Tragedi Miftahul Jannah dan Jilbab Aman untuk Judo

Atlet kita Miftahul Jannah didiskualifikasi dari pertandingan Asian Para Games 2018 cabang olah raga  blind judo karena tetap mau memakai jilbab. Wasit dan penyelenggara berkukuh karena ada aturan larangan memakai segala jenis penutup kepala dan leher karena alasan keamanan.

Namun alasan awal yang tersampaikan ke publik, pihak pelatih dan panitia kita tidak mengerti aturan ini dengan alasan “tidak bahasa Inggris” alasan yang menggelikan dan tidak masuk akal, yang semakin memosisikan Miftahul Jannah sebagai korban, karena sudah mempersiapkan diri dan berlatih selama berbulan-bulan.

Saya berusaha menyampaikan simpati dan menyesalkan diskualifikasi ini dengan meneruskan judul dan berita di detik di media sosial saya, Twitter: @GunRomli. Tanggapan pun beragam.

Sedih! Tolak Buka Hijab, Miftahul Jannah Didiskualifikasi https://t.co/ba6h1DoVy9 menyesalkan adanya diskualifikasi ini, atlet sdah mempersiapkan berbulan2 & pilihan dia jilbab itu wajib tdk bisa dilepas. Mestinya hak ini dihormati 🙏

Tolak Buka Hijab, Miftahul Jannah Didiskualifikasi https://t.co/ba6h1DoVy9 hormat saya & penghargaan setinggi-tingginya padanya, pejuang sejati melawan diskriminasi, dr kalangan yg memiliki kemampuan yg berbeda & membela keyakinannya, tak berkurang meski digagalkan bertanding

Ada yang menanggapi, peristiwa ini tidak ada kaitannya dengan jilbab, tapi murni soal aturan dan keamanan di cabor judo. Ada yang menanggapi: tidak perlu menyesalkan karena ini melanggar aturan. Ada juga yang menuding saya ini mirip dengan “kelompok sebelah” yang menggoreng masalah jilbab Miftah.

Memang di barisan sebelah mempolitisasi jilbab Miftah untuk menyerang Pemerintah Jokowi dan menyalahkannya. Padahal soal aturan cabor Judo dan Asian Para Games Pemerintah kita tidak terlibat, hanya terlibat menyiapkan acara sebagai shohibul bait saja.

Saya ingin tegaskan posisi saya menyatakan simpati pada Miftahul Jannah yang berposisi sebagai korban di sini. Kasus ini tidak relevan dikaitkan dengan pro dan kontra terhadap Pemerintah Jokowi, meski sedang musim kampanye, tapi tidak semua hal harus dikaitkan dengan politik elektoral. Faktanya, Miftahul Jannah didiskualifikasi karena ia memakai jilbab meksipun dengan alasan keamanan dan aturan. Di sini yang berlaku adalah Politik Anti Diskriminasi.

Para Games adalah ajang olah raga untuk meruntuhkan diskriminasi pada kalangan yang memiliki kemampuan fisik yang berbeda dengan memfasilitasinya. Dalam acara pembukaan Asian Para Games kata Disability diruntuhkan tiga huruf “dis” menjadi Ability yang berarti mampu dan sanggup. Orang yang punya keterbatasan penglihatan hingga tunanetra jauh sebelum ini tidak mampu bergerak kemana-mana, hanya terkurung, namun karena ada politik kesetaraan dan anti diskriminasi yang diwujudkan dalam bentuk kepedulian dan kebijakan, mereka sanggup dan mampu kemana-mana, beraktivitas bahkan “tanding judo” yang saya sendiri, yang mampu melihat tidak bisa bermain judo!

Poin utama ingin saya tekankan adalaha kalangan dengan segala “keterbatasan” fisik, atau dengan bahasa yang tepat: dengan kemampuan fisik yang berbeda saja bisa difasilitasi masa jilbab tidak bisa?

