Herry Wirawan dan “Milkul Yamin”: Perbudakan Seksual ala ISIS

Bukannya mengutuk perbuatan bejat Herry Wirawan, kelompok-kelompok radikal malah membuat fitnah: Herry Wirawan dituduh syiah. Tujuan kelompok radikal ini adalah perpecahan antar kelompok dengan memanfaatkan kemarahan publik terhadap Herry Wirawan. “Syiah” dijadikan sebagai kambing hitam untuk menutupi kejahatan internal yang kelam.

Padahal Herry Wirawan adalah Ketua Pengurus Nasional Forum Komunikasi Pendidikan Kesetaraan Pesantren Salafiyah (FK-PKPS) organisasi “jadi-jadian” yang diduga kuat sebagai wadah permainan proyek, penerimaan hibah, bansos dan sumbangan. Istilah “Pesantren” dipakai untuk mengetuk keuntungan ekonomi semata. Dalam hal ini, saya kira, Herry Wirawan tidak bekerja sendirian, pastinya dia memiliki jaringan, maka, Pemerintah dan Penegak Hukum sudah wajib membongkar jaringan ini!

Kata “Salafiyah” tidak pernah digunakan oleh syiah. “Salafiyah” dan “Salafi” adalah istilah khas di kalangan Sunni. Artinya mengaitkan Herry Wirawan dengan syiah jelas mengada-ada, alias hoax bin bohong tujuannya fitnah. Seperti halnya Farid Okbah yang sangat anti syiah, tapi setelah ditangkap oleh Densus 88 tiba-tiba didesas-desuskan sebagai syiah.

Kata “Salafiyah” juga digunakan kalangan NU dengan menyebut “pesantren salaf/salafiyah” yang artinya pendidikan dengan tata cara klasik, menggunakan kitab-kitab kuning, tidak menggunakan kurikulum modern, tidak ada bangku/kelas, dengan model sorogan dll.

Tapi ‘pesantren’ Herry Wirawan tidak bisa disebut “salafiyah” ala NU, karena Herry Wirawan bukan alumnus pesantren NU, tidak ada kitab-kitab kuning yang diajarkan, dan FK-PKPS yang diketuainya merupakan kumpulan “pesantren” non-NU.

Pesantren-pesantren NU di Bandung bergabung di Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Bandung dengan ketua KH Umar Rosadi atau di Forum Pondok Pesantren (FPP) Bandung dengan ketua KH Aceng Dudung.

Perbudakan Seksual ala Herry Wirawan lebih merupakan praktik ala ISIS yang juga sering mengaku sebagai “Salafiyah” dan “Sunni”.

“Milkul Yamin” adalah penyesatan tafsir terhadap istilah Al-Quran seperti halnya ISIS menyesatkan tafsir “jihad” untuk aksi terorisme.

“Milkul Yamin” adalah praktik perbudakan seksual dan eksploitasi lainnya terhadap wanita-wanita tanpa ikatan pernikahan karena budak-budak wanita itu dianggap sebagai “hak milik” tuannya.

Mudah sekali kita menemukan berita bagaimana ISIS mempraktikkan “milkul yamin” ini kepada wanita-wanita Yazidi yang dianggap sebagai “hasil tangkapan perang” yang kemudian dijadikan sebagai budak-budak seks.

Kita juga sering mendengar ada kasus TKW yang bekerja di negeri Arab, dilecehkan hingga diperkosa majikannya karena dianggap sebagai “milkul yamin”. Majikannya itu merasa “membeli” TKW dengan harga yang mahal yang sebenarnya merupakan bagian dari kontrak kerja.

Herry Wirawan telah menjalankan ajaran sesat “milkul yamin” ala ISIS untuk melampirkan nafsunya yang bejat.

Na’udzu billahi min dzalik

Mohamad Guntur Romli