Dua Nakbah: Pengusiran Orang Palestina dan Orang Yahudi

Saat Gus Dur menerima penghargaan ‘Medal of Valor’ dari Simon Wiesenthal Center, Organisasi HAM Yahudi di AS tahun 2008, dia menyatakan memberikan penghargaan ini kepada sahabat karibnya, Ramin, seorang Yahudi yang menjadi teman karibnya selama empat tahun studi di Iraq (1966-1970).

Gus Dur bercerita, dia bersama Ramin pernah menyaksikan sebuah peristiwa yang disampaikan oleh Gus Dur dengan penuh haru, didigantungnya 9 orang Yahudi di Alun-alun Tahrir kota Baghdad Iraq di depan umum.

Peristiwa itu disebut “Baghdad Hangings” pada tanggal 27 Januari 1969. Bersama 9 orang Yahudi itu, ikut digantung 3 orang muslim dan 2 orang Kristen karena dituduh menjadi mata-mata Negara Israel.

Sembilan orang Yahudi itu sebenarnya adalah warga asli Iraq, 8 orang warga Basrah dan 1 orang warga Baghdad.

Hukuman tak manusiawi itu satu dari sekian banyak nasib buruk yang dialami orang-orang Yahudi yang masih hidup dan bertahan di negara-negara Arab setelah Negara Israel berdiri tahun 1948.

Hukuman itu merupakan balas dendam Iraq atas kekalahan perang 1967 antara Israel melawan negara-negara Arab.

Kisah yang diceritakan Gus Dur itu mungkin tidak populer, bahkan tidak banyak yang tahu di kebanyakan masyarakat kita yang sejak awal memilih untuk membela bangsa Palestina dan tidak mengakui bangsa Yahudi dan negaranya: Israel.

Padahal tidak semua orang Yahudi menerima Negara Israel, bahkan tak sedikit dari mereka lebih memilih untuk tetap tinggal dan ingin hidup damai di negara-negara Arab, tapi karena masalah politik, konflik Israel Vs Arab, hingga perang, mereka menerima nasib buruk, dari pengusiran, perampasan, sehingga harus eksodus dari negara-negara Arab, dan yang paling buruk seperti 9 orang Yahudi Iraq itu yang dituduh mata-mata Israel, mereka pun digantung di depan ratusan ribu orang.

Berdirinya Negara Israel tahun 1948, yang dilanjutkan perang dengan beberapa negara Arab, termasuk kelompok di Palestina, telah melahirkan bencana kemanusiaan yang disebut sebagai “nakbah” dengan eksodusnya 700 ribu lebih orang Arab Palestina dari tanah dan rumah mereka.

Mereka diusir atau lari karena konflik politik dan perang. Memang tak semua orang Arab Palestina saat itu mengungsi, ada yang memilih tinggal dan bertahan di rumah dan tanah mereka di wilayah yang saat ini menjadi Negara Israel. Mereka disebut ‘Arab Israel’ atau ada sebutan lain ‘Arab 48’ (atau ada yang menyebut dirinya tetap sebagai ‘Arab Palestina’ meski menjadi warga Israel, atau juga sebutan ‘Palestina 48’) yang kini mengisi 21 persen dari populasi warga Israel, yang mayoritas bangsa Yahudi (74 persen).

Sebenarnya tak hanya orang Arab Palestina yang ditimpa “nakbah” (bahala), orang-orang Yahudi yang berada di negara-negara Arab dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim pun menerima nasib yang sama. Nasib 9 orang Yahudi Iraq yang digantung di alun-alun kota Baghdad yang diceritakan oleh Gus Dur adalah salah satu peristiwa nasib buruk yang akhirnya menyebabkan eksodusnya ratusan ribu orang Yahudi dari negara-negara Arab dan negeri-negeri muslim mulai tahun 1948.

Awalnya orang-orang Yahudi yang hidup di negara-negara Arab dan negeri-negeri muslim lebih beruntung daripada orang-orang Yahudi yang hidup di Eropa yang dimusnahkan dalam peristiwa Holocaust atau pengusiran, perampasan dan penindasan yang mendesak mereka untuk eksodus salah satunya ke tanah Mandatori Palestina yang saat itu dikuasai oleh Inggris.

Namun dengan berdirinya Negara Israel yang diboikot oleh negara-negara Arab dilanjutkan dengan perang senjata terbuka, meski ada gencatan senjata tapi kebuntuan dan ketegangan politik yang tak pernah berhenti, orang-orang Yahudi yang menjadi warga negara resmi di negara-negara Arab dan negeri-negeri muslim, kena imbasnya.

Ada upaya balas dendam, akibat kekalahan perang negara-negara Arab dan terusirnya ratusan ribu orang Arab Palestina dari tanah dan rumah mereka, maka pelampisannya: kemarahan dan kebencian ditimpakan ke orang-orang Yahudi terdekat.

Inilah yang disebut dengan dua “nakbah”: pengusiran orang Palestina dan orang Yahudi akibat konflik politik dan perang yang tak berkesudahan.

Perang memang hanya membawa kesengsaraan di dua belah pihak.

Mohamad Guntur Romli