Rizieq Shihab telah memberikan contoh yang baik sebagai Imam Besar FPI dengan datang ke Polda Metro Jaya, menyerahkan diri, mengikuti protokol kesehatan, diperiksa, ditahan, diborgol dan dimasukkan ke Rumah Tahanan Narkoba Polda Metro Jaya.

Meskipun terlambat, karena andai saja Rizieq mematuhi proses hukum sejak awal dengan memenuhi panggilan polisi dengan tidak perlu mangkir sampai dua kali, seharusnya kekacauan selama ini tidak perlu terjadi dengan puncaknya 6 pengikut Rizieq tewas.

Andai saja Laskar FPI tidak menghalangi-halangi polisi saat memberikan surat panggilan, andai saja Laskar FPI tidak menghalangi tentara yang bertugas di Petamburan, andai saja 6 orang pengikut Rizieq tidak menyerang polisi dengan senjata api dan senjata tajam, andai saja Rizieq Shihab kooperarif sejak awal…

Andai saja Rizieq Shihab kooperatif sejak awal seperti Ahok tahun 2016-2017 yang malah proaktif ke polisi, tapi sebelum ini Rizieq tidak hanya main kucing-kucingan dengan polisi bahkan menghalangi dan merintangi proses hukum.

212 adalah momen kasus hukum Ahok, maka 1212 adalah momen kasus Rizieq dengan langsung ditahan.

Semoga Rizieq terus menjadi tauladan sebagai warga negara yang baik dengan mematuhi proses hukum dan menerima dengan lapang dada dia ditahan dengan alasan seperti yang disampaikan oleh polisi, ada alasan Obyektif dan alasan Subyektif.

Alasan Obyektif karena ancaman hukuman terhadap Rizieq di atas 5 tahun. Adapun alasan Subyektif agar Rizieq sebagai tersangka: TIDAK MELARIKAN DIRI, tidak menghilangkan barang bukti, TIDAK MENGULANGI PERBUATANNYA dan mempermudah proses penyidikan.

Saya apresiasi aparat penegak hukum, jajaran kepolisian, khususnya Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran, juga pada Kodam Jaya yang memberikan dukungan penuh kepada kepolisian, khususnya Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman yang telah tegas membela Konstitusi dan menegakkan hukum sehingga kedamaian dan ketertiban tercipta di masyarakat.

Mohamad Guntur Romli