Apa yang Dimaksud Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pidato Bung Karno 1 Juni 1945?

Dalam pidato 1 Juni 1945 yang nantinya dikenal sebagai Hari Lahirnya Pancasila, Bung Karno menyebut kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Banyak tafsir terkait frase “Ketuhanan Yang Maha Esa” ini, khususnya kata “Esa”. Ada yang bilang artinya “Tunggal, Satu”–sesuai KBBI–kaum muslimin pun memahami “Esa” sebagai “Tauhid”. Ada yang bilang “Esa” berarti “Tak Terhingga” (Infinite). Ada yang memahaminya sebagai “Maha Kuasa” (Almighty). Salah satu Nama Allah dalam Asmaul Husna, ada “Al-Muta’ali”.

Namun kalau kembali kepada pidato Bung Karno, beliau tidak bermaksud memaknai “Esa” sebagai arti harafiyahnya dan etimologinya, tapi pada perwujudan pandangan dan sikap dari Ketuhanan Yang Maha Esa itu.

Ketuhanan Yang Maha Esa yang dimaksudkan oleh Bung Karno adalah pandangan dan sikap keagamaan yang mengakui Kebebasan/kemedekaan dan Toleransi beragama.

1. Kebebasan/Kemerdekaan Beragama. Dalam arti paham ketuhanan dan ibadah menurut masing-masing agama dan kepercayaan, serta bisa beribadah dengan leluasa. Paham ketuhanan menurut masing-masing agama dan kepercayaan. Ketuhanan menurut agama Islam, menurut Kristen, Katolik, menurut Buddha, Konghucu, Hindu dan lain-lain. Dalam pernyataan Bung Karno “Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad Saw, orang Buddha menjalankan ibadatnya… ”

Nantinya pernyataan Bung Karno ini diabadikan dalam UUD 45 Pasal 29 ayat (2) “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

2. Toleransi Beragama. Dalam istilah Bung Karno dengan menolak ‘egoisme beragama’ dan menegaskan menghormati keyakinan agama yang lain. Bung Karno berpidato “Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme-agama”… (dan) hormat–menghormati satu sama lain”

Paham ketuhanan yang mengakui prinsip kebebasan dan toleransi inilah yang dimaksud oleh Bung Karno sebagai ‘Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati’

Cuplikan Pidato Bung Karno:

Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Prinsip Ketuhanan!

Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad Saw, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme-agama”. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat–menghormati satu sama lain.

(saat itu tepuk tangan dari hadlirin).

Nabi Muhammad Saw. telah memberi bukti yang cukup tentang “verdraagzaamheid” tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan “verdraagzaamheid” . Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima dari pada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!

#Pancasila #HariLahirPancasila #KetuhananYangMahaEsa