bisa ditawar dua ribu, seribu bahkan 500 pun dipertahankan.

Saya lihat ada kepuasan di kalangan emak-emak apabila berhasil menaklukkan pedagang dengan tawaran harganya. Ini soal prestasi dan prestise (kebanggaan).

Jadi Sandi, kalau hanya mau dapat bawang dan cabe, tak perlu dengan uang 100 ribu, dengan uang 1000 pun emak-emak akan dapat itu!

Soal uang 1000 dapat berapa butir bawang dan beberapa pucuk cabe itu soal lain, tapi pastilah bisa didapat. 100 ribu kalau cuma mau beli bawang dan cabe juga bisa, tapi ini bukan buat masak, mungkin buat luluran Sandi ?

Tengoklah, dengan segala tehnik dan strategi, bagaimana emak-emak mulai dari merayu dan menaklukkan pedagang, mulai berdebat hingga menyuguhkan argumentasi, yang khas emak-emak.

Emak-emak datang ke pedagang agak siang.

“Wah uda laku ya, pada habis nih dagangan, untung banyak nih,” kata emak-emak.

Si pedagang tidak ada pilihan akan jawab “Alhamdulillah Mak, rizki nih”

Tapi jawaban pedagang masuk perangkap, Emak-emak akan bilang.

“Ya uda deh, bawang cabe serebu aja, yang sisa-sisa, buat mepes, buat si bontot”.

Pedagang gak bisa ngeles. Kalau coba-coba dia ngeles, dengan kasih alasan.

“Wah cabe, bawang mulai mahal Mak, ini mulai musim hujan,”

Si Emak akan balas, “Mana ada hujan, di sini gak pernah hujan” —di sini dengan di tempat pertanian cabe dan bawang? Emak buru-buru koreksi argumen–“Aku liat di tv, di Jawa belum hujan tuh, banyak yang kekeringan, di Sumatera Kalimantan malah banyak kebakaran hutan, gara-gara hujan kagak turun-turun,”

Pedagang gak bisa ngeles. Mau ngeles lagi, Emak akan siap dengan jurus pamungkas: ancaman.

“Ya kalau serebu kagak bisa dapat bawang dan cabe, aku minta tetangga si Siti aja, lagian cuma serebu perak!”

Pedagang kalau sudah diginiin sama emak-emak ibarat petinju yang KO, sudah kena upper cut, kolornya melorot. Emak-emak menang TKO! Biasanya pedagang gak akan sampe ke babak ini, ini sama saja mengobarkan perang ke emak-emak langganannya. Bisa ditinggal pelanggar benar dia.

Inilah tehnik emak-emak menaklukan pedagang, mulai strategi merayu, berdebat hingga ancaman.

Dulu saya juga sering menemani emak saya belanja, dan diajari tehnik menawar dan menaklukkan pedagang.

Kata emak saya, kalau belanja di pasar yang kita gelap soal harganya harus membandingkan tiap kios untuk tahu patokan harga. Tidak bisa hanya ke satu kios terus beli. Cara ini memang makan waktu, dan bagi yang tidak tahu, sering ngeluh, “emak-emak belanjanya lama!” Padahal emak-emak sering “thawaf” di pasar hanya untuk membandingkan harga.

Kemudian, kata emak saya, kalau nawar jangan tanggung-tanggung, tawar sampe separoh harga. “Ya, emak saya memang “tega” kalau soal tawar harga” ? pasti pedagang akan nurunin harganya, kita naikin dikit-dikit, inilah proses tawar menawar, mulai dari tehnik merayu, sampai berdebat. Intinya sabar dan pelan-pelan naikin harga, kata Emak saya.

Jurus pamungkas dari emak saya, kalau sudah lama tawar menawar masih deadlock, “pura-pura pamit pergi” ? kalau pedagang memanggil, dia kena jebakan. Kalau tidak dipanggil lagi, cari di kios lain, inilah yang bikin emak-emak kalau belanja lama. Kalau sudah ke kios-kios lain tawar menawar ternyata harga di kios pertama tetap lebih murah, dengan modal senyum kita kembali lagi dan ambil barangnya. ?

Cerita di atas saya cuma mau kasi tahu, bagaimana emak-emak sangat detail dalam melihat barang dan harganya, 500 perak aja dipertahanin! Banyak pedagang yang menyerah, tidak mau lihat emak-emak marah sebagai langganannya dan ngeloyor pergi ke pedagang lain. Hati-hati ngadepin emak-emak.

Belum lagi selesai soal 100 ribu hanya dapat bawang dan cabe, kini Sandi bicara tempe yang setipis ATM.  Emak-emak lagi yang dibawa-bawa. Astagaaaaaa!

Seirit-iritnya emak-emak gak akan tega mengiris tempe goreng setipis ATM! Kalau benar tempe setipis ATM sudah ada revolusi emak-emak!

Sebagai usul, Semoga Sandi mau “blusukan” ke pasar-pasar, benar-benar bertemu emak-emak, bukan nama emak-emak fiktif yang ia selalu bawa-bawa. Apakah Sandi masih menemani istrinya belanja? Apakah dia masih melihat wujud tempe sebelum digoreng? Melihat hamparan tempe di lapak-lapak pedagang. Atau dia sudah tinggal makan saja yang tersedia di meja.

Tapi begitulah Sandi, yang katanya mengutip emak-emak bukan menyampaikan aspirasi mereka, bukan membanggakan mereka bagaimana mengatur uang belanja, tapi malah mempermalukan dengan membuatnya bahan tertawaan.

Semoga Sandi, sadar akan hal ini.

Mohamad Guntur Romli.

#ThePowerOfEmakEmak

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10156991806395955&id=154058685954