Percaya Hoax Ratna Sarumpaet Adalah Bukti Koalisi Prabowo Sandiaga Uno Tidak Cerdas dan Tidak Mampu Memimpin Negeri Ini

“Hoax itu diproduksi oleh pendengki, disebarkan oleh orang-orang dungu dan dipercaya oleh orang-orang tolol”. Ujaran ini sering kita dengar saat mengulas soal hoax alias kabar bohong. Dan kini, informasi tentang “penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet” sudah terbukti kabar bohong alias hoax yang disampaikan oleh mulut Ratna Sarumpaet.

Padahal satu hari sebelumnya, Koalisi Prabowo Sandiaga Uno dengan kekuatan penuh berusaha membentuk opini dan meyakinkan publik bahwa penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet benar adanya. Gimana tidak disebut kekuatan penuh, mulai dari Capres-cawapresnya, Tim Pemenangannya, Amien Rais dan anaknya Hanum Rais, buzzer-buzzer mereka di media sosial dan semua gerombolan mereka nge-gas ful soal penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet, sampai-sampai berita penanganan terhadap korban-korban gempa di Sulawesi Tengah teralihkan.

Tapi kini, setelah terbukti cerita Ratna Sarumpaet hanya khayalan belaka, mereka masuk kategori apa? Produsen hoax yang pendengki, orang-orang dungu yang menyebarkan hoax atau orang-orang tolol yang percaya pada hoax itu? Dungu dan tolol? Ah masa, sekaliber Capres dan Cawapres, ada Mantan Panglima TNI, ada mantan Ketua MPR, ada Wakil Ketua DPR, ada buaaanyak anggota DPR, ada Ketua Omas Pemuda, ada yang ngaku ahli logika dan filsafat, ada buaaanyak lulusan luar negeri dan lain-lain, apa bisa disebut dungu dan tolol?

Pahit memang, tapi ini lah fakta yang terjadi. Sebelum pengakuan Ratna Sarumpaet mereka ikut menyebarkan dan menerima hoax itu.

Padahal sejak awal, saya sudah ingatkan mereka soal cerita penganiyaan Ratna Sarumpaet. Mereka mudah percaya, padahal tidak ada petunjuk, apalagi bukti yang memperlihatkan soal penganiyaan terhadap Ratna Sarumpaet, hanya modal foto yang saat itu masih diduga Ratna Sarumpaet dengan muka lebam.

Orang cerdas, kritik dan percaya pada akal sehat, tentulah tidak mudah tertipu. Cara menguji pengakuan penganiyaan terhadap Ratna Sarumpaet itu mudah, seperti yang saya twit ulang-ulang di akun twitter saya: @GunRomli, kalau benar ada penganiayaan itu, apalagi katanya terjadi tanggal 21 September 2018, sementara baru ramai tanggal 2 Oktober 2018, mana laporan polisinya dan mana hasil visumnya?

Janganlah dianiaya, hilang buku tabungan dan KTP saja kita harus lapor polisi dan memberikan bukti laporan kehilangan sebagai bukti barang-barang milik kita itu hilang. Ini pengetahuan yang umum. Ditambah bukti visum untuk menguatkan laporan itu.

Saya tagih gitu malah direspon ngeyel, Ratna Sarumpaet tidak melapor karena menurut mereka “ketakutan diancam tujuh turunan, nenek 70 tahun dianiaya 2-3 orang pasti trauma dan takut, mubazir lapor polisi dll”. Ditambah keterangan dari Hanum Rais yang mengaku sebagai dokter yang biasa membedakan bekas luka antara bekas operasi dan dipukuli. Duh!

Saya ajukan bukti-bukti twit-twit dari Ratna Sarumpaet dari tanggal 21-30 September yang masih cerewet, polemis dan provokatif yang menandakan tidak ada jejak trauma dan ketakutan penggunanya, tapi mereka tetap ngeyel dan membawa cerita penganiyaan Ratna Sarumpaet ke Tim Pemenangan, ke Cawapresnya Sandiaga Uno yang cepat berkomentar di media online hingga ke Capresnya Prabowo yang kemudian menggelar Konferensi Pers. Live di televisi.

Sungguh sempurna mereka mempertontonkan kedunguan mereka!

Tanpa ada laporan polisi, bukti visum dan keterangan saksi lain yang menguatkan cerita Ratna Sarumpaet mereka mudah sekali percaya!

Ratna Sarumpaet yang cerdas–seperti yang dia sampaikan saat mengaku berbohong bahwa dia telah membuat hoax yang terbaik–atau yang menyebarkan dan percaya kebohongan dia sebenarnya orang-orang tolol dan dungu?

Bagi saya, dengan mudah mempercayai Ratna Sarumpaet dan kemudian menyebarkan luaskannya yang kemudian terbukti itu bohong belaka, adalah bukti yang terang benderang, Koalisi Prabowo dan Sandiaga Uno bukan orang-orang yang cerdas dan tidak mampu memimpin negeri ini.

Bagaimana mungkin terperdaya oleh drama emak-emak yang awalnya kebingungan mencari alasan menjawab pertanyaan anaknya mengapa wajahnya lebam. Dia sebenarnya melakukan operasi plastik, tapi mungkin merasa malu menjawab yang sebenarnya, karena usianya sudah 70 tahun tapi masih pengen tampak berkulit kencang. Dia pun menjawab sekenanya: dipukuli orang. Nah, drama keluarga ala emak-emak ini pun bisa dengan mudah dipercaya oleh Koalisi Prabowo Sandiaga.

Apalagi ditambah pengakuan Juru Bicara Koalisi Prabowo Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, kalau “Prabowo sering dibohongi oleh banyak politisi”. Dan untuk kasus Ratna Sarumpaet, Prabowo mudah percaya meski Ratna Sarumpaet tidak memberikan dukungan saksi lain, laporan polisi dan bukti visum! Ini memang adalah masalah dengan filter kecerdasan Prabowo!

Bagaimana mungkin kita mempercayakan masa depan negeri ini pada Koalisi yang diisi orang-orang seperti yang saya tulis di atas?

Mulai “koalisi kardus, jenderal kardus, mempolitisasi ulama, Sandi disebut santri posmo, sebulan kemudian Sandi jadi ulama, uang 100 ribu hanya dapat cabe dan bawang, tempe setipis kartu ATM…dan kini percaya dan menyebarkan luaskan kebohongan Ratna Sarumpaet…..” Adalah deretan bukti-bukti konyol dan dagelan yang tidak lucu hingga hoax Ratna Sarumpaet yang berbahaya.

Kalau kita sayang negeri ini, maka kita tidak akan pernah membiarkan orang-orang pendengki, orang-orang dungu dan tolol berkuasa di negeri ini.

Mohamad Guntur Romli