Gus Yahya sebagai “Trendsetter” Fashion

Tak banyak yang tahu, Gus Yahya, adalah seorang “trendsetter” fashion.

Ketua Umum PBNU terpilih untuk periode 2021-2026 itu, selama ini dikenal karena atribusi seperti mantan jubir kepresidenan era Gus Dur, tokoh Perdamaian Dunia yang berkunjung ke Vatikan bertemu Sri Paus Fransiskus dan bertandang ke Israel, serta tokoh-tokoh politik dunia lainnya, mantan Watimpres era Presiden Jokowi, Katib Aam PBNU periode 2015-2021, salah seorang pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin Rembang bersama pamannya KH Mustofa Bisri (Gus Mus), tapi kalau diamati Gus Yahya sebenarnya “fashion icon” di kalangan santri dengan “sarung batik”.

Selama ini, batik yang dijadikan penutup bawahan hanya dipakai oleh kalangan perempuan. Dipadukan dengan kebaya. Dalam bahasa Jawa disebut ‘jarik’ dalam bahasa Madura disebut ‘samper’.

Laki-laki yang memakai penutup bawahan dari batik, biasanya dipadukan dengan busana tradisional Jawa.

Di Bali, kain batik sebagai bawahan merupakan pakaian adat yang wajib dikenakan baik laki-laki dan perempuan kalau ke pura, kegiatan upacara dan acara-acara adat lainnya. Disebut “kemben”.

Batik di kalangan umat Islam kehilangan aura sebagai pakaian “agamis”. Kalah pamor dengan “pakaian taqwa” yang sebenarnya berasal dari model baju “kokoh” (Cina) atau pakaian-pakain ala Timur Tengah, gamis, jalabiyah dll.

Untuk pemuka agama Islam, mungkin hanya kiai-kiai NU yang masih konsisten memakai kemeja batik.

Di kalangan muslimah, batik juga kalah laku dengan model-model pakaian “islami” ala seleb, dari Syahrini saja ada “jilbab Syahrini” “kaftan Syahrini” dst belum lagi seleb-seleb lain yang gencar mempromosikan model pakaian “syar’i” menjelang lebaran.

Kain dan sarung batik tidak menjadi pilihan para muslimah zaman now, karena alasan tidak praktis (naik dan boncengan sepeda motor), juga takut dianggap tidak modis, ketinggalan zaman, kuno dan ‘dipakai nenek-nenek’.

Kain sarung yang dipakai kalangan santri biasanya dengan motif garis-garis atau kotak-kotak yang ditemukan dari kawasan Yaman, India, Pakistan, Bangladesh, Patani Thailand, Malaysia, Brunei dan Indonesia.

Merek sarung dan kopiah menjadi kebanggaan dan status sosial kalangan santri.

Apapun kemejanya yang penting sarungnya pakai BHS dan kopiah Awing! Apalagi merek BHS dicap besar-besar di bagian tengah belakang, dan ujung bawah depan di bagian lipatan sarung. Mau dari belakang dan depan, akan terlihat, orang itu pakai BHS!

Gus Yahya muncul dengan “ikon baru” memakai sarung batik. Seperti yang jelaskan sebelumnya, kain batik hanya dipakai perempuan Jawa dan Bali, atau oleh laki-laki dengan pakaian adat Jawa dan Bali, tidak dipakai oleh kalangan santri.

Karena itu “sarung batik” yang konsisten dipakai oleh Gus Yahya telah menjadi “ikon baru” setelah sebelumnya sarung dengan motif sederhana, baik garis-garis atau kotak-kotak dan belakangan mulai ada yang menambahkan dengan motif songket ke sarung laki-laki.

Sarung laki-laki dengan model songket, yakni kain tenun tradisional Melayu yang masih keturunan brokat sudah dikenal secara umum dengan harga yang mahal.

Karena Gus Yahya konsisten memakai “sarung batik” maka muncullah budaya baru di kalangan kaum sarungan memakai “sarung batik” yang terus mewarnai dunia persarungan di Indonesia.

Saya pun memakai “sarung batik” karena melihat Gus Yahya memakainya. Meskipun saat awal memakai sarung ini di daerah saya Situbondo dan Banyuwangi, dikira saya pakai sarung nenek saya hehehe…

Sarung batik berdampak pada kebangkitan ekonomi kalangan Nahdliyin. Misalnya produsen “sarung batik” terkenal dari Solo, Lar Gurda milik Mas Irfan Nuruddin yang menangkap pasar ini, dan Gus Yahya memang memakai “sarung batik” buatan Lar Gurda.

“Sarung batik” yang sebelumnya terbatas dipakai kalangan perempuan atau laki-laki dengan pakaian adat Jawa dan Bali, dan tidak dipakai oleh kalangan santri, berkat Gus Yahya “sarung batik” menjadi “model baru” pakaian bagi kaum sarungan.

Gus Yahya adalah “trendsetter” pakaian untuk “sarung batik”.

Mohamad Guntur Romli