Rumus IRT: Intoleransi + Radikalisme = Terorisme

Tidak ada seorang pun yang dilahirkan sebagai teroris. Orang menjadi teroris juga tidak tiba-tiba. Ada tahapan yang membuat seseorang menjadi teroris.

Contoh yang nyata adalah Muhammad Syarif pelaku bom bunuh diri di Kantor Polresta Cirebon Jumat 15 April 2011. Saya beri contoh Syarif karena contoh nyata dari kebiadaban terorisme. Dia melakukan bom bunuh diri di dalam masjid Az-Zikra saat shalat Jumat. Khatib baru mengakhiri khutbah. Imam baru memimpin shalat, tapi saya baru takbiratul ihram Allahu Akbar, Syarif menarik pemicu bom yang dirakitkan ke badannya. Dhuaaar! Syarif langsung mati sangit. Puluhan lainnya luka-luka termasuk sang imam shalat.

Kok bisa teroris ngebom masjid dan saat shalat Jumat? Bukankah katanya mereka hanya menyerang lawan-lawannya yang dituduh kafir, murtad dan Barat?

Inilah contoh kebiadaban teroris, masjid dan orang-orang shalat pun dibom. Padahal Syarif dilahirkan sebagai muslim, namun dia tidak dilahirkan sebagai teroris. Ada perjalanan yang dilalui Syarif menjadi teroris. Ada tahapan yang ditempuh oleh Syarif menjelma teroris.

Pada mulanya intoleransi. Tahapan selanjutnya radikalisme. Akhirnya menjadi terorisme

Ini yang berlaku pada Syarif. Awalnya dia diserang virus-virus intoleransi, memiliki pandangan dan perasaan untuk menolak dan memusuhi yang berbeda. Tak hanya yang berbeda agama, yang berbeda di dalam agama, perbedaan madzhab dan kelompok pun ditolak. Ciri khas orang yang terserang virus intoleransi ini adalah takfiri mudah mengkafirkan dan menyesatkan yang berbeda dengan tudingan syirik, murtad dan sesat.

Tahap selanjutnya Syarif bergabung dengan kelompok radikal FPI yang melakukan aksinya sweeping gerai-gerai minimart di Cirebon dengan dalih menegakkan amar ma’ruf nahi munkar yang sebenarnya main hakim sendiri dengan mengambil alih peran penegak hukum yang secera sewenang-wenang menerapkan hukum versi dia dan kelompoknya.

Syarif juga ikut menyerang jemaat Ahmadiyah di Manislor Kuningan tahun 2010. Dia aktif melawan polisi dengan melempari batu.

FPI sebagai kelompok radikal menjadi wadah bagi Syarif untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan kebenciannya menjadi aksi nyata di lapangan. Sweeping, melakukan pengrusakan, melawan aparat hukum, dan tindakan-tindakan kekerasan lainnya. Saat berkubang di tahapan ini, Syarif sudah masuk list DPO polisi.

Syarif benar-benar menjadi teroris setelah masuk JAT (Jamaah Ansharut Tauhid) yang didirikan oleh Abu Bakar Baasyir. Namun dia tidak akan pernah menjadi teroris kalau sebelumnya tidak melalui proses sebagai orang yang intoleran dan radikal.

Berhulu dari intoleransi, mengalir melalui radikalisme, bermuara menjadi terorisme.

Aksi pertama yang dilakukan oleh Syarif sebagai teroris adalah menyerang dan membunuh tentara anggota Kodim Cirebon 3 April 2011. Tentara dan Polisi menjadi sasaran teroris karena dituduh ‘Ansharut Thaghut’ Penolong Setan. Karena NKRI ini dihakimi oleh teroris sebagai Negara Thoghut, Konstitusi dan UUnya Thoghut, Pancasila Thoghut, UUD 1944 Thoghut, Pemerintah Thongut, maka Pembela Thoghut ini yang paling depan adalah tentara dan Polisi harus diserang.

Aksi puncak yang dilakukan Syarif adalah melakukan bom bunuh diri di dalam masjid Az-Zikra saat shalat Jumat.

Saat menjadi teroris, Syarif tidak perlu waktu lama untuk memilih menjadi ‘pengantin sangit’. Yang lama justeru saat dia mendapat pelatihan dan didikan waktu bergabung dengan kelompok radikal macam FPI.

Abu Bakar Baasyir melalui JAT hanya memetik buah setelah FPI memberikan didikan dan ruang serta pembelaan pada aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh Syarif sebelumnya, baik aksi yang berdalih anti pemurtadan, anti minuman keras, anti aliran sesat dan aksi-aksi kekerasan lainnya.

Dan ternyata aktor teroris yang berlatang belakang FPI tidak hanya Syarif seorang. Ketua Pelaksana Harian Kompolnas Benny Mamoto menyebut ada 37 nama lainnya.

Dan informasi ini memang masuk akal, karena seperti seperti rumus IRT, intoleransi ditambah radikalisme sama dengan Terorisme. Intoleransi + Radikalisme = Terorisme.

Tak ada orang yang tiba-tiba menjadi teroris, dia harus melalui tahapan intoleransi dan radikalisme.

Dalam konteks ini, FPI dan kelompok-kelompok radikal lainnya (seperti Bahrun Naim yang bergabung dengan ISIS berlatang belakang HTI) menjadi tempat pelatihan bagi calon-calon teroris.

Masih mau bela FPI?

MOHAMAD GUNTUR ROMLI