Memfasilitasi adalah kunci di sini untuk melawan diskriminasi. Agar juga tidak ada benturan antara apa yang disebut sebagai tuntutan keagamaan dengan keamanan dan aturan. Harus dicari jalan keluarnya.

Kawan saya ada yang cerita, ada kawannya yang berjilbab atlet judo. Katanya aturan ini memang benar untuk keamanan, karena dalam judo ada tehnik bantingan, kuncian hingga cekikan (khusunya yang detail pada leher dan tenggorokan) yang berbahaya bagi yang memakai jilbab yang dikhawatirkan tercekik oleh kain jilbabnya. Karena sampai saat ini tidak ada model jilbab yang aman, akhirnya kawannya kawan saya itu setiap bertanding membuka jilbab sementara. Katanya dia sudah konsultasinya dengan ustadznya, “diperbolehkan dalam kondisi darurat dan diniatkan untuk membela negara saat bertanding”. Namun katanya, dia tetap risih, karena foto-foto dia tidak memakai jilbab saat bertanding beredar.

Bagi saya ini termasuk salah satu jalan keluar, yang diusahakan sendiri oleh sang atlet dengan segala kerisihannya.

Jalan keluar yang lain terjadi dalam Olimpiade 2012 di London. Judoka Saudi Arabia, Wojdan Ali Seraj Abdulrahim Shaherkani ingin mempetahankan jilbanya saat bertanding. Akhirnya dicarikan jalan keluar dengan mengenakan jilbab khusus.

Meskipun Wojdan kalah saat bertanding dengan Judoka Poerto Rico,  Melissa Mojica, sejarah telah mencatat dan perjuangan Wojdan didukung oleh aktivis perempuan Saudi, Manal al-Sharif, yang sempat memimpin kampanye memboleh wanita Saudi untuk mengemudi, menyebut partisipasi Shaherkani sebagai langkah bersejarah. “Bagi kami, Wojdan Shaherkani adalah juara,” tulis Manal dalam akun Twitter. Perjuangan Wojdan juga melawan diskriminasi dan steotip terhadap perempuan di negerinya. Perempuan yang berolah raga sering disalahpahami akan melanggar aturan agama. Namun dengan jilbab khusus itu, Wojdan tampil berlaga di olah raga dunia. (Sumber: Tampil Berjilbab, Judoka Arab Catat Sejarah)

Saya mendukung perempuan yang memilih memakai jilbab dan meyakininya sebagai doktrin agama yang tidak biasa dilepas sebagai bagian dari kebebasan memilih. Namun di sisi lain saya menolak pemaksaan terhadap perempuan untuk memakai jilbab.

Ke depan, perbedaan ini perlu difasilitasi dan dicarikan jalan keluarnya, apalagi di ajang Para Games yang tujuannya untuk melawan diskriminasi.

Yang perlu dicatat: perjuangan melawan diskriminasi memang “berpikir” melampui segala aturan yang ada, karena diskriminasi itu sering terwujud dalam bentuk aturan yang membatasi itu.

Judo memang punya tehnik, bantingan, kuncian hingga cekikan, tapi kan tidak jambak-jambakan rambut (yang ditutupi jilbab) atau tidak menjerat cuma mencekik yang artinya meski ada penutup kain di leher yang bisa lentur dan aman tidak jadi masalah. Bukankah dalam tanding judo juga ada aturan yang tidak boleh menyerang daerah-daerah tertentu?

Menerima perbedaan dan memfasilitasi perbedaan adalah kunci harmoni dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Kalau ini tidak dibahas dengan serius dan dicarikan jalan keluar, maka akan jadi senjata bagi kelompok populis kanan untuk selalu membentuk antara keyakinan agama dan aturan olah raga, antara yang ilahi dan duniawi.

Wallahu A’lam

Mohamad Guntur Romli

#AntiDiskriminasi #LawanDiskriminasi